Tujuh Kali Ganti Presiden, FAM Untirta Sebut Kejahatan HAM Diabaikan
0 menit baca
Bantenekspose.com - Front Aksi Mahasiswa (FAM) Untirta Banten kembali menuntut pemerintah, agar segera menyelesaikan kasus kejahatan hak azasi manusia (HAM), yang pernah terjadi di negeri ini, seperti kasus Munir dan tragedi Tanjung Priok, Semanggi 2 dan G30S/PKI.
Hal itu disuarakan para mahasiswa, melalui kegiatan aksi unjuk rasa, di depan alun-alun Kota Serang, Jum'at (14/9/18). Sebelumnya, mereka melakukan longmarch dari kampus Untirta menuju titik aksi.
Koordinator lapangan (Korlap) aksi, Panji mengatakan, black september atau bulan september ini adalah bulan kelam, yang memberikan ingat-ingatan (sejarah) buruk bagi rakyat di Tanah Air. Menurutnya, keluarga, kerabat dan orang-orang terdekat korban hingga saat ini masih mencari kebenaran kasus tersebut.
"Kasus yang terjadi sampai sekarang hanya menjadi sebuah peringatan, tanpa ada ujung kejelasan," kata pria itu dalam orasinya.
Panji menegaskan, dari beberapa kasus tersebut, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab. Maka, sudah sepatutnya kejahatan-kejahatan terhadap HAM itu dihapuskan.
"Harus berapa september lagi? Agar kita mendapatkan kejelasan dan keadilan atas kasus-kasus yang ada didalamnya," tegasnya.
Sementara itu, presidium FAM Untirta, Aldi mengungkapkan, republik ini sudah tujuh kali berganti presiden. Namun, belum ada satu pun yang berani mengusut kasus-kasus kejahatan tersebut, yang konon negeri ini selalu mengedepankan atas azas kemanusiaan.
"Tujuh kali ganti presiden, kejahatan HAM belum terungkap. Kami tidak akan diam, kami akan terus mempropagandakan kasus-kasus ini kepada publik dan akan terus memberikan penyadaran kepada masyarakat luas," pungkasnya.(Emde)
Hal itu disuarakan para mahasiswa, melalui kegiatan aksi unjuk rasa, di depan alun-alun Kota Serang, Jum'at (14/9/18). Sebelumnya, mereka melakukan longmarch dari kampus Untirta menuju titik aksi.
Koordinator lapangan (Korlap) aksi, Panji mengatakan, black september atau bulan september ini adalah bulan kelam, yang memberikan ingat-ingatan (sejarah) buruk bagi rakyat di Tanah Air. Menurutnya, keluarga, kerabat dan orang-orang terdekat korban hingga saat ini masih mencari kebenaran kasus tersebut.
"Kasus yang terjadi sampai sekarang hanya menjadi sebuah peringatan, tanpa ada ujung kejelasan," kata pria itu dalam orasinya.
Panji menegaskan, dari beberapa kasus tersebut, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab. Maka, sudah sepatutnya kejahatan-kejahatan terhadap HAM itu dihapuskan.
"Harus berapa september lagi? Agar kita mendapatkan kejelasan dan keadilan atas kasus-kasus yang ada didalamnya," tegasnya.
Sementara itu, presidium FAM Untirta, Aldi mengungkapkan, republik ini sudah tujuh kali berganti presiden. Namun, belum ada satu pun yang berani mengusut kasus-kasus kejahatan tersebut, yang konon negeri ini selalu mengedepankan atas azas kemanusiaan.
"Tujuh kali ganti presiden, kejahatan HAM belum terungkap. Kami tidak akan diam, kami akan terus mempropagandakan kasus-kasus ini kepada publik dan akan terus memberikan penyadaran kepada masyarakat luas," pungkasnya.(Emde)
