Ketersediaan Kedelai di Banten Masih Andalkan Impor
Bantenekspose.com - Ketersediaan pasokan kacang kedelai di Provinsi Banten, masih mengandalkan kedelai impor. Hal ini, mengakibatkan harga bahan baku tahu dan tempe ini, bargantung pada harga pasar kedelai dunia.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus Tauchid, Kamis (18/3/2021).
Agus mengatakan, saat ini harga kedelai menyentuh angka Rp 10.200 per kilogram. Untuk itu, pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pertanian terus mendorong peningkatan produksi kacang kedelai untuk kebutuhan bahan baku pembuatan tempe dan tahu.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni dengan peningkatan produksi kedelai lokal dengan pemberian bantuan benih, dan sarana produksi kepada petani seluas 2.050 ha.
Bantuan tersebut bersumber dari anggaran Pemerintah Pusat dan Pemprov Banten. Selain itu, pembinaan kepada petani secara kontinyu terus dilakukan, khususnya dalam hal penanganan paska panen.
"Menjadi salah satu upaya Pemprov Banten agar harga kacang kedelai stabil. Karenanya dibutuhkan koordinasi semua pihak untuk meningkatkan penyerapan pasar terhadap produksi kedelai lokal," katanya.
Agus menilai, kedelai lokal sebenarnya memiliki kualitas lebih baik, karena umumnya kedelai yang tersedia merupakaan kedelai yang baru saja dipanen, sehingga lebih segar. Sementara kedelai impor biasanya sudah disimpan bertahun-tahun.
"Kedelai yang berukuran kecil sebenarnya lebih banyak mengandung protein dan rasanya lebih gurih," ucapnya.
"Selain itu, kedelai lokal merupakan kedelai asli hayati dan bukan kedelai transgenik seperti kedelai impor. Kedelai yang ditanam di negara-negara maju 80 persen adalah organisme yang telah dimodifikasi secara genetik (GMO)," imbuhnya.
Lanjutnya, mengenai daya tarik dari kedelai impor di kalangan pengusaha tahu tempe, yakni adanya keloggaran pembayaran dari pemasok kedelai impor. Terlebih soal harga, kedelai impor lebih murah dibandingkan kedelai lokal.
"Dengan kondisi ini diperlukan peran BUMD sebagai off taker kedelai yang dapat memutus rantai pasokan kedelai lokal. Sehingga harga kedelai lokal lebih bersaing di pasaran, dan industri tahu tempe bisa diberikan keleluasaan pembayaran bahan baku seperti yang diberikan pemasok kedelai impor," ujar Agus.
Terkait dengan pengembangan kedelai secara masal dan luas kata Agus, saat ini masih terkendala dengan penyediaan benih yang siap tanam.
Karena teknologi benih kedelai masih jauh tertinggal dibandingkan dengan teknologi tanaman pangan lainnya, salah satunya adalah masa dorman benih kedelai lebih pendek yakni hanya 2 (dua) bulan, sedangkan benih lainnya seperti padi relatif panjang yakni 6 (enam) bulan.
"Permasalahan lainnya, selain faktor benih adalah motivasi petani menanam kedelai harus terus ditingkatkan, mengingat harga jual yang diterima petani masih dibawah Rp 7.000 per-kilogram sementara harga over head cost minimal Rp 7.700 per-kilogra," paparnya. (es'em)
