Hamas: Sosialisasi Kurang, Kekerasan Terhadap Perempuan di Serang Masih Tinggi
0 menit baca
BantenEkspose.com -
Dalam momentum hari perempuan internasional atau International Women's Day
(IWD) 2019, Himpunan Mahasiswa Serang (HAMAS) menggelar aksi kampanye, di
Alun-alun Timur Kota Serang, Jum'at (8/3/2019). Dalam aksinya mereka menyerukan
kesetaraan gender agar benar-benar di wujudkan di Indonesia khususnya di Banten.
Korlap aksi, Eriska Eryani mengatakan, di Kota dan Kabupaten
Serang masih banyak terjadi kekerasan dan tindakan diskriminasi pada kaum
perempuan. Hal tersebut menjadi titik fokus permasalahan saat ini.
Eriska menyebutkan, pada 2018 terdapat 28 kasus kekerasan
terhadap perempuan diantaranya, pelantaran anak perempuan, pelecehan seksual,
bahkan pemerkosaan. Kemudian 12 kasus pelecehan dan kekerasan pada perempuan,
khususnya di Kecamatan Kopo 17 Santriwati mengalami pencabulan saat praktek
wudhu. Lalu, pada awal Maret 2019 terjadi kasus pencabulan anak perempuan
tingkat SD (Sekolah Dasar) oleh guru di sekolahnya.
"Hal tersebut terjadi karena kurangnya sosialisasi dari
Dinas Pemberdayaan Perempuan menyoal bagaimana menyikapi kekerasan atau
diskriminias pada perempuan," ujar Eriska.
Sekretaris Pengurus Pusat (PP HAMAS) itu menuturkan,
mengingat kekerasan pada perempuan merupakan isu krusial hingga kini terus
terjadi disebabkan seterotip terhadap perempuan dan dianggap lemah masih
melekat disebagian masyarakat.
"Kesetaraan gender harus benar-benar diwujudkan di
Indonesia khususnya di Kota/Kabupaten Serang sehingga tidak adanya lagi
perlakuan diskrimnasi pada perempuan," tutur Eriska.
Eriska menegaskan,
Himpunan Mahasiswa Serang (HAMAS) diseluruh Komisariat yang dibawah
naungan Pengurus Pusat HAMAS, secara tegas menyerukan untu menolak segala
kekerasan seksual terhadap perempuan di sekolah, tempat kerja, jalan, dan
tempat umum.
"Hentikan diskriminasi terhadap perempuan. Stop
perdagangan perempuan," tegas srikandi Hamas itu seraya mengatakan kita
perempuan, kita manusia. (emde)
