Udang Kering Tanara, Belum Masuk Dalam Daftar BumDes
0 menit baca
Bantenekspose.com - Desa Lempuyang, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang merupakan salahsatu desa penghasil udang kering. Hal ini didukung dengan kontur geografisnya yang berdekatan dengan pantai utara Banten dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang.
Hasil pertanian udang kering disini terbilang cukup melimpah. Tak heran jika Desa Lempuyang menjadi salahsatu daerah pemasok udah kering di Kabupaten Serang.
Salah seorang petani udang kering bernama Mamak (35) mengaku, selama 2 tahun terakhir sering mendapatkan pasokan udang dengan jenis akuatik dari PT Tamron Akuatik Produk Industri.
"Biasanya udang dikirim dari Desa Tobat, Kecamatan Balaraja, sama pabrik-pabrik (pembenihan) udang di Kabupaten Tangerang dan Serang," kata Mamak, dikutip dari pers rilis KKM 10, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Selasa (13/08)
Hal yang sama ditambahkan oleh petani udang kering lainnya, Ma'ruf (50). Ia mengaku jika udang dikirim oleh pabrik dalam kurun waktu satu minggu sekali dengan massa berat 1.5 ton. Udang yang telah dikeringkan, dikirim ke Kabupaten Semarang untuk melewati proses pengolahan tahap akhir. Biasanya diolah menjadi terasi ataupun pakan ternak.
Namun, potensi besar ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh pihak desa. Alasan utamanya ialah kurangnya dana dan pertanian udang kering dinilai sebagai sebuah kegiatan musiman. Sehingga hal itu juga dinilai tidak menjanjikan untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Sebenarnya, kami pihak desa pun ingin menjadikan potensi tersebut jadi BUMDes. Kami fokus pada Pertamini dulu setelah benar-benar maju. Kita akan pikirkan bagaimana kedepannya nanti," ungkap Fahmi, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Lempuyang
Menurutnya, beberapa hal yang ditakutkan saat pertanian udang kering dimasukan kedalam BUMDes akan mengurangi pendapatan petaninya. Disebutkan sistem pembayaran yang tidak menentu akan terjadi jika pertanian jenis ini masuk kedalam BUMDes (gilang)
Hasil pertanian udang kering disini terbilang cukup melimpah. Tak heran jika Desa Lempuyang menjadi salahsatu daerah pemasok udah kering di Kabupaten Serang.
Salah seorang petani udang kering bernama Mamak (35) mengaku, selama 2 tahun terakhir sering mendapatkan pasokan udang dengan jenis akuatik dari PT Tamron Akuatik Produk Industri.
"Biasanya udang dikirim dari Desa Tobat, Kecamatan Balaraja, sama pabrik-pabrik (pembenihan) udang di Kabupaten Tangerang dan Serang," kata Mamak, dikutip dari pers rilis KKM 10, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Selasa (13/08)
Hal yang sama ditambahkan oleh petani udang kering lainnya, Ma'ruf (50). Ia mengaku jika udang dikirim oleh pabrik dalam kurun waktu satu minggu sekali dengan massa berat 1.5 ton. Udang yang telah dikeringkan, dikirim ke Kabupaten Semarang untuk melewati proses pengolahan tahap akhir. Biasanya diolah menjadi terasi ataupun pakan ternak.
Namun, potensi besar ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh pihak desa. Alasan utamanya ialah kurangnya dana dan pertanian udang kering dinilai sebagai sebuah kegiatan musiman. Sehingga hal itu juga dinilai tidak menjanjikan untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Sebenarnya, kami pihak desa pun ingin menjadikan potensi tersebut jadi BUMDes. Kami fokus pada Pertamini dulu setelah benar-benar maju. Kita akan pikirkan bagaimana kedepannya nanti," ungkap Fahmi, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Lempuyang
Menurutnya, beberapa hal yang ditakutkan saat pertanian udang kering dimasukan kedalam BUMDes akan mengurangi pendapatan petaninya. Disebutkan sistem pembayaran yang tidak menentu akan terjadi jika pertanian jenis ini masuk kedalam BUMDes (gilang)
