NEWS

Kritisi Dugaan Potongan Bansos Tunai di Cijaku, Musa Weliansyah Dituding Bikin Gaduh

Bantenekspose.com – Gegara terlalu vokal dan mengkritisi dugaan terjadinya potongan bantuan sosial tunai (BST), anggota Fraksi PPP DPRD Lebak asal daerah pemilihan Lebak V (Kec.Malingping, Wanasalam, Cijaku dan Cigemblong), sempat dianggap membuat gaduh. Padahal, sejatinya itulah fungsi dan tugas kontrol dari anggota legislatif.

Hal itu pula, yang disampaikan anggota Fraksi PPP DPRD Lebak Musa Weliansyah kepada sejumlah awak media. Namun demikian, bagi Musa, yang membuat gaduh adalah oknum-oknum yang tak bertanggungjawab, soal adanya informasi potongan dana bansos dibeberapa kecamatan di Kabupaten Lebak.

"Saya kira yang bikin gaduh ini oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Dari mulai proses pengusulan yang tidak mengikuti aturan yang ada. Jarang sekali desa melakukan Musdes yang dihadiri unsur tokoh masyarakat, tokoh pemuda dari setiap kampung. Ini supaya yang diusulkan betul-betul mereka yang layak menerima bantuan Covid-19 berdasarkan Musdes, bukan hasil sembunyi-sembunyi sehingga bikin gaduh," papar Musa kepada awak media Senin, (17/5/2020).

Untuk lebih memastikan validitas informasi, Musa mengaku mendatangi langsung salah satu warga yang berada di Kecamatan Cijaku, yang mengadukan perihal dugaan pemotongan tersebut pada hari Minggu kemarin, (17/05/2020).

"Saya ketemu langsung dengan salah satu warga berusia 37 Tahun, penerima bantuan covid-19 yang bersumber dari pusat tersebut," imbuh Musa.

Menurut Musa, dugaan pemotongan di Kecamatan Cijaku itu bukan pada pembagian Minggu 17 Mei kemarin. Melainkan, pada pembagian tahap satu yakni tanggal 8 Mei 2020.

"Yang mengadukan ke saya itu, saat pembagian tahap kesatu yang tanggal 8 Mei 2020 dan menanyakan langsung pada penerima. Bila sudah ramai, gak mungkin masyarakat mengakuinya. Kebanyakan mereka takut untuk melapor adanya pungli, seperti saat mereka melapor adanya telur busuk. Kan banyak yang ketakutan, padahal barangnya kelihatan," jelasnya.

Melapor Ke Kapolsek
Biar tidak menumbuhkan prasangka negatip adanya dugaan potongan dana BST di Kecamatan Cijaku, Musa mengaku sudah melaporkan ke Polsek Cijaku, soal dirinya sudah melaporkan pada Kapolsek Cijaku.

"Hari Minggu pukul 10.53 WIB yang Kecamatan Cijaku sudah saya laporkan melalui pesan WhatsApp ke Kapolsek Cijaku. Laporan yang sudah terjadi, serta yang akan terjadi supaya ada upaya pencegahan terlebih dahulu. Tidak sedikit info yang saya terima dan alhamdulilah ada beberapa desa yang bisa dicegah, sehingga tidak terjadi pungli," paparnya.

Rentan Penyelewengan
Persoalan Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau Bantuan Sosial Tunai (BST) ini, kata Musa, sangat rentan penyelewengan. Ia mencotohkan, bagaimana tidak, program Bantuan Sembako Pangan (BSP) atau yang dikenal BPNT yang ada wujud barangnya, banyak masalah dan penyelewengan, hingga adanya penjualan telur HE di tingkat agen E-Warong.

"Dalam BNPT, terkesan tim koordinasi tingkat kecamatan tutup mata, seakan membiarkan. Padahal ada peran Camat dalam program BSP dan BST. Ko bisa, telur HE beredar dengan leluasa dan bukan hanya satu kali," ujarnya.

Saaat dikonfirmasi wartawan, Camat Cijaku Drs Apip Saepudin, mengatakan bahwa di wilayah kerjanya, tidak ada potongan apapun terkait bansos tunai dari Kementerian Sosial.

“Saya tegaskan, di Kecamatan Cijaku sudah dua kali Pembayaran BST Kemensos. Pertama, tanggal 8 Mei 2020 untuk 118 KPM, langsung ke rekening KPM yang bersangkutan. Kedua, BST Kemensos Tanggal 17 Mei 2020 unutk 658 KPM, dibayar langsung oleh PT Pos Malingping, tanpa ada pemotongan. Saya langsung monitor ke lapangan,” kata Apip melalui pesan Whatsapp, seperti dilansir portal tintamerdeka (EaG/odil)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar