Berharap Birokrasi Bersih, Sebuah Catatan 19 Tahun Provinsi Banten
0 menit baca
![]() |
| Sumber gambar ilustrasi: NusantaraNews |
BantenEkspose.com - Birokrasi, dalam kajian ilmu administrasi maupun ilmu
pemerintahan, nyaris sepakat merujuk pada sebuah sistem manajemen melalui
meja-meja (biro). Kelahiran birokrasi sendiri, boleh jadi sebuah jawaban atas
mekanisme pelayanan yang berjenjang –terlepas
pendek atau panjang jangkauan pelayanan yang diinginkan. Menyoal jenjang
pelayanan itu pula, tak jarang dalam kehidupan birokasi selalu tumbuh sel-sel
yang membuat birokrasi berkembang ke arah positip, bahkan tak jarang negatip.
Tuntutan besaran organisasi dan daya jangkau aspek P4 (perencanaan,
pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan), menuntut sebuah pengelolaan
secara birokrasi, salah satunya organisasi pemerintah —yang berbasis pada public service. Tak jarang, imej negatip
selalu melekat dalam kehidupan birokrasi, sebuah dampak dari biasnya komunikasi
organisasi yang tumbuh dalam organisasi yang bersangkutan.
Kita pun tak jarang atau mungkin sering mengeluarkan
kata-kata kesal “terlalu birokratis”—sebuah ungkapan kekecewaan atas pelayanan
yang lambat atau berbelit-belit disebuah organisasi pemerintahan. Pemandangan ini, biasanya
terjadi dilingkup organisasi pemerintah yang menyentuh urusan langsung dengan
pelanggan (baca: masyarakat). Mengesalkan memang. Tapi itulah hakikat sebuah
penerapan birokrasi yang rigid (kaku,red)
Seiring dengan perkembangan teknologi, tentu dalam pelayanan
birokrasi pun seharusnya menjadi lentur, dengan tidak mengabaikan prosedur yang
ditetapkan. Terlalu rigid, hanya menimbulkan kekecewaan terhadap pelanggan. Untungnya
saat ini, pemerintah menyiapkan lembaga Ombudsman, tempat mengadukan pelanggan
(warga) menyangkut pelayanan pemerintah (baca: birokrat)
Lantas, bagaimana
birokrasi dengan pembinaan kepegawaian dalam instansi pemerintah? Soal ini yang
selalu menjadi kajian menarik, bagi mereka yang sering mengamati persoalan
birokrasi.
Persoalan kepegawaian (khusus) dalam birokrasi pemerintah
memang selalu menjadi perbincangan, termasuk mereka yang terlibat didalamnya.
Terutama, saat menyangkut masalah prestasi kerja dan karir. Dengan personil
yang banyak, seiring dengan tugas pelayanan publik dan besaran organisasi,
gesekan kepentingan karier dan prestasi kerja ini, selalu menjadi lelucon.
Waskat misalnya, dimaksudkan sebagai pengawasan melekat dengan segala aspeknya,
menjadi pelesetan wajib setor ke atasan terdekat.
Menyoal birokrasi pemerintahan di Banten, tentu tak bakal
berbeda dari wilayah lainnya, syahwat politik dan ego kelompoak yang
mendominasi. Mirisnya saat ini, kepentingan politik terlalu mendominasi wilayah
birokrasi. Dampaknya, Aparatur Sipil Negara (ASN) kekinian, tak sedikit yang
terlibat dalam urusan seleksi kepemimpinan di wilayah politik.
Buntut-buntutnya,
ya....... alih-alih imbal jasa, selalu merepoti sang pemimpin politik agar
menempatkan jaringannya dalam jabatan tertentu. Fenomena ini secara kajian akademis(idealis,red) tentu akan
merugikan kehidupan organisasi itu sendiri.
Dalam kondisi itu pula, harapan dan
tuntutan sejumlah aktivis di 1998 lalu, tumbangkan dan basmi NKK (nepotisme,
Kolusi dan Korupsi) menjadi bias. Atau mungkin, seiring dengan tuntutan
kehidupan pula yang dulu jamannya 1998, berteriak lantang basmi NKK, kini berasik
masyuk terlarut dalam nikmatnya lantunan irama merdu, nepotisme, kolusi dan korupsi.
19 tahun Banten, menyorot masalah birokrasi yang ada dalam
catatan Bantenekspose, masih belum menggembirakan. Gesekan kepentingan politik,
kedaerahan dan spirit pengabdian menjadi
sebuah tantangan dalam mewujudkan integritas makna profesionalisme.
Disayangkan memang,
saat pemimpin daerah dipilih secara langsung sebagai cerminan wujud kedaulatan
rakyat, berimbas pada kehidupan birokrasi pemerintah kontemporer, yang merasuk
ke persoalan manajemen kepegawaian. Sehingga bukan hal aneh, bila persoalan
prestasi kerja bukan sebuah jaminan untuk mendapati posisi puncak karier ASN. Kasarnya,
datang tepat waktu sesuai ketetapan dan menjadi indikator kinerja ASN, tak
berpengaruh banyak.
Lelucon di kalangan ASN pun selalu muncul, ingin naik
jabatan dan karier bagus, dekati orang anu dan pak anu. Bila sudah membudaya
begini, menegakkan birokrasi yang bersih, tak ubahnya menegakkan benang basah. Semoga
ini bukan akhir segalanya. (red)
