NEWS

Angka Kematian Ibu Hamil di Kota Serang Jadi Pusat Perhatian IBI

BantenEkspose.com - Meningkatnya angka kematian ibu hamil di Kota Serang menjadi perhatian khusus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kota Serang. Pasalnya, jika dilihat dari sisi pembiayaan tidak harus menjadi sebuah masalah karena selama ini sudah ada program jaminan persalinan atau Jampersal.

Dikatan Ketua IBI Cabang Kota Serang, dr Anah Rohanah, pihaknya sudah melakukan MoU (memorandum of understunding) dengan beberapa rumah sakit yang berkaitan dengan pelayanan Jampersal tersebut, diantaranya RS Hermina, RS Ibunda, RS Fatimah, RS Budi Asih, dan RSDP.

"Jaminan persalinannya ini gratis, asal di fasilitas kesehatan. Kalau di rumah sakit juga bisa menggunakan fasilitas itu (Jampersal-red)," ujar Anah saat diwawancara seusai kegiatan peletakan batu pertama pembangunan sekretariat IBI Cabang Kota Serang, di Lingkungan Kemang, Kelurahan Penancangan, Cipocok Jaya, Kota Serang, Rabu (13/3/2019).

Anah menyebutkan, angka kematian ibu hamil di Kota Serang pada 2018 mengalami peningkatan yakni sebanyak 24 orang, sementara pada 2017 lalu sebanyak 14 orang. Menurutnya, walaupun kenaikan ini secara angka tidak terlalu banyak, namun hal itu akan menjadi pusat perhatian IBI.

Langkah ke depannya, lanjut Anah, pertama IBI akan melakukan pembinaan, dengan menggunakan metode cluster. Kedua, melakukan pelatihan, dengan cara meng-update ilmu kebidanan. Ketiga, melakukan pembinaan terhadap bidan-bidan yang membuka praktek mandiri. Terakhir, melakukan kolaborasi dan integrasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes).

Disinggung soal minimnya tenaga medis di Kota Serang. Anah mengatakan, meningkatnya angka kematian ibu hamil bukan disebabkan minimnya personel. Menurutnya, dengan adanya 930 tenaga medis dan jumlah penduduk sekitar 6.000 jiwa di Kota Serang itu sudah cukup.

"Hanya mungkin masalah dalam penyebaran tugasnya saja. Karena sekarang ini lebih fokus di Kota, sementara di daerah pinggiran atau perkampungan masih harus menjadi perhatian," imbuhnya.

Selain itu, akses transpotasi bagi masyarakat yang di pojok (pinggiran) masih agak kesulitan. Kemudian kompetensi bidan, memang secara kwantitasnya banyak tetapi harus terus diupdate apalagi yang berkaitannya dengan mendeteksi ibu hamil yang berisiko tinggi.

"Jadi, itulah makanya yang sering kita lakukan adalah pembinaan. Bagaimana ketika mereka ada ibu hamil yang datang ke tempat praktek dia (bidan mandiri-red), dia harus tahu dengan ibu hamil tersebut. Misalnya, harus diperiksa 4 kali selama kehamilan, ketika ada temuan berisiko tinggi hamil harus diapakan, itulah yang harus mereka dapatkan," kata Anah.

Anah mengungkapkan, dari 24 angka kematian ibu hamil tersebut hampir sebanding dengan angka kematian sebelum atau sesudah melahirkan. Tetapi, hal ini disebabkan beberapa penyakit bahkan sekarang lebih mengarah ke PTM (Penyakit Tidak Menular), seperti penyakit hipertensi, jantung, atau diusia tua tetapi masih hamil. Meski demikian, dirinya menyarankan usia kehamilan itu diatas 20 tahun sehingga organ-organ reproduksinya akan lebih bagus.

"Kita punya program penapisan pencegahan komplikasi (P4K). Jadi, si ibu-ibu hamil itu kita deteksi sejak awal tentang risiko-risikonya. Kalau misalnya dia berisiko hamil seperti punya penyakit hipertesis dan lain-lain, tentunya ini kana lebih banyak didampingi oleh teman-teman kami (bidan) pendampingan di masyarakat," pungkas Anah. (emde)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar