Krakatau Steel: Kebanggaan Era Orba, Kini Dalam Situasi 'Lampu Kuning'
0 menit baca

BantenEkspose.com
- Dalam catatan sejarah, Krakatau Steel (KS) dibangun oleh presiden RI pertama
Soekarno dengan bantuan pinjaman Rusia. Krakatau Steel dibangun guna menjadi
pondasi awal Indonesia dalam menerapkap sebuah kemajuan bangsa melalui revolusi
industri untuk meningkatkan infrastruktur dan peningkatan alutsista.
Kemudian, pada zaman Soeharto atau orde baru kapasitasnya
dinaikan. Namun naas keberadaan Krakatau Steel belakangan ini sangat miris,
logika sederhana 5 tahun belakangan ini pemerintahan sedang menggenjot
pembangunan infrastruktur, seharusnya baja dan semen sangat di perlukan.
Namun sayangnya, salah satu perusahaan BUMN Krakatau Steel
justru merosot dan merugi. Sebagai dampak dari proyek masa lalu yang ada
marketnya, sebagian besar karena banjir impor baja produk China yang dijual
dengan harga anti dumping yang harganya sangat murah sekali. Lantaran China
mengalami kelebihan produksi kapasitas industri baja.
Rencana PHK itu diketahui dari Surat Edaran (SE) No.
73/Dir.SDM-KS/2019 perihal Restrukturisasi Organisasi Krakatau Steel. Pada
surat per tanggal 29 Maret 2019 tersebut ditujukan untuk para General Manager
(GM) dan manager di lingkungan Krakatau Steel.
Dalam SE tersebut pula, tercantum sejumlah poin penting. Di antaranya, merestrukturisasi 30 persen dari total 4.453 karyawan organik Krakatau Steel induk. Total karyawan yang masih bekerja sebanyak 6.264 karyawan.
Ini sesuai Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP)
2018-2022 Krakatau Steel, dimana target produktifitas karyawan Key Performance
Indikator (KPI) sebesar USD667 ribu per karyawan, setara dengan 4.352 orang.
Maka itu, ada sekitar 1.300 karyawan organik akan
mendapatkan restrukturisasi. Restrukturisasi pun akan menjadi tanggung jawab GM
masing-masing unit kerja, bekerja sama dengan GM Human Capital Management.
Sementara, Senior Corporate Comunication pada Corporate Comunication (Corcom) Krakatau Steel Vicky Muhamad Rosyad mengatakan, semangat dari restrukturisasi ini untuk mendorong kebangkitan perusahaan baja plat merah tersebut seraya membantu sektor keuangan Perusahaan yang mengalami kerugian selama tujuh tahun berturut-turut.
Dikutip dari Harian Neraca, Jumat (28/6/2019). Gejala
Krakatau Steel bermasalah sudah berlangsung selama tujuh tahun dengan
membukukan rugi bersih berkepanjangan. Sampai kuartal I-2019 total kerugian
Krakatau Steel mencapai USD62,32 juta atau ekuivalen dengan Rp878,74 miliar
(kurs Rp14.100 per dolar AS).
Sampai Desember 2018 Krakatau Steel mencatat rugi bersih
sebesasr US$4,85 juta atau ekuivalen dengan Rp68,45 miliar. Sementara sepanjang
kuartal I-2019 pendapatan perseroan turun 13,87% menjadi USD418,98 juta atau
sekitar Rp5,90 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar
USD486,17 juta atau Rp6,85 triliun.
Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai ada
sejumlah faktor yang membuat Krakatau Steel sulit untung dalam tujuh tahun
terakhir ini, diantaranya biaya produksi baja perseroan masih mahal alias belum
efisien.
Kondisi Krakatau Steel juga semakin sulit manakala impor
besi dan baja leluasa masuk ke Indonesia. Menurut BPS, nilai impor besi dan
baja pada Juli 2018 sudah tumbuh 56,55 persen menjadi US$996,2 juta dari
periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain biaya produksi yang belum efisien dan derasnya baja
impor, kesulitan Krakatau Steel untuk untung juga dikarenakan beban keuangan
yang besar, antara lain dari utang usaha Krakatau Steel, baik utang jangka
pendek maupun panjang. Hingga 2018, total utang perusahaan mencapai US$2,49
miliar yang terdiri dari utang jangka pendek US$1,60 miliar dan jangka panjang
US$899 juta.
Perusahaan yang merugi selama tujuh tahun secara
berturut-turut, ditambah jumlah utang yang menggunung tentu berpotensi jadi
masalah besar. Apalagi, kas dan setara kas perseroan juga tinggal US$173 juta.
Bisa dibilang, kondisi perusahaan ini sudah lampu kuning. Sementara itu
perusahaan asal China akan segera membangun pabrik baja di Kabupaten Kendal,
Jawa Tengah dengan nilai investasi 2,54 miliar. Mungkinkah KS bertahan?
![]() |
| Penulis: Rafli Maulana Presma Untirta Banten |
