Ulah Oknum Pungli, Plt Direktur RSDP: Kami Sangat Terpukul dan Kecewa
0 menit baca
BantenEkspose.com - Pelaksana tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit dr. Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang mengakui, bahwa dalam pelayanan yang dilakukan selama penanganan korban bencana tsunami Selat Sunda, pihaknya melibatkan semua unsur yang ada di RSDP, baik itu dokter spesialis, dokter, perawat maupun unsur yang lainnya.
Dikatakan Sri, pihaknya telah bekerja secara optimal dan berupaya keras untuk melakukan sebaik mungkin. Dan itu memang betul-betul dilakukan tanpa pamrih dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
"Kami terus terang saja, memang sangat menyayangkan. Kami sendiri dari jajaran RSDP tentunya sangat terpukul dengan kejadian ini, sangat sedih dan sangat hancur buat kami dalam kasus ini," ungkap Sri saat jumpa pers di Aula Press Room Mapolda Banten, Sabtu malam (29/12/18).
"Dan itu sudah kami lakukan dan instruksikan kepada semua jajaran yang ada di RSDP," katanya.
Demikian juga, tambah Sri, Bupati Serang telah berulang kali menginstruksikan tentang hal itu. Kendati demikian, atas kejadian tersebut pihaknya merasa terpukul dan ternodai dedikasinya yang selama ini sudah melakukan bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).
"Oleh karena itu, sekali lagi kami sangat kecewa dan sangat terpukul dengan kejadian ini, yang telah menodai dedikasi kami. Upaya kami yang sudah all out semua energi, semua SDM yang ada di RSDP melakukan upaya-upaya penanggulangan sesuai dengan bidang kesehatan yang memang tugas pokok dan fungsi kami," jelasnya.
Sri menegaskan, bagaimana pun kepolisian perlu menindaklanjuti kasus ini dan perlu penulusuran lebih detail. "Terima kasih kepada pihak Polda, dan Polres Serang Kota yang sudah melakukan upaya keras dalam rangka pemberantasan korupsi, dalam hal ini pungli yang terjadi di jajaran RSDP," ucapnya.
Sri menambahkan, memang di RSDP dalam musibah tsunami yang terjadi di Kabupaten Serang dan Pandeglang, pihaknya telah melakukan pelayanan terhadap 126 orang di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
"Dari 26 orang dilakukan tindakan operasi, kemudian untuk jenazah ada 36 yang dilayani, sementara 3 orang meninggal dunia. Sedangkan, 33 orang mendapatkan kiriman jenazah dari lokasi bencana," pungkas Sri. (emde)
Dikatakan Sri, pihaknya telah bekerja secara optimal dan berupaya keras untuk melakukan sebaik mungkin. Dan itu memang betul-betul dilakukan tanpa pamrih dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
"Kami terus terang saja, memang sangat menyayangkan. Kami sendiri dari jajaran RSDP tentunya sangat terpukul dengan kejadian ini, sangat sedih dan sangat hancur buat kami dalam kasus ini," ungkap Sri saat jumpa pers di Aula Press Room Mapolda Banten, Sabtu malam (29/12/18).
Sri menjelaskan, berdasarkan SOP (standar operasional prosedur) dan peraturan perundang-undangan yang ada di jajaran kesehatan sudah jelas, bahwa manakala ada kejadian KLB ( kejadian luar biasa) salah satunya adalah bencana, tidak boleh dipungut biaya sepeser pun terhadap korban.
"Dan itu sudah kami lakukan dan instruksikan kepada semua jajaran yang ada di RSDP," katanya.
Demikian juga, tambah Sri, Bupati Serang telah berulang kali menginstruksikan tentang hal itu. Kendati demikian, atas kejadian tersebut pihaknya merasa terpukul dan ternodai dedikasinya yang selama ini sudah melakukan bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).
"Oleh karena itu, sekali lagi kami sangat kecewa dan sangat terpukul dengan kejadian ini, yang telah menodai dedikasi kami. Upaya kami yang sudah all out semua energi, semua SDM yang ada di RSDP melakukan upaya-upaya penanggulangan sesuai dengan bidang kesehatan yang memang tugas pokok dan fungsi kami," jelasnya.
Sri menegaskan, bagaimana pun kepolisian perlu menindaklanjuti kasus ini dan perlu penulusuran lebih detail. "Terima kasih kepada pihak Polda, dan Polres Serang Kota yang sudah melakukan upaya keras dalam rangka pemberantasan korupsi, dalam hal ini pungli yang terjadi di jajaran RSDP," ucapnya.
Sri menambahkan, memang di RSDP dalam musibah tsunami yang terjadi di Kabupaten Serang dan Pandeglang, pihaknya telah melakukan pelayanan terhadap 126 orang di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
"Dari 26 orang dilakukan tindakan operasi, kemudian untuk jenazah ada 36 yang dilayani, sementara 3 orang meninggal dunia. Sedangkan, 33 orang mendapatkan kiriman jenazah dari lokasi bencana," pungkas Sri. (emde)
