NEWS

Mudik yang Menggembirakan

Foto: Ilustrasi

Bantenekspose.com - Menjelang lebaran, beribu-ribu, bahkan jutaan “anak bangsa” berbondong-bondong untuk mudik ke kampung halamannya masing-masing. Aliran manusia dari kota-kota pusat “urban” menyebar merata ke pelosok-pelosok desa dan kampung yang sebelumnya serasa mati tiada berpenghuni. Kota dengan segala modernitas dan kemajuannya, untuk sementara waktu ditinggalkan dan dilupakan untuk sebuah nostalgia masa lalu. Biaya, waktu, tenaga, bahkan jiwa dan raga rela dikorbankan demi meraih sesuatu yang “udik” dalam kegiatan mudik.

Jika Idul Fitri diartikan sebagai kembali kepada kesucian atau kembali ke asal kejadian, maka pantas bagi semua umat muslim bergembira pada Hari Raya Idul Fitri. Kegembiraan orang-orang yang menang dan berhasil mengembalikan dirinya pada kesucian dirinya setelah menempuh ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh. Inilah tradisi khas masyarakat Indonesia. “Mudik” namanya. Tradisi ini merupakan tradisi yang sudah mengakar di Indonesia. Makanya, banyak orang Indonesia yang menjadikannya sebagai momentum penting di dalam prosesi kehidupannya. Dalam konteks tradisi dan budaya, mudik juga telah menjadi trademark bagi Indonesia. Jadi kalau ada negara Asia Tenggara lain yang melakukan mudik, maka Indonesialah pionernya.

Bahkan mudik tidak hanya untuk orang Muslim saja tetapi sudah menjadi tradisi tahunan yang tidak dapat dipisahkan dengan komunitas masyarakat Indonesia. Banyak orang yang bekerja dan tinggal di kota besar mudik pada saat Lebaran karena pada saat itu mereka mendapat liburan yang panjang. Biasanya, mereka akan mengunjungi dan mendoakan leluhurnya yang sudah meninggal di makam.

Mudik telah menjadi trend setiap lebaran tiba. Bagi perantau mudik menjadi rutinitas tahunan sebagai suatu tradisi pulang ke kampung halaman (mulih dhisik). Para pemudik menyiapkan berbagai macam bekal dalam perjalanan termasuk hadiah untuk sanak famili. Dan biasanya opini yang sering dilontarkan pemudik yaitu, mereka mudik bermaksud untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan sanak saudara dan orang tua mereka. Ada juga opini yang mengatakan, bahwa mudik hanya sekedar kebiasaan atau budaya ketika hari raya Idul Fitri. Ya memang Fenomena mudik selalu “unik”, yang mungkin hanya terjadi di negara Indonesia saja. Perlu diingat, tradisi mudik juga menimbulkan berbagai dampak. Dampak negatifnya seperti, kemacetan lalu lintas, dan banyaknya para urban yang datang ke Jakarta. Dampak positifnya, seseorang dapat mempererat persaudaraan dan tidak melupakan kampung halamannya.

Mudik yang Menggembirakan
Di tengah hiruk-pikuk duniawi, orang sering lupa jati diri. Ketika kegelisahan menghampiri, beragam cara dilakukan supaya tenang, antara lain dengan “gembira”.

Bagaimana langkah menuju menjernihkan pikiran, dan merenung serta mawas diri untuk mencapai “paham” dan “sadar”? Ketika ada pertanyaan, misalnya, apa tujuan “mudik”, orang sering menjawab “ingin mudik saja”. Padahal sejatinya, ada makna tekandung didalamnya, sehingga “gembira”  adalah “tirakat” untuk mewujudkan kearifan makna.

Menurut penulis, secara “jernih” ada beberapa makna “mudik yang menggembirakan”:
Pertama, mudik bisa diartikan semacam terapi yang menguatkan hubungan kekeluargaan. Dalam aspek spiritual, mudik akan membangkitkan kesegaran dan tenaga baru bila mereka kembali bekerja di kota. Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka bersua dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka, dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi penjernihan spiritual untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.

Kedua, dalam mudik ada “kesadaran akan perbaikan kampung halaman” dari aktifitas mudik yang dilakukan. Kebiasaan membangga-banggakan keberhasilan selama di perantauan “seyogyanya” diganti dengan keinginan yang kuat untuk membangun kampung halaman. Sekian lama jauh dari kampung halaman, akan hadir saat kerinduan harus dituntaskan. Seakan ingin memutar roda waktu ke masa lalu, mudik diperlukan untuk menyegarkan pikiran dari rutinitas keseharian yang semakin membebani pikiran. Mudik menjadi sebuah ritual kegembiraan “sangkan paraning dumadi” diri manusia. Dari mana ia berasal, dimana ia berada, dan akan kemana tujuan hidup selanjutnya. Mudik menjadi titik balik siklus kehidupan manusia untuk mengawali tahapan kehidupan baru yang lebih baik setelah sebelumnya sang manusia menghampakan nafsu lewat  ibadah puasa, menebarkan kesejahteraan kepada sesama melalui zakat fitrah, dan dipuncaki kesucian nilai Idhul Fitri.

Ketiga, mudik adalah silaturahim, dan silaturahim adalah esensi dari akfititas mudik itu sendiri, yang mana silaturahim itu akan berdampak kepada berbagai hal yang membentuk sinergitas tinggi bagi pembangunan kampung halaman, dan bukan sekedar persoalan cerita sukses tentang keberhasilan. Sehingga mudik tidak hanya dijadikan “ritual tahunan” tanpa makna. Hal-hal seperti berbagi rezeki, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua jauh lebih bermakna. Dalam bahasa yang lebih luas, mudik seharusnya mendorong kita mewujudkan nilai-nilai transenden untuk kemudian sedikit demi sedikit meluruhkan belenggu hedonisme-materialisme yang tercipta di tengah peradaban modern.

terakhir, mudik yang menggembirakan artinya adalah sebagai “pengingat” kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat asal. Karena melalui mudiklah, kita sebenarnya diingatkan kembali kepada awal kejadian kita, di mana untuk pertama kalinya kita melihat dunia. Merenungi saat berada di kandungan ibu. Kandungan disebut pula sebagai rahim. Tuhan pun diseru dengan sebutan ya rahim. Wahai yang memberikan kasih sayang. Kasih sayang Tuhan mewujud pada kasih sayang (rahim) ibu.

Mudik harus menjadi momentum untuk introspeksi diri, revitalisasi nilai baru, serta memompakan semangat hidup baru dalam bingkai kesucian sebagaimana bayi yang baru dilahirkan kembali ke alam dunia, sebagaimana air suci di mata air yang bersih nan jernih. Inilah makna kembalinya manusia kepada kefitrian hidup.

Penulis:


Eko Supriatno, M.Si, M.Pd
Dosen UNMA Banten
Departemen Riset dan Kebijakan ICMI Banten
Tenaga Ahli DPRD Provinsi Banten
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar