Belajar Dari Bangka, Mahasiswa Pascasarjana Unpad Khawatirkan Tambang Emas di Perairan Bayah
0 menit baca
Bantenekspose.com - Mencuatnya rencana pertambangan emas di perairan laut Cihara hingga Bayah, mengundang sorotan dari berbagai kalangan. Kali ini disampaikan salah seorang Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran, Muammar Adi Prasetya.
Pemuda kelahiran Bayah ini, mengkhawatirkan jika aktifitas yang rencananya dilakukan oleh PT. Graha Makmur Coalindo (GMC) itu dilakukan. Sebab, berkaca dan belajar banyak dari Provinsi Bangka Belitung, tepatnya Kabupaten Bangka.
Bahwa aktivitas pertambangan dilaut telah memberikan banyak dampak negatif, diantaranya seperti menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan serta pencemaran lingkungan.
"Pada gilirannya tentu akan mempengaruhi pendapatan dan kesejahteraan nelayan, serta penduduk disekitaran perairan tersebut," ungkapnya, Rabu (25/11/2020).
Muammar menyebut, merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang produksi penangkapan ikan di Kabupaten Bangka. Sepanjang tahun 2013 hingga 2014 hasil tangkapan ikan sangat baik, yaitu masing-masing 25.034,7 ton dan 26.756,9 ton.
Namun, pada tahun 2015 dan 2016 mengalami penurunan yang sangat signifkan yaitu 6.322,26 ton, dan 10.575,3 ton. Hal tersebut lantaran adanya aktifitas penambangan timah di kawasan laut, yang menyebabkan menurunnya pendapatan nelayan, karena terumbu karang rusak akibat tertutup lumpur dari limbah penambangan pasir timah di laut.
"Jadi hasil tangkapan ikan berkurang. Hal yang serupa mungkin saja dapat terjadi di perairan Lebak Selatan. Apabila rencana penambangan di laut terus dilanjutkan," ucap alumni Universitas Sriwijaya itu.
Untuk itu, Ammar menyarankan, Pemerintah Daerah agar dapat merencanakan suatu pembangunan yang berkelanjutan, dengan memanfaatkan sumber daya, arah invesi, orientasi pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan dilakukan secara harmonis dengan memperhatikan potensi saat ini, dan masa depan. Terlebih pembangunan pada sektor-sektor produktif.
"Seperti yang semua kita ketahui bahwa sektor produktif seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan secara konsisten memberikan kontribusi besar pada PDRB Kabupaten Lebak, yaitu 26-28 persen sepanjang tahun 2015-2019," ujarnya.
"Bahkan, secara nasional, sekalipun dihadapkan pada bencana Covid-19 sektor tersebut tetap memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan nasional," imbuh Ammar.
Perlu kehati-hatian dalam hal ini, karena menurutnya, mayoritas mata pencaharian utama masyarakat di Kabupaten Lebak yaitu pada sektor pertanian dan perikanan. Namun petani dan nelayan masih saja dihadapkan pada persoalan-persoalan yang sifatnya mendasar. Seperti pembiayaan, dan pemasaran hasil usahatani.
Selain itu, rencana tersebut dinilai tidak sejalan dengan Visi Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, yang ingin menjadikan Lebak sebagai destinasi wisata unggulan Nasional berbasis potensi lokal.
"Apa jadinya bila sepanjang pesisir pantai yang memiliki potensi untuk dikembangkan wisata pantai nan indah, tercemar oleh aktivitas tambang laut," paparnya. (es'em)
