NEWS

Ekonomi Carut-Marut, Mahasiswi Unbaja Rintis Usaha Sembako Tanpa Bantuan Pemerintah

BantenEkspose.com - Salah satu mahasiswi Universitas Banten Jaya (Unbaja), Hayatunisa (18) berhasil merintis usaha toko sembako dengan modal semangat yang tinggi, memberanikan diri menyewa sebuah ruko berukururan sekitar 6X2 m2, yang berada di Jalan Syekh Nawawi Al-Bantani, tepatnya Lingkungan Boru, Kecamatan Curug, Kota Serang.

Mahasiswi Program Studi Sistem Informasi (SI) pada Fakultas Ilmu Komputer (FIK) ini, baru saja menjalankan usahanya sejak awal tahun 2019 ini. Sebelumnya, ia berjualan pulsa namun dalam prosesnya mengalami stagnan. Akhirnya lebih memilih membuka toko sembako.

Dalam memulai usahanya, Nisa mendapatkan suport dari kedua orang tuanya berupa bantuan modal. Sehingga apa yang direncanakannya itu mampu diwujudkan.

Awal menjalankan usaha tersebut, dirinya hanya menghabiskan sekitar Rp. 8.000.000 (delapan juta rupiah) untuk dijadikan modal awalnya. Bantuan ini murni tanpa ada bantuan dari pemerintah. Ditengah kesibukannya sebagai mahasiswa, kini Nisa menambah lagi barang dagangannya, yakni menyediakan nasi uduk pada pagi harinya.

"Awalnya disuruh jualan pulsa sama orang tua tapi nggak jalan-jalan, akhirnya saya pengen jualan sembako. Alhamdulillah, diizinin sama orang tua saya," kata Nisa sapaan akrab Hayanusia, saat ditemui bantenekspose.com ditengah kesibukannya, Sabtu (23/3/2019).

Jiwa entrepreunership mahasiswa semester 2 ini terbentuk sudah lama. Sehingga dalam menjalankan usahanya pun sudah tak kaku lagi dan terlihat enjoy. Dibalik keenjoyannya, kini ia bisa meruap keuntungan rata-rata Rp. 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) per harinya. "Alhamdulillah, rata-rata penghasilan saya mencapai 250 ribu per harinya," rakunya.

Dampak ekonomi yang carut-marut di era persaingan pasar global.
Nisa mengku ketika ingin masuk kerja ke sebuah perusahaan bukanlah hal yang mudah, karena tidak bisa meninggalkan budaya lama (Nyogok) dan itu membutuhkan uang yang besar. Belum lagi, saat ini kebanyakan pemilik perusahaannya orang-orang asing.

"Ketika mau masuk kerja juga kita harus nyogok dulu. Itu minimal 8 juta kemudian dalam penghasilan 1 bulan belum tentu bisa menutupi uang sogokannya. Makanya saya lebih memilih usaha," ujar Nisa.

Ego Ilham (19), rekan seperjuangnnya yang sedang bermain dan menikmati cemilan yang ada di toko milik Nisa. Ego turut bangga dan salut melihat rekannya yang sudah mampu hidup mandiri. Apalagi di zaman ekonomi yang terkesan carut marut seperti sekarang ini.

"Saya lagi main aja. Saya biasa jajan disini itu mie, kopi dan makanan ringan," ungkap Ego, rekan seangkatan kuliah Nisa.

Mereka berharap, agar pemerintah bisa mensuport para generasi muda yang ingin mengembangkan minat bakatnya dibidang entrepreneurship melalui program pengembangan UMKM. Nisa dan Ego mengaku, program UMKM yang sudah diluncurkan dari pemerintah untuk saat ini dinilai belum tepat sasaran.

"Pemerintah seharusnya memberi dana kepada masyarakat untuk pengembangan UMKM itu dengan tepat sasaran. Dan pemerintah juga harus mendorong pengembangan wirausaha masyarakat kecil," harap Nisa dan Ego mengakhiri perbincangannya kepada awak media. (emde)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar