BSP di Wanasalam, Komoditi Tak Layak Konsumsi Masih Ditemukan
0 menit baca
BantenEkspose.com - Perihal adanya temuan buah salak busuk dari Bantuan Sosial Pangan (BSP) atau Program BPNT, Karang Taruna Desa Parung Panjang, Kecamatan Wanasalam meminta Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk memperbaiki pengawasan kualitas sembako.
Samsul Hidayat, selaku Ketua Karang Taruna Desa Parung Panjang mengatakan bahwa, permintaan untuk memperbaiki pengawasan tersebut ialah agar kelompok Penerima Manfaat (KPM) yang membeli ke agen e-Warong bisa mendapatkan komoditi yang berkualitas.
"Saya minta pengawasan oleh TKSK diperbaiki agar kualitas sembako artinya komoditi yang dibeli KPM dari agen atau E-warong Andi Wijaya betul-betul komoditi yang terjamin kualitasnya bukan malah komoditi yang buruk, ini sangat beresiko terhadap kesehatan," katanya melalui pesan whatsApp, Minggu (12/06/20).
Padahal lanjut Samsul, program BSP atau yang lebih dikenal dengan nama BPNT itu untuk bisa menjamin mutu pangan masyarakat.
“Kualitas Sembako harus segera diperbaiki juga baik bantuan apapun, tapi jenis dan kualitasnya harus bisa diterima masyarakat. Terlebih ini dalam kondisi Pandemi yang diakibatkan oleh COVID-19, tentunya harus disesuaikan,” terangnya.
Untuk itu, Samsul meminta kepada kepada Pemerintahan Kecamatan Wanasalam untuk berperan aktif dalam pengawasan.
“Pihak pemerintah yang ada didaerah, semua elemen punya tugas mengawasi tahapan demi tahapan. Mulai dari pendataan hingga proses penyaluran,” terangnya.
Sementara itu, Iyang, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Wanasalam, bahwa dirinya mengaku sudah menyampaikan persoalan tersebut ke pihak supplier.
"Udah saya sampaikan untuk retur dan menurut info yang saya terima dari pihak supplier, barangnya rencananya besok dikirim," jelasnya.
Sementara itu, Andi Wijaya Agen E-warung Desa Parungpanjang saat dikonfirmasi belum memberikan keteranganya. (Anton/ea Golda)
Samsul Hidayat, selaku Ketua Karang Taruna Desa Parung Panjang mengatakan bahwa, permintaan untuk memperbaiki pengawasan tersebut ialah agar kelompok Penerima Manfaat (KPM) yang membeli ke agen e-Warong bisa mendapatkan komoditi yang berkualitas.
"Saya minta pengawasan oleh TKSK diperbaiki agar kualitas sembako artinya komoditi yang dibeli KPM dari agen atau E-warong Andi Wijaya betul-betul komoditi yang terjamin kualitasnya bukan malah komoditi yang buruk, ini sangat beresiko terhadap kesehatan," katanya melalui pesan whatsApp, Minggu (12/06/20).
Padahal lanjut Samsul, program BSP atau yang lebih dikenal dengan nama BPNT itu untuk bisa menjamin mutu pangan masyarakat.
“Kualitas Sembako harus segera diperbaiki juga baik bantuan apapun, tapi jenis dan kualitasnya harus bisa diterima masyarakat. Terlebih ini dalam kondisi Pandemi yang diakibatkan oleh COVID-19, tentunya harus disesuaikan,” terangnya.
Untuk itu, Samsul meminta kepada kepada Pemerintahan Kecamatan Wanasalam untuk berperan aktif dalam pengawasan.
“Pihak pemerintah yang ada didaerah, semua elemen punya tugas mengawasi tahapan demi tahapan. Mulai dari pendataan hingga proses penyaluran,” terangnya.
Sementara itu, Iyang, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Wanasalam, bahwa dirinya mengaku sudah menyampaikan persoalan tersebut ke pihak supplier.
"Udah saya sampaikan untuk retur dan menurut info yang saya terima dari pihak supplier, barangnya rencananya besok dikirim," jelasnya.
Sementara itu, Andi Wijaya Agen E-warung Desa Parungpanjang saat dikonfirmasi belum memberikan keteranganya. (Anton/ea Golda)

