Kadis Kerpus Lebak, Asep Komar: Kemah Wisata Api Literasi Hanya Ada di Lebak
0 menit baca
![]() |
| Asep Komar Hidayat, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lebak didampingi istri tercintanya di bumi perkemahan api literasi. (foto: emde/be) |
"Memang baru ada di Lebak 'Kemah Wisata Api Literasi' ini kan belum ada dimana-mana. Hanya ada di Lebak," kata Asep saat ditemui bantenekspose.com usai membuka kegiatan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional, di bumi perkemahan wisata api literasi, di Desa Ciparasi, Kecamatan Sobang, Lebak, Ahad (28/7/2019).
Menurut Asep, kemah wisata api literasi tersebut supaya gerakannya lebih cepat melalui metode seperti ini. Ia menyadari, bahwa untuk mewujudkan program itu tidak bisa berdiri sendiri. Oleh karenanya, dalam kemah kali ini pihaknya melibatkan OPD-OPD yang bisa mmeberikan dukungan.
Bahkan, lanjut Asep, saat ini lebih dimeriahkan dengan pelayanan-pelayanan masyarakat, antara lain pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi) dari Satlantas Polres Lebak; pembuatan kartu keluarga, KTP, akta kelahiran dari Didukcapil Lebak; layanan bayar pajak dari Bapenda Lebak; produk lokal dari Dinas Koperasi dan UKM, dan lainnya. Hal ini agar menyentuh pada masyarakat.
"Maksud saya, supaya kegiatan ini tidak hanya inklusif kita saja. Tetapi lebih meluas, masyarakat bisa mengambil manfaatnya. Karena kan kegiatan ini untuk masyarakat. Selain memahami tapi manfaatnya juga merasakan," imbuhnya.
Masih menurut Asep, perkembangan literasi di Lebak ini sangat progres dibandingkan dua tahun belakang. Ia mencontohkan, seperti pustaka-pustaka di kampung masih terbatas, yaitu sekitar 36 pustaka. Sementara di tahun ini melonjak tinggi mencapai hingga 80 lebih. Hal itu menjadikan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi di bidang literasi ini setelah ada gerakan literasi lebih masif. Bahkan, untuk pengadaan buku saja tidak terlalu sulit, karena bisa komunikasi dengan pihak-pihak ketiga seperti donatur dan lain sebagainya.
"Ternyata ada yang mau memberikan buku tetapi juga sulit untuk menyalurkannya. Ketika sudah ada wadahnya mudah gitu. Ketika ada yang mau atau kemauan aksesnya mudah tinggal daftar ke kita (Diskerpus, red). Misalnya ada TBM dimana, itu tinggal daftar registrasi aja ke kita," ujar Asep. Dia menambahkan
"Kalau kita masih ada kita suport atau kita carikan dana CSR (Cost Social Responsibility) yang lain. Jadi mereka terbuka untuk akses-akses pengadaan. Kalau dulu kan sempit pemikirannya, mau buka TBM bukunya darimana? Berfikirnya seperti itu," tambahnya.
Lebih lanjut Asep menjelaskan, untuk menunjang program literasi, pihaknya mengakui bahwa sudah memberikan pembinaan terhadap kepala desa yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak. Kendati dmeikian, dirinya meminta agar di setiap desa minimal ada perpustakaan desa. Setelah itu, kepala desa juga harus mampu menyebarkan virus-virus literasi ke warganya, seperti mendirikan pojok baca di setiap sudut-sudut di tingkat RW.
"Buku itu harus ada di pos-pos ronda. Dan itu harus masif sampai ke tingkat RT, tempat perkumpulan orang atau tempat konsentrasi publik," harapnya.
Selain itu, Kadiskerpus juga berpesan kepada generasi milenial mengingat sekarang ini jamannya sudah canggih (era digital). Apalagi hampir semua kalangan muda menggunakan android dan itu sudah mewabah. Artinya untuk menambah wawasan (literasi) bisa diakses melalui android masing-masing.
"Saya kira untuk berliterasi ini tidak harus teks buku, tapi melalui online juga sudah bisa. Jadi harus bisa memanfaatkan fasiltas itu untuk berliterasi," pesannya seraya mengatakan "Salam Literasi !". (emde)
