A. Saepi Sobur: Gerakan Sekolah Menyenangkan Harus Matang
0 menit baca

Bantenekspose.com - Membangun dan memajukan pendidikan
memerlukan kerja sama dan keterlibatan berbagai elemen yang sinergis. Dewan
Pendidikan sangat mendukung adanya gerakan sekolah menyenangkan yang digulirkan Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, dan telah digelar deklarasi gerakan
sekolah menyenangkan, Selasa pekan lalu di lapangan Maulana Yuda Negara
Tigaraksa.
"Dewan pendidikan menyambut baik dan mendukung program
sekolah menyenangkan yang dicanangkan dinas pendidikan," ujar A Saepi
Sobur,anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Tangerang.
Dewan pendidikan, tutur Sobur, memberikan masukan bahwa
program tersebut (gerakan sekolah
menyenangkan-red), terlebih dahulu harus matang dalam konsep dan implementasi
di lapangan. "Harus ada sinergitas dari stakeholder, para pemangku
kebijakan dan pihak lainnya sehingga program akan berjalan sesuai kebutuhan
masyarakat.
Ada keraguan dan pertanyaan besar bagi Sobur, sudahkah Dinas
Pendidikan mempersiapkan sarana yang dibutuhkan dalam implementasi sekolah
menyenangkan yang dimaksud. Semestinya, ada sekolah baik sekolah negeri atau
sekolah swasta, yang dijadikan percontohan seperti usulan dewan pendidikan.
"Tidak serta merta menggelar deklarasi tanpa arah yang jelas," tegas
Sobur.
Sementara itu, diperoleh kabar pasca munculnya komentar
Kepala SD Negeri Palahlar dan Kepala SD Negeri Sukamulya 1 Cikupa jajaran Dinas
Pendidikan bersikap reaktif dengan langsung mengunjungi ke dua sekolah itu.
"Kemarin (senin,22/10) datang kepala dinas pendidikan
bersama sekretaris dinas pendidikan kabupaten Tangerang terkait pemberitaan di
Banten Ekspose," ujar sumber yang meminta identitasnya tidak dituliskan
via telepon kepada Banten Ekspose.
Secara pribadi,dituturkan Sobur,sangat sependapat dengan pernyataan dua orang Kepala SD yang dipublish sabtu lalu. "Tidak benar kalau pimpinan tidak siap menerima kritik," katanya.
Seorang pemimpin,diungkapkan Sobur,harus berjiwa besar,mau
menerima saran dan kritikan dari mitra kerja meskipun itu dirasa pahit.
"Selama itu kritikan membangun kenapa mesti marah," imbuhnya.
(Rudiat)