Potret Pendidikan Madrasah di Lebak. Beratap Rumbia Berlantai Tanah, Masihkah Pemerintah Cuek?
0 menit baca

Bantenekspose.com - Memiliki gedung sekolah yang layak, sepertinya
hanya sebuah harapan bagi siswa dan guru dari Sekolah Madrasah Aliyah (MA)
Cikareo, Desa Cikareo, Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak-Banten. Pasalnya
sekolah tersebut hanya beratapkan sebagian asbes dan rumbia, berdindingkan
bambu, dan berlantaikan tanah.
Meski memiliki kondisi gedung yang tidak seperti sekolah
lain, tidak dijadikan alasan bagi para siswa sekolah MA Cikareo untuk malas
dalam belajar di sekolah, mereka tetap datang ke sekolah dengan seragam putih
abunya. Boleh jadi, mereka memang tidak punya pilihan sekolah lainnya, karena
sekolah negeri yang terdekat berjarak sekitar 12 kilometer dari kampung
tersebut.
Sapri, Guru Aliyah Cikareo mengatakan, Sekolah berdiri sejak
tahun 2011 dengan menumpang di gedung SD selama 2 tahun. Setelah dari SD, kemudian
menumpang kembali di SMP selama 1 tahun.
Pada tahun 2014 para dewan guru berinisiatif membangun sekolah meski kondisi bangunan hanya alakadaranya, kursi dan meja pun hanya terbuat dari kayu yang berkualitas rendah. Pembangunan tersebut dibantu masyarakat sekitar dengan cara gotongroyong dan swadaya.
"Sekolah Aliyah Cikareo berdiri sudah 7 tahun. Kita dirikan lantaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan, karena
jaraknya sangat jauh sekitar 12 Km dari SMA Negeri 1 Cigemblong. Kalau gak
mendirikan sekolah maka masyarakat disana kebanyakan akan menjadi pengangguran
nantinya, dan saat ini sekolah kami memang masih nginduk," ujar Sapri, saat disambangi awak media.
Sapri juga menjelaskan, sempat mengajukan beberapa kali
kepada pihak yayasan Mathla'ul Anwar yang menjadi induk sekolahnya, namun
sampai saat ini belum pernah ada bantuan turun. Kemudian, mengajukan kepada
pihak Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lebak pun sudah sempat dilakukan, namun
sampai kini belum ada titik terang yang muncul.
Dengan keterbatasan yang ada, Sapri selaku guru tetap
bersyukur, meski kondisi fisik sekolah MA Cikareo tidak layak, tetapi tidak
pernah muncul keluhan dari para siswa.
"Saat hujan tak jarang kondisi atap sekolah bocor,
sehingga lantai tanah itu banjir. Saya paling sedih ketik musim hujan, pada
waktu itu buku-buku saja basah semuanya. Disitu saya dan dewan guru yang lain
pernah mengeluh dan bingung harus kemana harus melangkah intinya mah.
Namu kesedihan itu sekan hilang sesaat, tatkala melihat para siswa tetap
datang ke sekolah meski kondisinya hujan," ucapnya.
Selain itu Sapri mengungkapkan, ketika ajaran baru akan
dimulai ia dan dewan guru serta para siswa biasanya membenahi dinding sekolah
dengan bambu yang dibuat seperti pelupuh lantai, dan mengganti atap yang bocor
dengan atap rumbia kembali.
"Jadi Ketika ajaran baru anak murid dan dewan guru
membenahi dinding pake bambu yang dibelah-belah kalau orang lain mah biasa
dipakai untuk lantai, dan atap sekolah kita ganti paling dengan hateup yang
baru. Soalnya kalau kita pake dana BOS untuk rehab itu gak cuku, paling hanya
cukup untuk membiayai gajih guru," ungkapnya.
Ia juga membeberkan, untuk upah guru mengajar di sekolah
tersebut paling tinggi hanya dikisaran Rp 300 ribu per-bulan. Hal itu pun
dianggarkan sesuai dengan jam mengajar. "Upah dari mengajar paling besar
hanya Rp 300 ribu per-bulan. Kadang ada saja temen saya yang dapat 20rb. Saya
berharap kedepan sekolah tempatnya saya mengajar akan ada perubahan dan dapat
dibangun," papar Sapri dengan tersenyum bercampur sedih.
Penulis: Sofi Mahalali
