NEWS

PKL: Pengusaha Tangguh yang Harus Diperhatikan

"Kebijaksanaan membuat mereka beradaptasi dengan lingkungan, seperti air mengikuti bentuk tempatnya."(Anonymous)

Bicara PKL memang menjadi bagian dari problematika pemerintah selama ini. selain sampah, banjir dan kemacetan. Pedagang Kaki Lima (PKL) adalah istilah untuk menyebut penjaja dagangan yang menggunakan gerobak, lalu orang-orang menafsirkan 2 kaki pedagang, ditambah 3 kaki roda gerobak rata-rata roda gerobak menjadikannya 5 kaki. 

Bahkan, istilah ini sudah muncul sejak jaman kolonial Belanda, pada masa itu menyebutnya Pedagang Lima Kaki, namun dalam perkembangannya khalayak umum lebih suka menyebut Pedagang Kaki Lima atau PKL.

Saat ini, istilah PKL juga digunakan untuk pedagang yang buka kios non-permanen (lapak) di beberapa lokasi public, seperti trotoar.

Keberadaan PKL ini memang pro dan kontra. Disatu sisi, kita sering terbantu dengan keberadaan PKL, jajanan murah, produk sehari-hari, bahkan produk yang susah dapat di mall seringkali kita dapat di lapak-lapak PKL. Kelas menengah-bawah sangat bergantung pada komoditas yang dijajakan oleh PKL.

Disisi lain, keberadaan mereka (PKL) menimbulkan kesemerawutan, jualan di sembarang tempat, menyisakan sampah, menimbulkan kerumunan yang mengganggu arus lalu lintas, hingga merampas hak pejalan kaki, karena kebanyakan mereka jualan di trotoar. 

Bahkan, saat ini sudah banyak warga perumahan yang resah karena menjamurnya PKL pada Sabtu-Minggu di taman-taman dan ruas jalan komplek perumahan. Akhirnya, timbullah penggusuran di sana-sini yang efeknya tidak lebih baik, demonstrasi, dan perlawanan kerap menimbulkan korban fisik maupun psikologis.

Perlu solusi kreatif dan visioner untuk menuntaskan masalah PKL ini. Mereka (PKL) nyawa dari usaha mikro, mereka tidak merengek bantuan modal dari pemerintah ataupun perbankan, diintimidasi preman, tetap bayar uang retribusi yang entah masuk kantong siapa? Tetapi tetap survive, ulet berjuang untuk menghidupi keluarganya. PKL adalah pengusaha tangguh yang harus diperhatikan, dihargai dan dimanusiakan.

Pertama ganti istilah PKL menjadi Pedagang Kreatif Lapangan agar timbul kebanggaan bagi mereka sebagai pembisnis mandiri. Kedua, pemerintah lokal harus menciptakan klaster-klaster PKL dibeberapa titik, guna memberi kenyamanan berdagang dalam jangka waktu yang terukur. Selain itu, juga tercipta wisata rakyat yang lebih rapi, nyaman sehingga bisa menambah retribusi daerah atau PAD dari dinamika klaster tersebut.

Ketiga, dorong mereka membentuk asosiasi PKL agar lebih memiliki bargaining position terhadap preman, pemerintah, perbankan, swasta dan asosiasi lainnya. 

Keempat, dukung dan fasilitasi akses permodalan, peningkatan skill berwirausaha, pengembangan wawasan entrepreneurship dan training lainya, sehingga ke depannya diharapkan bisa menjadi wirausaha sejati yang bisa menciptakan lapangan kerja dan mendongkrak perekonomian lokal, bahkan nasional.

Terakhir, para pegiat ekonomi rakyat dan organisasi lainnya, sebaiknya juga menciptakan program terhadap PKL ini. Mereka komunitas yang patut diangkat harkat dan derajatnya. Redam demo PKL dengan karya nyata, program yang solutif dan jangka panjang untuk mendukung program pemerintah lokal menciptakan lingkungan yang tertib dan teratur. 

Penulis: Moh. Holil Ibnudin
Pelaku Usaha Roti Bakar Rangkasbitung
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar