Menristekdikti Soroti Pentingnya Riset dan Daya Saing Bangsa di SNSRT UPH
0 menit baca
![]() |
| Menristek Dikti membuka SNSRT 2019, di UPH dengan pemukulan Gong (foto: dok UPH) |
Bantenekspose.com – Indonesia sangat penting memiliki masterplan of national
research. Kementerian Menteri Riset, Teknologi,
dan Pendidikan Tinggi (RISTEKDIKTI) Republik Indonesia, menetapkan Rencana
Induk Riset Nasional (RIRN) Tahun 2017-20145 mencakup 10 bidang strategis yang
menjadi perhatian pemerintah. Diantaranya menyinggung masalah ketahanan pangan,
kesehatan, pendidikan dan kebencanaan
Demikian dikemukakan Menteri Riset, Teknologi,
dan Pendidikan Tinggi (RISTEKDIKTI) Republik Indonesia, Prof. H. Mohamad Nasir,
Ph. D., Ak, saat membuka Seminar Nasional Sains, Rekayasa, dan Teknologi
(SNSRT) yang diadakan Universitas Pelita Harapan pada 26 Juni 2019, di Kampus
UPH Lippo Karawaci.
Selain membahas pentingnya riset dan
tantangan ketahanan pangan, kesehatan, Menristek juga membahas soal mitigasi
kebencanaan di era industri 4.0
Ia mencontohkan integrasi berbagai bidang
strategis yang perlu mendapat perhatian dari dunia pendidikan. Kesehatan jangan
hanya dinikmati oleh orang kota saja. Semua orang harus bisa menikmati
kesehatan dengan baik. Pendidikan kesehatan harus bisa menyebar dan ini akan
menjadikan layanan kesehatan semakin baik.
“Ini juga masih menghadapi tantangan yang
berat dan tidak ada di Indonesia, seperti bagaimana rakyat Indonesia tetap
selamat dari bencananya dan pangan terpenuhi dengan baik dan kesehatan tetap
terjaga,” kata Mohamad Nasir.
Menteri juga mengingatkan tantangan dunia
pendidikan dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. “Yang saya canangkan
adalah selalu National Competitiveness daya saing bangsa. Di dalam daya saing
bangsa itu yang selalu saya tetapkan, adalah bagaimana kualitas pendidikan
perguruan tinggi di masa yang akan datang mampu bersaing dan menciptakan para
lulusan yang berkualitas dalam bersaing di kelas dunia,” tegas menteri.
Menteri Mohamad Nasir juga mengapresiasi
UPH karena telah memberikan dukungan serta support terhadap pemerintah melalui
program studi yang terkait dengan bidang kesehatan seperti kedokteran dan
kemajuan dalam science and technology.
Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M. Eng. Sc
– Rektor dari UPH menyambut baik kedatangan Menristekdikti untuk memberikan
arahan-arahan beserta pengetahuannya kepada mahasiswa UPH dan peserta SNSRT.
“Kita dari UPH sangat bersyukur bahwa
dalam seminar ini Bapak Menteri berkenan datang dan memberikan
pengarahan-pengarahannya yang sangat penting. Kehadiran Bapak Menteri
memberikan bobot sendiri terhadap tema seminar nasional hari ini yaitu
tantangan yang dihadapi dalam memasuki Industri 4.0 di bidang pangan,
kesehatan, dan bencana,” kata Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M. Eng. Sc
Oleh karena itu, lanjuat Jonathan, hasil
dari seminar ini, diharapkan menjadi masukan-masukan penting bagi pemerintah,
masyarakat, dan peneliti untuk muncul atau tampil dengan gagasan-gagasan yang
penting untuk perbaikan pertanian pangan, ketahanan kesehatan, dan mitigasi
Usai memberikan pidato, Menristek Dikti
membuka rangkaian seminar dengan pemukulan gong didampingi Prof. Ismunandar –
Dirjen Belmawa RISTEKDIKTI, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M. Eng. Sc – Rektor
UPH, Mochtar Riady – Founder of Lippo Group, Stephanie Riady – Vice President
for Marketing dan External Cooperation & Business Development UPH, beserta
Eric Jobiliong, Ph.D. Dekan FaST UPH.
SNSRT UPH yang ke-3 ini akan berlangsung
selama dua hari, 26-27 Juni 2019, diikuti 300 peserta, diantaranya 81 pemakalah
dari 20 Perguruan tinggi di Indonesia dan institusi pemerintah.
Seminar nasional ini juga mengundang
beberapa key note speaker yakni, Ocke Kurniandi, FSAI – Appointed Actuary BPJS
Kesehatan, Prof. Dr. Bustanul Arifin – Guru Besar Ekonomi Pertanian UNILA Dewan
Komisioner dan Ekonomi Senior INDEF, dan Hirotaka Futamura – Nippon Steel Metal
Products Co. Ltd. (rls-UPH/red)
