Mudik yang Menggembirakan
0 menit baca
![]() |
| Foto: Ilustrasi |
Bantenekspose.com - Menjelang lebaran, beribu-ribu, bahkan jutaan
“anak bangsa” berbondong-bondong untuk mudik ke kampung halamannya
masing-masing. Aliran manusia dari kota-kota pusat “urban” menyebar merata ke
pelosok-pelosok desa dan kampung yang sebelumnya serasa mati tiada berpenghuni.
Kota dengan segala modernitas dan kemajuannya, untuk sementara waktu
ditinggalkan dan dilupakan untuk sebuah nostalgia masa lalu. Biaya, waktu,
tenaga, bahkan jiwa dan raga rela dikorbankan demi meraih sesuatu yang “udik”
dalam kegiatan mudik.
Jika Idul
Fitri diartikan sebagai kembali kepada kesucian atau kembali ke asal kejadian,
maka pantas bagi semua umat muslim bergembira pada Hari Raya Idul Fitri.
Kegembiraan orang-orang yang menang dan berhasil mengembalikan dirinya pada
kesucian dirinya setelah menempuh ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh. Inilah
tradisi khas masyarakat Indonesia. “Mudik” namanya. Tradisi ini merupakan
tradisi yang sudah mengakar di Indonesia. Makanya, banyak orang Indonesia yang
menjadikannya sebagai momentum penting di dalam prosesi kehidupannya. Dalam
konteks tradisi dan budaya, mudik juga telah menjadi trademark bagi
Indonesia. Jadi kalau ada negara Asia Tenggara lain yang melakukan mudik, maka
Indonesialah pionernya.
Bahkan mudik
tidak hanya untuk orang Muslim saja tetapi sudah menjadi tradisi tahunan yang
tidak dapat dipisahkan dengan komunitas masyarakat Indonesia. Banyak orang yang
bekerja dan tinggal di kota besar mudik pada saat Lebaran karena pada saat itu
mereka mendapat liburan yang panjang. Biasanya, mereka akan mengunjungi dan
mendoakan leluhurnya yang sudah meninggal di makam.
Mudik telah
menjadi trend setiap lebaran tiba.
Bagi perantau mudik menjadi rutinitas tahunan sebagai suatu tradisi pulang ke
kampung halaman (mulih dhisik). Para
pemudik menyiapkan berbagai macam bekal dalam perjalanan termasuk hadiah untuk
sanak famili. Dan biasanya opini yang sering dilontarkan pemudik yaitu, mereka
mudik bermaksud untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan sanak saudara dan orang
tua mereka. Ada juga opini yang mengatakan, bahwa mudik hanya sekedar kebiasaan
atau budaya ketika hari raya Idul Fitri. Ya memang Fenomena mudik selalu
“unik”, yang mungkin hanya terjadi di negara Indonesia saja. Perlu diingat,
tradisi mudik juga menimbulkan berbagai dampak. Dampak negatifnya seperti,
kemacetan lalu lintas, dan banyaknya para urban yang datang ke Jakarta. Dampak
positifnya, seseorang dapat mempererat persaudaraan dan tidak melupakan kampung
halamannya.
Mudik yang Menggembirakan
Di tengah hiruk-pikuk duniawi, orang sering lupa jati diri. Ketika
kegelisahan menghampiri, beragam cara dilakukan supaya tenang, antara lain
dengan “gembira”.
Bagaimana langkah menuju menjernihkan pikiran, dan merenung serta
mawas diri untuk mencapai “paham” dan “sadar”? Ketika ada pertanyaan, misalnya,
apa tujuan “mudik”, orang sering menjawab “ingin mudik saja”. Padahal
sejatinya, ada makna tekandung didalamnya, sehingga “gembira” adalah “tirakat” untuk mewujudkan kearifan
makna.
Menurut penulis, secara
“jernih” ada beberapa makna “mudik yang menggembirakan”:
Pertama, mudik bisa diartikan semacam terapi yang
menguatkan hubungan kekeluargaan. Dalam aspek spiritual, mudik akan
membangkitkan kesegaran dan tenaga baru bila mereka kembali bekerja di kota.
Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka
bersua dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi
rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi
spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka,
dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi penjernihan spiritual
untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan,
kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.
Kedua, dalam mudik ada “kesadaran akan perbaikan
kampung halaman” dari aktifitas mudik yang dilakukan. Kebiasaan
membangga-banggakan keberhasilan selama di perantauan “seyogyanya” diganti
dengan keinginan yang kuat untuk membangun kampung halaman. Sekian lama jauh
dari kampung halaman, akan hadir saat kerinduan harus dituntaskan. Seakan ingin
memutar roda waktu ke masa lalu, mudik diperlukan untuk menyegarkan pikiran
dari rutinitas keseharian yang semakin membebani pikiran. Mudik menjadi sebuah
ritual kegembiraan “sangkan paraning
dumadi” diri manusia. Dari mana ia berasal, dimana ia berada, dan akan
kemana tujuan hidup selanjutnya. Mudik menjadi titik balik siklus kehidupan
manusia untuk mengawali tahapan kehidupan baru yang lebih baik setelah
sebelumnya sang manusia menghampakan nafsu lewat ibadah puasa, menebarkan kesejahteraan kepada
sesama melalui zakat fitrah, dan dipuncaki kesucian nilai Idhul Fitri.
Ketiga, mudik adalah silaturahim, dan silaturahim
adalah esensi dari akfititas mudik itu sendiri, yang mana silaturahim itu akan
berdampak kepada berbagai hal yang membentuk sinergitas tinggi bagi pembangunan
kampung halaman, dan bukan sekedar persoalan cerita sukses tentang
keberhasilan. Sehingga mudik tidak hanya dijadikan “ritual tahunan” tanpa makna.
Hal-hal seperti berbagi rezeki, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri
permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua jauh lebih bermakna. Dalam
bahasa yang lebih luas, mudik seharusnya mendorong kita mewujudkan nilai-nilai transenden untuk kemudian sedikit demi
sedikit meluruhkan belenggu hedonisme-materialisme
yang tercipta di tengah peradaban modern.
terakhir, mudik yang menggembirakan artinya adalah
sebagai “pengingat” kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat
asal. Karena melalui mudiklah, kita sebenarnya diingatkan kembali kepada awal
kejadian kita, di mana untuk pertama kalinya kita melihat dunia. Merenungi saat
berada di kandungan ibu. Kandungan disebut pula sebagai rahim. Tuhan pun diseru
dengan sebutan ya rahim. Wahai yang memberikan kasih sayang. Kasih sayang Tuhan
mewujud pada kasih sayang (rahim) ibu.
Mudik harus
menjadi momentum untuk introspeksi diri, revitalisasi nilai baru, serta
memompakan semangat hidup baru dalam bingkai kesucian sebagaimana bayi yang
baru dilahirkan kembali ke alam dunia, sebagaimana air suci di mata air yang
bersih nan jernih. Inilah makna kembalinya manusia kepada kefitrian hidup.
Penulis:
Eko
Supriatno, M.Si, M.Pd
Dosen UNMA
Banten
Departemen
Riset dan Kebijakan ICMI Banten
Tenaga Ahli
DPRD Provinsi Banten

