Komunis Terzhalimi Atau Tidak, Ini Pandangan Gus Baha
0 menit baca

BantenEkspose.com – Isu komunisme, akhir-akhir ini kembali
ramai jadi perbincangan di negeri zamrud khatulistiwa. Soal ini pula yang
menjadi sorotan kiai muda KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha.
Ia punya pandangan
sendiri mengenai paham komunis dan isu-isu komunis. Sederhana dan mudah
dipahami, itulah gaya ngaji Gus Baha. Termasuk dalam menerangkan bahaya bagi
muslim yang membela komunisme.
Dalam video yang diunggah channel YouTobe @Hikmah Ulama
berdurasi 10 menit 55 detik itu, awalnya Gus Baha menjelaskan tentang jihad. Ia
menegaskan Bahwa, Jihad itu tidak termasuk dalam rukun Islam.
“Nabi juga
tidak pernah memasukkan Jihad bagian dari rukun Islam. Jihad itu kondisional.
Jadi, kalau harus jihad, ya jihad. Tetapi, jihad tidak pernah menjadi bagian
dari rukun Islam,” tegas Gus Baha.
Menurut Gus
Baha, masalah jihad ini perlu disampaikan karena sekarang, banyak orang
beranggapan, bahwa, orang yang sudah syahadat, sudah shalat, sudah puasa, hanya
karena tidak jihad, kemudian disebut tidak Islam.
“Itu salah besar. Karena rukun Islam itu, di semua hadits sahih
tidak pernah memasukkan jihad sebagai bagian dari rukun Islam,” ulangnya.
Tak kalah
menarik, Gus Baha kemudian menyebut soal jihad melawan komunis. Gus Baha cerita
bahwa dirinya baru saja bertemu dengan beberapa kiai di Kanjen, Jawa Tengah.
“Saya akan
beritahu Anda semua tentang ciri khas ulama, meski kita sendiri tidak perlu
mengaku sebagai ulama,” tegasnya.
Menurut Gus
Baha, ulama juga punya kelemahan. Termasuk dalam menghadapi harta dan wanita.
Kalau ada orang tidak tertarik keduanya, maka, tidak normal. “Saya mau
terangkan (soal komunisme). Awas kalau tidak paham,” tegasnya.
Gus Baha tidak
mau terlalu jauh mengomentari tentang sejarah komunisme di Indonesia. Karena
bisa jadi sejarah dibolak-balik kebenarannya.
“Kamu jangan jadi LSM yang terjebak isu pemutarbalikan sejarah. Misalnya begini: wah itu dulu (PKI) hanya ciptaan Orde Baru, sebetulnya kejadiannya tidak begitu. Sejarah itu (memang) bisa dibolak-balik. Oke sejarah memang bisa dibolak-balik, tetapi, kita harus ikuti yang resmi, karena Islam itu tidak mau ribet,” jelasnya.
“Kamu jangan jadi LSM yang terjebak isu pemutarbalikan sejarah. Misalnya begini: wah itu dulu (PKI) hanya ciptaan Orde Baru, sebetulnya kejadiannya tidak begitu. Sejarah itu (memang) bisa dibolak-balik. Oke sejarah memang bisa dibolak-balik, tetapi, kita harus ikuti yang resmi, karena Islam itu tidak mau ribet,” jelasnya.
Bagi Gus Baha, baik komunis itu menjadi korban dari kekerasan pemerintah atau tidak, tetap saja segala sesuatu yang mengajarkan masyarakat untuk tidak percaya kepada Tuhan itu salah. Apalagi Islam harus meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib disembah.
Ditegaskan Gus Baha, simak dengan serius. Ini fatwa saya. Sampai saya bertemu Allah Swt, fatwa saya tetap seperti ini. Yang terpenting dalam aqidah Islam, kamu membenarkan satu ormas atau satu organisasi politik atau satu gerakan apa saja, cek itu dari ajarannya apa? Tidak penting sejarah.
“Menurut ajaran Islam, kalau orang mengajak kepada komunisme, mengajak ateisme, tidak bertuhan, itu pasti ajaran yang salah. Meskipun, orang itu berperadaban secara benar, meski pun orang itu, berposisi terzhalimi,” jelas Gus Baha.
“Misalnya ada
orang yang didholimi, kemudian mengajarkan komunisme hanya karena didholimi,
ini berbahaya. Biasanya orang-orang LSM tertentu kemudian simpati, kalau sudah
simpati, membenarkan. Kamu tidak perlu ikut seperti itu. Kalau ajarannya salah,
ya salah. Baik orang (komunis) itu terdholimi atau tidak,” tegasnya.
Sekarang ini, lanjut Gus Baha, ajaran komunisme (PKI), baik itu
terzhalimi atau tidak, ajarannya tetap salah, karena mengajak tidak bertuhan.
“Sekarang ini, umat Islam yang imannya pas-pasan, digiring untuk simpati atau
berempati kepada komunis karena seakan-akan mereka itu korban. Paham? Awas
kalau tidak paham,” jelas Gus Baha serius.
Ngaji komunisme
Gus Baha ini mendapat apresiasi warganet. Ini lantaran banyak generasi muda
Islam yang, tidak paham soal komunis, lalu, ikut-ikutan mendukung komunisme,
simpati kepada tokoh-tokoh komunis (PKI), lantaran selama ini dikesankan
menjadi korban orde baru. Padahal, ajaran komunis, PKI, itu tidak terkait
dengan perlakuan atau kebijakan Orba. (nt)
Sumber: muslimobsession