NEWS

KAMMI: 4 Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK, Kado Pahit Petani


Bantenekspose.com - Empat tahun kepemimpinan Jokowi-JK, mahasiswa Banten menilai kedaulatan pangan menjadi kado pahit bagi petani di Tanah Air. Hal itu dibuktikan dengan tingginya impor beras yang dilakukan pemerintah pada awal tahun 2018.

Demikian diungkapkan Imam Maulana, ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banten, saat memperingati 4 tahun kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla melalui aksi unjuk rasanya, di depan Alun-alun Timur Kota Serang, Jumat (19/10/18).

"Awal Tahun 2018 Pemerintah melakukan impor beras dari luar negeri sebanyak 2 Juta ton. hal ini lantaran para petani memasuki musim panen raya dibulan Maret dan April.  Sehingga mereka khawatir gabah tidak akan terserap pasar nasional. Selain itu impor garam, ini adalah bukti ketidakseriusan pemerintah meningkatkan kedaulatan pangan negara," tegasnya.

Dalam aksinya, mahasiswa Banten itu mengkritik beberapa keprihatinan masyarakat, diantaranya hutang negara, kedaulatan pangan, kedaulatan energi kedaulatan hukum, responsif tanggapan bencana dan kedaulatan tenaga kerja lokal. 

"Hutang negara yang semakin membengkak dengan jumlahnya sekitar 5000 Triliun. Itu sangat memprihatinkan. seperti yang disampaikan oleh pakar ekonomi Faizal Basri, penggunaaan hutang luar negeri, pemerintah banyak menggunakannya untuk belanja pegawai bukan untuk menggenjot infastruktur seperti yang dinarasinya," ujarnya.
Lebih ironisnya lagi, ujar Imam, Jokowi-JK tidak menepati janji-janji politik dimasa kampanyenya. Dimana saat itu mereka berjanji tidak akan menaikan harga dan mencabut subsidi BBM. 
"Semakin terus naiknya harga BBM serta kelangkaan BBM jenis Premium seringkali terjadi. Ini menibulkan dampak inflasi sehingga memberikan efek domino terhadap harga-harga bahan pokok," imbuhnya.

Lebih jauh, Ketua KAMMI Banten itu mengatakan, melalui Peraturan Presiden (Perpes) Nomor 20 Tahun 2018, tentang penggunaan tenaga kerja asing, hal ini jelas akan lebih mempermudah masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia.

"Padahal banyak tenaga kerja lokal yang membutuhkan lapangan kerja, walaupun pemerintah butuh tenaga kerja asing untuk menarik investasi dan tenaga ahli ke Indonesia. Namun, peraturan itu akan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar. Padahal, pemerintah mempunya PR untuk menekan angka pengangguran," kata dia. (Emde)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar