Jadi Saksi Anak Putus Sekolah di Pandeglang, Ami Terus Tularkan Optimisme
0 menit baca
![]() |
| Fadila Ashiyami (foto: kemdikbud) |
Bantenekspose.com - Menjalani
tahun kedua sebagai Guru Garis Depan (GGD) di Sobang, Pandeglang, Banten,
Fadila Ashiyami menjadi saksi banyaknya anak yang putus sekolah di sana.
Sebagai satu dari 37 GGD yang bertugas di Pandeglang, melihat kenyataan
kurangnya semangat bersekolah itu memacu dia untuk terus berupaya memberikan
motivasi serta menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat bagi siswa-siswinya
untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Bagi Ami, panggilan akrabnya, mengabdi sebagai GGD juga berarti panggilan
untuk menularkan optimisme bagi anak-anak di daerah terpencil. Ia ingin
anak-anak tetap bersemangat melanjutkan pendidikan dan bisa meraih masa depan
yang lebih baik meskipun mereka berasal dari desa.
“Karena mungkin suatu hari nanti mereka juga akan membangun desa mereka,
menjadi desa yang lebih maju daripada sekarang,” ujar guru Bimbingan dan
Konseling Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Sobang, Pandeglang, Banten saat
diwawancarai usai acara Gebyar Pendidikan dan Kebudayaan Pandeglang di
Alun-alun Pandeglang, Banten, beberapa waktu lalu.
GGD merupakan satu dari program prioritas Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan dalam memeratakan akses dan mutu pendidikan melalui ketersediaan pendidik
di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Program afirmasi ini sudah
dijalankan sejak 2016 lalu.
Sikap optimistis itu juga dia tunjukkan ketika mendapat kesempatan
berbincang dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy,
pada acara tersebut. Ami mewakili rekan-rekan GGD di Pandeglang menyampaikan
kesannya selama menjadi GGD dan penerima Tunjangan Daerah Khusus.
Kepada Ami, Mendikbud Muhadjir berpesan agar terus bersemangat mengajar di
daerah terpencil dan terus memotivasi anak-anak di sana. Ia juga mengingatkan
bahwa pendidikan itu hak seluruh warga negara, baik di kota, maupun di desa
terpencil. Pada kesempatan tersebut, Mendikbud juga langsung memberikan bantuan
berupa satu laptop kepada Ami.
Tak hanya melihat kenyataan anak putus sekolah saja, setiap harinya, Ami
berhadapan dengan medan yang berat untuk tiba di sekolah tepat waktu. Lulusan
Universitas Negeri Jakarta ini harus berjuang dengan sepeda motornya melewati
jalan yang tak mulus seperti di perkotaan, sesekali akan berlumpur jika hujan
turun. Setelah itu, ia harus berhenti di pinggir hutan dan kemudian melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki menembus hutan belantara.
Perjuangan menuju sekolah tersebut tak sebanding dengan rasa puas ketika
Ami mengajar generasi penerus bangsa di Desa Sobang. “Kepuasannya luar biasa
ketemu dengan murid-murid, bisa berbagi manfaat dengan mereka, mendidik anak
bangsa yang benar-benar membutuhkan, di situ kepuasannya,” ungkap wanita
berkerudung itu.
Ami menyampaikan pesan bagi rekan-rekan pengajar yang ingin menjadi guru
di daerah 3T agar memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam mengajar. “Nikmati
mendidik di mana pun. Kalau memang tulus, ikhlas, benar-benar untuk siswa, maka
medan seperti apapun justru membuat kita tertantang dan senang,” pungkasnya.
(red)
Sumber: Kemdikbud
