Mengenal Nalar Positivisme Comte
0 menit baca
BantenEkspose.com - Kalau membaca pemikiran Auguste Comte, sang peletak positivisme, nalar kita selalu mengulang ulang pertanyaan dasar, apakah itu masyarakat? apakah itu masyarakat komunal/komunisme? apakah itu masyarakat primitif? apakah kesadaran manusia itu? dan apa pula masyarakat agama?.
Terbangunnya sebuah visi yang komprehensif tentulah lahir dari sebuah pemikiran sangat matang. Ini tidak terlepas dari lingkungan dan masa yang mempengaruhi suatu perenungan. Begitulah konsep yang terbangun pada diri Auguste Comte dengan gagasan tentang filsafat positivisme. Ini bisa dilihat dari perjalanan hidupnya.
Ia menghabiskan masa kecilnya dalam lingkungan bangsawan Katolik, di samping itu keadaan negeri Prancis masih berada dalam genggaman Raja Louis XVI. Saat puncak krisis yang melanda Prancis yang telah berada di bawah pemerintahan monarki absolut selama berbad-abad.
Comte yang lahir bernama lengkap Isidore Marie Auguste Francois Xavier Comte, ia lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798. Keluarganya yang bangsawan Khatolik, membuatnya mampu melangkah ke dunia pendidikan. Semula ia sekolah Ecole Polytechnique di Paris. Saat itu, perguruan ini terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Setelah sekolah itu tutup pada 1816, Comte pindah ke sekolah kedokteran di Montpellier.
Pada diri Comte, bisa dilihat dua sisi yang juga bergejolak. Di satu sisi dia melihat sistem pemerintahan bobrok dan korup yang merampas hak-hak kemanusiaan, di sisi lain agamanya mengajarkan tentang keadilan dan kasih sayang. Padahal di masa itu, masih dipercaya bahwa raja sebagai wakil Tuhan dalam memelihara kemaslahatan masyarakat.
Dua paham yang sangat bertolak belakang itu menyebabkan ia hengkang dari Paris, kemudian berguru pada Claude Hendri de Ruvroy yang lebih dikenal dengan nama Saint-Simon, pada 1817 Saint Simon ini seorang sosialis di Prancis. Ilmuan inilah yang menganjurkan bentuk sosialisme teknokratis, yaitu perekonomian dikelola dan dipimpin para industrialis dan para ahli yang diangkat berdasarkan prestasi.
Ide-ide Simon ini tentu saja mempengaruhi pemikiran Comte, hingga lahirlah filsafat positivisme. Dari kenyataan hidup dan proses belajar serta perkembangan keilmuan yang dimilikinya, Auguste Comte mengemukakan teori mengenai perkembangan akal budi manusia yang secara linier bergerak dalam urutan yang tidak terputus. Bermula dari tahap mistis ( teologis ) kemudian metafisis, lalu tahap positif.
Ukuran masyarakat yang ditahap secara filosofis tersebut menunjukak ke kita bahwa sesungguhnya lah idea masyarakat itu adalah “ will to life “. Tentu ukuran masyarakat sekarang tidaklah sama saat hidup Comte di abad yang lalu yang masih kental nuansa era revolusi industeri yang konon terlalu mendevaluasi makna kemanusiaan.
Gelombang kesadaran manusia dengan independensi-nya tanpa Tuhan menurut Comte merupakan perjalanan masyarakat yang telah melewati kurunya sebagai masayarakat teologis menjadi masyarakat positivisme yang sudah tidak membutuhkan peran Tuhan dalam menentukan nasib manusia di dunia.
Kini, kita merasa ada yang hilang di diri masyarakat kita, apa itu? yakni suatau kesadaran bahwa manusia sejatinya hidup dengan bertahan dalam keseimbangan, jika kini sudah tidak bisa dipaksakan agar menjadi masyarakat komunis, masyarakat sosialis, masyarakat kapitalis atau masyarakat agamis, namun secara analisis argumentatif masyarakat selalu berkinginan bahwa nasib bersama lah menjadi ukuran standar hidup di dunia tanpa perlu dipaksakan apa keyakinan mereka.
Marx sering menyinggung pola dan karakter manusia yang selalu berkiningan untuk survivel of life dengan landasan bahwa sejatinya manusia hidup dalam alam sadarnya dikendalikan oleh nafsu perut, sex dan hasrat ingin berkuasa.
Pada catatan akhir ini saya berkeinginan mengajak kepada semua pihak agar mengembalikan kesadaran kolektif kita yakni menyeimbangkan antara “ keberadaan ( excistence ) dan keinginan ( hope ) “ hidup kita. Dengan perubahan sikap tersebut kita sudah tidak membutuhkan konsepsi positivisme tersebut, dan kita kembali pada satu sikap “khoiru al umuri ausathuha".
Penulis: Hamdan Suhaemi
Ketua PW Rijalul Ansor Prov. Banten
Domas, 25 September 2020
