KNPI Kota Serang Pertanyakan Kesiapan Tempat Relokasi PKL di Kepandean
0 menit baca
![]() |
| Mendukung Program 100 hari Syafrudin-Subadri, pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Stadion MY Ciceri ditertibkan. Mereka rencananya bakal di relokasi ke tempat yang telah ditentukan Pemkot Serang. |
Dikatakan Ilham, dirinya tidak mempersalahkan penertiban yang dilakukan Pemkot, namun soal kesiapannya sudah sejauh mana? Menurutnya, jangan sampai gara-gara kurang kesiapan dari Pemkot sehingga para PKL ini terganggu dalam berjualannya.
"Saya tidak mempermasalahkan penertibannya, saya apresiasi langkah Pemkot. Namun jangan sampai pula mata pencaharian mereka terputus, cuma gara-gara lahan yang disiapkannya disana (di Kepandean) belum siap, gitu loh," kata Boy sapaan akrab Ilham ini kepada bantenekspose.com di sekretariat DPD KNPI Kota Serang, Kamis (3/1/19).
Menurut Boy, sementara ini banyak para pedagang (PKL) yang menggantungkan keberlangsungan hidupnya dari hasil jualan, bahkan ada juga yang membiayai sekolah anaknya dari lahan yang mereka (PKL) telah bangun selama ini, seperti berjualan kuliner, minuman dan sebagainya. Maka jika Pemkot tidak memberikan solusi tepat, tentu akan menghambat bagi nasib masyarakatnya sendiri.
"Saya paham betul kehidupan mereka (para PKL), mereka ada yang menafkahi keluarganya dari hasil jualan, menyekolahkan anaknya dari hasil jualan. Ketika sehari saja tidak jualan mereka bingung mau ngasih jajan anaknya. Wong saya tiap hari selalu komunikasi sama mereka," ujarnya.
Boy menuturkan, sebetulnya hanya sebagian saja yang membuat ulah di kawasan stadion ini, yaitu mereka yang berjualan dengan tidak ada batasannya. Sehingga mengganggu terhadap kenyamanan dan fasilitas publik.
"Ini tidak menjustifikasi, tapi memang faktanya begitu," imbuhnya.
Kendati demikian, ketua KNPI ini menyarankan, silahkan saja area stadion ditertibkan dan ditata rapih sebagaimana fungsinya. Namun alangkah baiknya warung kuliner atau minuman tetap ada, supaya di area tersebut kelihatan benar-benar hidup. Tapi memang harus dibatasi dengan peraturan yang bisa diterima oleh semua kalangan.
"Kan di daerah lain juga suka ada yang jualan tuh, tapi itu memang benar-benar ditata dan dibina. Jadi kelihatannya rapih gitu, misal di Bandung," tutup dia. (emde)
