Ketua Greenpeace Didit Haryo: Langkah Penurunan Emisi Tidak Dibarengi Langkah Konkrit
0 menit baca
Bantenekspose.com – Pemerintah sebetulnya memiliki komitmen yang cukup ambisius, untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim. Sebuah kewajaran memang, karena Indonesia salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim itu. Tapi sayangnya, rencana pemerintah untuk mengurangi melalui penurunan emisi, yang dihasilkan dari Indonesia tidak dibarengi dengan langkah-langkah yang konkrit.
Demikian dikemukakan Ketua Greenpeace Didit Haryo, saat menjadi pembicara di Diskusi Dampak Perubahan Iklim dan Penyediaan Energi Terhadap Kesejahteraan Petani dan Nelayan, yang digelar Himpunan Mahasiswa Agiribisnis (Himagri) Universias Suktan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Kamis (21/3/2019).
Dikatakan Didit, pemerintah masih menggunakan batubara sebagai tulang punggung energi nasional. Padahal sama-sama tahu, bahwa batubara adalah penyumbang emsisi terbesar. 40 persen emisi global disebabkan pembakaran batubara. Seharusnya beralih ke energi terbarukan yang memiliki potensinya sangat luar biasa besar.
"Kita tetap kecanduan dengan energi kotor batubara, ini yang kita sayangkan. Artinya, dengan semangat seperti ini maka rencana ambisius kita, untuk mengurangi emisi sangat jauh untuk bisa dicapai," ujar Didit.
Ditambahkan Didit, Serang sebagai pusat ibukota Provinsi Banten, kota yang sebenarnya memiliki dan dilingkari banyak sekali oleh pembangkit listrik tenaga batubara. Rasanya sangat penting untuk memiliki kegiatan semacam ini (diskusi publik-red). Karena kesadaran publik akan bahaya dampak PLTU itu sendiri masih sangat rendah.
"Dengan kegiatan seperti ini, semakin masyarakat tahu, bahwa akan mengetahui sebenarnya ancaman apa yang ada dihadapan mereka," tutup Didit. (emde)
Demikian dikemukakan Ketua Greenpeace Didit Haryo, saat menjadi pembicara di Diskusi Dampak Perubahan Iklim dan Penyediaan Energi Terhadap Kesejahteraan Petani dan Nelayan, yang digelar Himpunan Mahasiswa Agiribisnis (Himagri) Universias Suktan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Kamis (21/3/2019).
Dikatakan Didit, pemerintah masih menggunakan batubara sebagai tulang punggung energi nasional. Padahal sama-sama tahu, bahwa batubara adalah penyumbang emsisi terbesar. 40 persen emisi global disebabkan pembakaran batubara. Seharusnya beralih ke energi terbarukan yang memiliki potensinya sangat luar biasa besar.
"Kita tetap kecanduan dengan energi kotor batubara, ini yang kita sayangkan. Artinya, dengan semangat seperti ini maka rencana ambisius kita, untuk mengurangi emisi sangat jauh untuk bisa dicapai," ujar Didit.
Ditambahkan Didit, Serang sebagai pusat ibukota Provinsi Banten, kota yang sebenarnya memiliki dan dilingkari banyak sekali oleh pembangkit listrik tenaga batubara. Rasanya sangat penting untuk memiliki kegiatan semacam ini (diskusi publik-red). Karena kesadaran publik akan bahaya dampak PLTU itu sendiri masih sangat rendah.
"Dengan kegiatan seperti ini, semakin masyarakat tahu, bahwa akan mengetahui sebenarnya ancaman apa yang ada dihadapan mereka," tutup Didit. (emde)
