Ubrug Walantaka, Melestarikan Seni Budaya Ditengah Sarpras yang Minim
0 menit baca

Bantenekspose.com
- Banten memang kaya akan seni budaya, namun seiring dengan perkembangan
kekinian, ternyata banyak kesenian yang mulai terabaikan bahkan nyaris padam. Kemajuan
zaman yang begitu pesat, seolah menjadikan masyarakat lupa akan warisan
leluhurnya, yang harus dirawat dan dipertahankan.
Sebut
saja, salah satunya kesenian Ubrug. Kesenian ini berasal dari Jawa Barat dan dikembangkan
di Banten. Di Kota Serang, kesenian ubrug atau lebih dikenal dengan sebutan Debus ini dikembangkan
oleh seorang seniman bernama Ki Jari Getih sejak tahun 1964 di Desa Pasuluhan,
Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Ini adalah kesenian yang menjadi salah satu
ikon khas Kota Serang, Banten.
Ada banyak
hal yang menyebabkan seni Ubrug ini mulai tersingkir dan hampir padam digilas zaman.
Selain banyak masuknya budaya kesenian asing, juga disebabkan oleh faktor
ekonomi.
Seperti
yang dituturkan Sukur (45th) seniman ubrug di kampung Ciwuni, Rt.04/01,
Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Walantaka Kota Serang. Ia adalah putera ke-enam
(bungsu) dari Ki Jari Getih yang diwarisi kesenian Ubrug.
Sepeninggal Ki Jari Getih di usianya yang ke-105 tahun, seni ubrug sempat berjaya ditangan
Sukur. Namun sekira 5 tahun terakhir ini seni ubrug yang di kelola oleh Sukur
sudah jarang pentas.
“Sekarang
kesenian Ubrug sudah jarang yang nanggap, karena sekarang orang lebih memilih
hiburan organ tunggal ketimbang kesenian Ubrug,” ujar Sukur, kepada awak media.
Akan
tetapi, lanjut Sukur, kami tidak menyerah. Kami akan terus berlatih guna
melestarikan kesenian ubrug ini. Cuma masalahnya kami tidak punya tempat,
karena padepokan tempat berlatih kami sudah mau roboh, dan untuk membangunnya
lagi kami tidak punya anggaran.
Ditengah optimisme
menghidupkan dan melestarikan kesenian ubrug, Sukur sebagai pegiat seni
terkadang dilanda kebingungan, dalam mempertahankan kesenian Ubrug ini. Apalagi
kalau bukan sarana dan prasarana.
“Kondisi
kami saat ini tidak memungkinkan, bahkan padepokan ini tidak bisa terawat dan
nyaris roboh. Kami berharap pemerintah Kota Serang maupun Provinsi Banten, bisa
melihat dan membantu kesulitan kami. Agar dapat terus mengembangakan kebudayaan
asli Banten dan melestarikan kesenian Ubrug ini,” harapnya. (stn/red)