Kunjungi Aceh, Menperin Angkat Potensi IKM Bordir Hingga Minyak Atsiri
0 menit baca

Bantenekspose.com
- Kementerian Perindustrian semakin memacu industri kecil dan menengah (IKM)
agar produksinya dapat mengangkat kearifan budaya lokal dan potensi sumber daya
alam setempat. Melalui upaya tersebut, diyakini mampu meningkatkan keunggulan
khas produk lokal dan nilai tambah bahan baku dalam negeri.
“Selama
ini IKM menjadi sektor andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk itu, kami terus berupaya mendongkrak daya saingnya,”" kata Menteri
Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi IKM Karya Indah Bordir di
Aceh Besar, Jumat (14/12).
Menperin
menjelaskan, pihaknya telah melakukan berbagai program strategis yang bertujuan
menjaga keberlangsungan usaha IKM nasional. Misalnya dengan memfasilitasi
ketersediaan bahan baku serta pelaksanaan program restrukturisasi mesin dan
peralatan.
“Guna
menggenjot produktivitas IKM bordir ini, kami akan bantu melalui pemberian alat
produksi dan kemudahan akses bahan baku seperti kulit,” tuturnya. Bahkan,
supaya bisa lebih kompetitif di pasar internasional, Kemenperin juga bakal
memfasilitasi pembinaan desain dan kemasan produk.
Pada
kesempatan itu, Airlangga memberikan apresiasi kepada Bank Indonesia (BI) yang
turut memberdayakan IKM bordir di Aceh, khususnya kelompok usaha Karya Indah
Bordir. “BI sudah mengajak ibu-ibu di sini jadi produktif dan membantu promosi
di luar negeri,” ungkapnya.
Untuk
itu, menurut Menperin, diperlukan langkah kolaborasi dan sinergi di antara
pemangku kepentingan dalam memajukan IKM nasional. ‘Melalui berbagai program
dan kegiatan, kita terus tingkatkan kapasitas IKM dengan potensi yang ada,”
ujarnya.
Langkah
tersebut sejalan dengan tekad Presiden Joko Widodo yang ingin gencar
membangkitkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di dalam negeri. Selain
itu menjadi wujud implementasi salah satu program prioritas pada Making
Indonesia 4.0.
“Di
Aceh, sektor IKM yang juga cukup potensial di antaranya penghasil olahan kopi,
makanan dan minuman, serta pengolahan minyak atsiri. Hampir tidak ada parfum
yang tanpa menggunakan minyak atsiri,” papar Airlangga.
Pada kunjungan tersebut, Menperin mengapresiasi sentra
kerajinan bordir yang dijalankan oleh 150 orang perajin yang mayoritas adalah
ibu rumah tangga. Salah satu pengusaha, yaitu pemilik Karya IndahBordir Ellia
Sari menyampaikan, kerajinan bordir yang diproduksi kelompoknya sudah merambah
pasar ekspor mulai ke Malaysia hingga Amerika Serikat.
“Keunikan
produk tas Aceh adalah pada proses pembuatannya yang dijahit manual.
Kami terus menekankan kepada pengrajin supaya menjaga kualitas agar terus
diterima konsumen dan produk kami dapat terus bersaing,” tandasnya. Ia juga
menyebutkan, IKM tas Aceh membutuhkan mesin finishing, tas, kemudahan akses
bahan baku dan tambahan tenaga kerja.
Karya
Indah Bordir memiliki kapasitas produksi sebanyak 1.000-2.000 buah per bulan
untuk berbagai produk, terdiri dari tas bordir Aceh, sarung bantal, dompet dan
sajadah. IKM ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 35 orang.
Dirjen
IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengemukakan, bordir Aceh telah menjadi
salah satu tombak perekonomian masyarakat setempat. “Bordir Aceh kini
mendominasi semua corak hiasan pada souvenir dan yang paling populer adalah
pada tas, sehingga dijulukilah tas Aceh,” ungkapnya. Ada banyak motif bordir
yang melekat pada souvenir mulai dari motif khas Gayo, Aceh Barat, Pucok
Reubong khas Aceh Besar serta corak Aceh Tenggara yang unik.
Kemenperin juga melaksanakan program
restrukturisasi mesin dan peralatan produksi IKM di tahun 2018 ini.“Seperti
tahun-tahun sebelumnya, banyak IKM yang menjadi peminat program ini,” ucapnya.
Jumlah IKM yang mendapatkan fasilitasi restrukturisasi yaitu sebanyak 111 IKM
dengan total nilai investasi mencapai Rp77,2 miliar dan total nilai potongan (reimburse)
mencapai Rp11,78 miliar. (red)