74 Tahun Indonesia Merdeka, Empat Desa Ini Masih Susah Jaringan Internet
0 menit baca
![]() |
| Foto: ist |
BantenEkspose.com - Luput
dari pemberitaan, empat desa di wilayah Kecamatan Cihara Kabupaten Lebak, susah
jaringan internet atau jaringan komunikasi. Keempat desa itu diantaranya, Desa
Lebak Peundeuy, Desa Ciparahu, Desa Citeupuseun Kecamatan Cihara dan Desa
Cikaret Kecamatan Cigemblong. Padahal, di era digital seperti sekarang ini
jaringan internet (jaringan komunikasi) sudah menjadi bagian kebutuhan dalam
kehidupan masyarakat, baik untuk berkomunikasi maupun mengakses informasi.
Saat ini masyarakat yang bertempat tinggal di empat desa tersebut,
ketika ingin melakukan komunikasi dengan keluarga, teman, atau rekan kerja
maupun mencari informasi terkini harus rela keluar rumah dan itu pun hanya ada
di titik-titk tertentu saja, misalnya di dataran yang tinggi. Sementara ketika
memasuki dataran rendah secara otomatis handphone milik mereka berada di luar
jangkauan.
Keluhan tersebut muncul dari masyarakat Desa Cikaret, Kecamatan
Cigemblong. Menurut informasi yang dihimpun awak media, bagi pengguna android
jaringan komunikasi atau internet sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi, karena hal itu merupakan tuntutan dari perkembangan jaman.
"Disini mah susah sinyal kang, kalau mau ada sinyal harus
keluar rumah atau pergi ke tempat tertentu. Misal, ke daerah dataran
tinggi," kata Dede Ilyana, warga Desa Lebak Peundeuy juga ketua Ikatan
Remaja Aktif (IKRA) Lebak Pari Desa Lebak Peundeuy, Senin (19/8/2019).
Sementara negara Indonesia saja sudah menginjak diusia ke-74
tahun, tentu ini bukanlah usia yang muda. Namun, masyarakat masih kesulitan
untuk berkomunikasi dan mengakses informasi maupun memberikan informasi seputar
perkembangan daerah juga nasional. Sehingga sering kali ketinggalan
informasi-informasi yang seyogyanya diketahui oleh khalayak umum.
"Tapi faktanya masyarakat pedesaan masih saja serba
keterbatasan dalam segala bidang salah satunya untuk mendapatkan hak informasi.
Kami heran, untuk pemenuhan hak-hak warga selama ini masih ketimpangan
khususnya bagi warga yang tinggal di desa," kata Dede.
Hal yang sama dirasakan warga Desa Citeupuseun. Keterbatasan
jaringan komunikasi membuat masyarakat buntu dalam mengakses informasi atau
berkarya melalui dunia maya. Misalnya, untuk mengenalkan produk lokal seperti
hasil home industry dan sebagainya. Apalagi di era teknologi ini hampir
sebagian besar serba online.
"Kami meminta kepada pemangku kebijakan, agar memperhatikan
warganya terutama yang ada di daerah pelosok desa. Pemerintah pusat sempat
menggembar-gemborkan program internet masuk desa, tapi kok heran desa kami
masih gelap dari informasi?," tanya Hilmi Fahmi warga Desa Citeupuseun,
juga mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL).
Begitu juga di Desa Ciparahu, kondisinya masih gelap gulita dari
penerangan informasi atau akses jaringan internet. Tak heran, jika banyak warga
yang selalu ketinggalan atau kesulitan mendapatkan informasi. Sebetulnya, ini
kritikan bagi pemerintah tetapi peluang juga bagi para pengusaha penyedia jasa
telekomunikasi.
"Bagi kami, mau itu datangnya dari pemerintah atau pengusaha
yang terpenting jaringan komunikasi ada dan bisa memberikan pelayanan dan
kenyamanan bagi warga yang menggunakan nantinya," pungkas Ahmad Daerobi
warga Desa Ciparahu. (emde)
