Karinding Sebagai Metronom Spiritualitas
0 menit baca
![]() |
| Komunitas Barak Karinding (Bakkar) sedang melakukan latihan rutin mingguan di Sanggar Bakkar, Desa Sentul Jaya, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang. (Dokumen Pribadi/Ncek) |
Nada yang dihasilkan pun berupa Da Mi Na Ti La, sebuah runtutan nada yang dari rendah menuju rendah lagi. Ahmad Lamhatunnadzori atau yang sering disapa “Ncek” selaku pengurus Komunitas Barak Karinding (Bakkar) menerangkan logika mistik seputar alat musik Karinding.
“Alat-alat musik ritmis menurunkan tempo bukan alat melodi, seperti karinding. Itu alat yang bisa mendorong manusia untuk menghadirkan Allah di hatinya. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Karinding juga menjadi alat kalangenan. Bagi si pemainnya bermanfaat untuk menghadirkan Allah di jiwanya. Itu yang aku rasakan selama aku memainkan karinding, aku membawanya ke ranah dzikir,” ujar Ncek saat berbincang dengan BantenEkspose.com, Kamis (15/5/2019).
Ia juga menjelaskan, banyak kalangan muslim sendiri justru menolak alat musik bisa berdampingan dengan kajian syariat Islam. Walaupun pendekatan budaya atas agama terbilang cara lama yang digunakan oleh Walisongo, hal ini ia tekankan sebagai sebuah terobosan yang harus dilaksanakan untuk menanggapi gejolak fundamentalisme di dunia Islam.
“Karinding dan bentuk ketabuhan lainnya. Sesuai kajian fiqih-nya Syekh Nawawi Al-Bantani Tanara, adalah alat yang membuat manusia lupa dengan penciptanya. Manusia terkadang terbawa dalam permainan musiknya. Tepatnya hanya fokus pada estetika bermain musiknya saja. Tapi ketika aku kaji dibeberapa ilmu tauhid, alat-alat musik ritmis justru menurunkan tempo bukan alat melodi, seperti karinding," jelasnyaDi beberapa pesantren di Kecamatan Balaraja, salah satunya Pondok Pesantren Al-Hijrah, mampu membuka diri terhadap kehadiran alat musik karinding. Ncek pernah membawa karinding dan dapat diterima oleh pihak Pengurus Pondok Pesantren dengan alasan pendekatan budaya. Ncek juga sempat ditekankan oleh Abuya Uci, selaku tokoh agama terkenal di Tangerang untuk melestarikan karinding dan mewujudkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
“Di Jazirah Arab sendiri orang-orang menggunakan rebana untuk mengiringi shalawat, jika di Nusantara salahsatunya menggunakan Karinding, bahkan dengan menggunakan Bahasa sunda. Hal ini melawan stigma jika musik tidak diterima di tubuh Islam, karena kita berbicara kegunaan dan peruntukannya untuk apa,” cetusnya. (Gilang)
