People Power, Masifnya Politik Identitas dan Minimnya Literasi
0 menit baca
![]() |
| Adib Miftahul, akademisi UNIS Tangerang (foto: dok. Adib/refro) |
"Saat Jokowi-Ahok melawan pertahanan Foke-Nara. Disitu kan orang tidak menyangka, isu-isu Ahok kan terlalu ke Cina, segala macem. Sampai keterusan, sampai ke Jokowi di tahun 2014, dimainkan seperti itu," ujar Adib Miftahul, Pengamat Politik Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang, Kamis (30/05/2019)
Ia juga mengatakan bahwa saat itu gelombang politik identitas digelorakan secara terus menerus. Mulai dari tahun 2012 hingga tahun 2014, di mana Joko Widodo menjabat sebagai Presiden hingga terpidananya Basuki Tjahya Purnama (Ahok), karena menurutnya hal itu bisa menjadi euforia yang menstimulan massa.
"Sampai keterusan, sampai ke Jokowi di tahun 2014, dimainkan seperti itu. Ternyata tidak berhasil. Ketika itu bisa digelorakan terus, berhasilnya itu ada pada saat Ahok terpidana. Efek euforia itulah yang dipakai bahwa politik identitas itu memang, sampai saat ini dinilai sebagai alat yang efektif bagi bagian kelompok politik terkait," lanjutnya.
Menurutnya post-truth politics yang terjadi merupakan indikator utama terjadinya politik identitas. Mulanya ia mengulas tentang kejadian Ahok di tahun 2017 tentang Al-Maidah 51.
"Demo sudah berapa puluh kali? Setiap Jum'at itu didemo. Ternyata ada omongan dia tentang Al-Maidah, itukan dialektika yang masih bisa diperdebatkan. Banyak juga golongan-golongan Islam moderat, nggak masalah akan hal itu, komunikasi itu kan bukan hanya sekedar tekstual, tapi juga kontekstual," imbuhnya.
Akibat dominannya politik identitas agama, Adib berasumsi bahwa momentum ini mampu menggiring opini masyarakat jika memang diutarakan pada kepercayaan mayoritas.
"Yang paling dominan adalah politik identitas berbau agama, karena sebagai manusia, masyarakat kita masih mengamini bahwa bertolak belakang dengan agama itu, fokusnya adalah mereka salah," jelasnya.
Ia menelisik bahwa fenomena ini disebabkan rendahnya literasi, hanya saja keterbukaan ruang informasi menurutnya menjadi salah satu tumpuan di mana semua segmentasi umur dapat mengakses informasi.
"Literasi kita ini rendah, sekarang ketika era keterbukaan informasi, semua orang bisa mengakses informasi tanpa harus dia sekolah. Asal dia punya kuota, ia bisa berhasil mengamini informasi dari gadget, itu yang jadi masalah," tegas Adib. (Gilang)
