Preman Agama, Doktrin dan Kekerasan
0 menit baca

APAKAH karena akibat kesenjangan kapitalisme dunia, dan dampak polarisasi politik
dengan basis ideologisnya atau hegemoni demokratisme dan komunisme diantara
negara adidaya. Hingga akibat itu menjalar pada radikalisme dan ekstrimisme
agama?
Sederhananya, kita tidak mau jauh cari akar ideologi kekerasan dalam agama, hanya saja perlu apriori atas fenomena ini, bahwa kekerasan dalam sikap beragama tidak lebih karena dua pengaruh, yaitu doktrin dan gerakan fundamentalisme. Agama tidak lagi "sesuatu yang membebaskan" atau "ajaran yang mencerahkan", tapi agama dipahami sebagai individual perseption. Jelasnya, bahwa agama bukan untuk orang lain bahagia, tapi agama diklaim milik sendiri dengan kebebasan penyikapannya.
Saya
akan coba elaborasi dengan anggapan Gotthold Lessing tentang persepsi manusia
atas agama, dalam bukunya (Die Erziehung des Menschengeschlechts, p: 85 ). Ia
mengatakan, berdasarkan dorongan semangat
pencerahan, kelak akan tiba suatu zaman ketika kebenaran-kebenaran wahyu dalam
kitab suci akan digantikan oleh kebenaran-kebenaran berdasarkan akal budi.
Lebih lanjut, ia ingin tekankan bahwa
akan ada otonomi manusia dalam berfikir dan menentukan tindakannya sesuai
dengan prinsip-prinsip yang diyakini sebagai sesuatu yang baik, benar dan tahan
uji.
Anggapan
diatas, apakah ada korelasi dengan apa tengah dibahas? Saya kira anggapan
tersebut menjadi pembuka, untuk kita memahami gejala keagamaan kini. Meski
anggapan Lessing di seputar abad 18. Tapi justeru kita temukan benang merah
dari sikap fundamentalisme agama bagai saudara-saudara kita yang muslim (khusus
klompok Wahabi ), dalam hal klaim kebeneran milik sendiri berdasarkan
otonominya sebagaimana manusia agama.
Tapi,
saya meragukan jika fundamentalisme yang memperaktikan kekerasan dan pemaksaan
konsep negara agama itu berdasarkan perspektif G.E. Lessing terkait otonomi
manusia itu. Sebab yang saya pahami itu tidak berarti otonomi manusia atas
sikap agama lantas bersikap keras dan pemaksaan.
Entah
benar ataukah salah, saya memahami bahwa sikap keras dan memaksa tegaknya formalitas
agama (syariat) pada negara bukanlah tumbuh dari akarnya sebagai manusia yang
menginginkan beragama secara hanif dan membahagiakan. Tapi justru ingin menarik
pesan Tuhan bahwa beragama harus dengan iman, hingga sampai ihsan, untuk
kemudian kita bersikap muhsin, satu maqom
yang perlu kita lalui. Tentu kita paham bahwa sikap seorang yang beriman sangat
jauh dari kekerasan dan pemaksaan.
Epikuros
(filsuf Yunani kuno) telah mengingatkan kita sebagai manusia yang saling
menghargai manusia. Ia bilang, akal budi
adalah kemampun untuk melihat dan mengerti, orang yang dengan akal budinya akan
dikuasai oleh pengertian yang tepat. Ini dimaksud bahwa dengan akal budi
maka ada arah menuju kebenaran, baik berfikir maupun bersikap.
Fenomena
kekerasan dan pemaksaan beragama yang eksklusif inilah, yang kemudian dipahami
sebagai ekstrimisme beragama atau bahasa keseharian kita preman-preman agama.
Kita pun bisa menganalisanya bahwa kekerasan dan pemaksaan ajaran agamanya
kepada orang lain, dan yang berbeda paham adalah sesat dan dikafirkan. Itu
artinya beragama tanpa didasari keimanan.
Saya
sangat sepakat, bahwa kita umat beragama wajib saling hormat menghormati, sebab
kita masih manusia dan di agamalah kemanusiaan dijunjung setinggi-tingginya. (*)
