JNMI: Ayo Pemuda Bangkit Melawan Hoax, Sara dan Narkoba
0 menit baca
Bantenekspose.com - Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda ke - 90. Sumpah Pemuda merupakan spirit baru bagi bangsa Indonesia, bahwa Indonesia bisa merdeka, dan terbebas dari belenggu penjajah. Oleh karenanya, sebagai pemuda tidak boleh larut dalam romantisme sejarah, namun harus dapat mengaktualisasi esensi sumpah pemuda itu.
Ketua DPP Jaringan Nasional Mahasiswa Indonesia (JNMI), Septian menilai, banyak hal yang harus dipertahankan dalam memaknai sumpah pemuda saat ini, pertama adalah semangat kebersamaan dan kebhinekaan. Tentu pemuda indonesia harus sadar bahwa bangsa ini terbentuk dari berbagai suku dan agama.
“Maka dengan semangat kebersamaan kita bisa saling tolong menolong dan dihindarkan dari perpecahan sesama pemuda Indonesia,” katanya melalui press release yang diterima bantenekspose.com, Senin (29/10/18).
Kedua, lanjut dia, saat ini harus mempertahankan kepekaan dan kepedulian sosial, pemuda harus yakin bahwa dengan kepekaan sosial dapat merasakan saling membutuhkan satu sama lain, bangsa ini tidak mungkin berhasil dan sukses tanpa peran orang lain dalam mencapai kesuksesan yang inginkan (cita-cita).
“Dengan memiliki kepekaan sosial, maka kita akan memiliki kepedulian sosial,” imbuhnya.
Dikatakan Septian, ada beberapa hal yang harus dihindari oleh para pemuda dan seluruh masyarakat Indonesia yaitu menyebarkan berita hoax, menjadikan Sara untuk kepantingan politik, dan narkoba.
“Ada beberapa realita yang harus kita kikis dengan semangat pemuda, diantara realita yang masih ada di kalangan pemuda ialah isu Sara untuk kepentingan politik ditengah momentum Pemilu saat Ini, menyebarkan berita-berita hoax yang bisa menimbulkan konflik horizontal, hal ini harus kita kikis dengan semangat persatuan,” ujarnya.
Selain itu, Ajid Letno menambahkan, penurunan produktifitas dimana pemuda Indonesia banyak yang masa produktifnya diganggu dengan berbagai macam hal seperti penyalahgunaan narkoba, menurunnya perilaku positif serta menghabiskan masa muda dengan hal yang tidak produktif.
“Sejatinya cara kita merayakan sumpah pemuda dengan tidak sekadar larut dalam romantisme sejarah, melainkan melakukan perenungan seraya aktualisasi dan kontekstualisasi semangat dan kesadaran sejarah tersebut dalam konteks kerja, kerja, peradaban di era kekinian,” tukasnya. (Emde)
Ketua DPP Jaringan Nasional Mahasiswa Indonesia (JNMI), Septian menilai, banyak hal yang harus dipertahankan dalam memaknai sumpah pemuda saat ini, pertama adalah semangat kebersamaan dan kebhinekaan. Tentu pemuda indonesia harus sadar bahwa bangsa ini terbentuk dari berbagai suku dan agama.
“Maka dengan semangat kebersamaan kita bisa saling tolong menolong dan dihindarkan dari perpecahan sesama pemuda Indonesia,” katanya melalui press release yang diterima bantenekspose.com, Senin (29/10/18).
Kedua, lanjut dia, saat ini harus mempertahankan kepekaan dan kepedulian sosial, pemuda harus yakin bahwa dengan kepekaan sosial dapat merasakan saling membutuhkan satu sama lain, bangsa ini tidak mungkin berhasil dan sukses tanpa peran orang lain dalam mencapai kesuksesan yang inginkan (cita-cita).
“Dengan memiliki kepekaan sosial, maka kita akan memiliki kepedulian sosial,” imbuhnya.
Dikatakan Septian, ada beberapa hal yang harus dihindari oleh para pemuda dan seluruh masyarakat Indonesia yaitu menyebarkan berita hoax, menjadikan Sara untuk kepantingan politik, dan narkoba.
“Ada beberapa realita yang harus kita kikis dengan semangat pemuda, diantara realita yang masih ada di kalangan pemuda ialah isu Sara untuk kepentingan politik ditengah momentum Pemilu saat Ini, menyebarkan berita-berita hoax yang bisa menimbulkan konflik horizontal, hal ini harus kita kikis dengan semangat persatuan,” ujarnya.
Selain itu, Ajid Letno menambahkan, penurunan produktifitas dimana pemuda Indonesia banyak yang masa produktifnya diganggu dengan berbagai macam hal seperti penyalahgunaan narkoba, menurunnya perilaku positif serta menghabiskan masa muda dengan hal yang tidak produktif.
“Sejatinya cara kita merayakan sumpah pemuda dengan tidak sekadar larut dalam romantisme sejarah, melainkan melakukan perenungan seraya aktualisasi dan kontekstualisasi semangat dan kesadaran sejarah tersebut dalam konteks kerja, kerja, peradaban di era kekinian,” tukasnya. (Emde)
