Kumala Pw.Serang: Sayangkan Tindakan Provokatif di Tempat Ibadah
0 menit baca
Bantenekspose.com - Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA) Perwakilan Serang, meyanyangkan dengan adanya tudingan Islam Nusantara bukan Islam sebenarnya, yang dimuat di buletin dakwah dan disebarkan di sebuah mesjid di wilayah Kota Serang, Jum'at kemarin (3/8).
Pengamatan Ridwan Anggara, akhir-akhir ini isu agama semakin sering dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, pihaknya mendorong kepada pemerintah, dalam hal ini kepolisian untuk hadir dalam menyikapi persoalan tersebut.
"Buletin yang telah menyebar, sudah mungkin dibaca oleh masyarakat, dan dikhawatirkan akan ada yang terprovokasi," kata ketua Kumala Perwakilan Serang itu, saat dihubungi wartawan bantenekspose.com melalui pesan wahatsAap, Ahad (5/8/18).
Ridwan menjelaskan, jika melihat kebelakang, Nusantara dahulu menjadi tanah yang dikuasai beberapa kerajaan, walaupun notabene beragama hindu, banyak ahli sejarah melakukan penelitian pada jaman itu. Kemudian, islam secara perlahan mulai masuk ke peradaban Nusantara melalui jalur perdagangan yang memang pada saat itu aktvitas pasar internasional sangat aktif melewati jalur laut di Nusantara.
Sehingga, sambung Ridwan, yang berdagang tersebut membawa agamanya lalu ada juga yang menikah dengan masyarakat pribumi. Karena sejatinya, budaya dan agama tidak bisa dipisahkan. Budaya adalah sebagai indentitas kelompok yang berkumpul dalam satu wilayah dan membentuk lingkungan sosial.
"Dan setiap negara mempunyai budaya yang berbeda-beda dalam menjalankan ajaran agama islam, di Indonesia sendiri ada islam nusantara sebagai identitas keislamannya," ujar pria itu.
Selain itu, dirinya menyinggung dengan adanya indikasi pengusungan capres terhadap salah satu tokoh politik di Indonesia yang dikemas melalui isu agama.
"Isu agama memang telah menjadi tameng kebisingan politik di Indonesia. Ini yang harus kita hindari, indonesia adalah bangsa yang pluralisme yang harus saling mengormati disetiap perbedaan dan semua masyarakat punya hak secara konstituasional," imbuhnya.
Kendati demikian, Ridwan mengajak, sebagai bangsa yang besar dengan keanekaragaman budaya, suku, ras dan agama (Sara), agar bisa saling menghargai, menghormati dan bertoleransi untuk menciptakan iklim yang baik dalam bernegara.
"Untuk para kolompok militansi keagamaaan di masyarakat untuk dapat menghargai perbedaaan. Jangan saling menyalahkan agama atau ajaran yang di anut oleh setiap kelompok masyarakat itu," paparnya. (Emde)
Pengamatan Ridwan Anggara, akhir-akhir ini isu agama semakin sering dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, pihaknya mendorong kepada pemerintah, dalam hal ini kepolisian untuk hadir dalam menyikapi persoalan tersebut.
"Buletin yang telah menyebar, sudah mungkin dibaca oleh masyarakat, dan dikhawatirkan akan ada yang terprovokasi," kata ketua Kumala Perwakilan Serang itu, saat dihubungi wartawan bantenekspose.com melalui pesan wahatsAap, Ahad (5/8/18).
Ridwan menjelaskan, jika melihat kebelakang, Nusantara dahulu menjadi tanah yang dikuasai beberapa kerajaan, walaupun notabene beragama hindu, banyak ahli sejarah melakukan penelitian pada jaman itu. Kemudian, islam secara perlahan mulai masuk ke peradaban Nusantara melalui jalur perdagangan yang memang pada saat itu aktvitas pasar internasional sangat aktif melewati jalur laut di Nusantara.
Sehingga, sambung Ridwan, yang berdagang tersebut membawa agamanya lalu ada juga yang menikah dengan masyarakat pribumi. Karena sejatinya, budaya dan agama tidak bisa dipisahkan. Budaya adalah sebagai indentitas kelompok yang berkumpul dalam satu wilayah dan membentuk lingkungan sosial.
"Dan setiap negara mempunyai budaya yang berbeda-beda dalam menjalankan ajaran agama islam, di Indonesia sendiri ada islam nusantara sebagai identitas keislamannya," ujar pria itu.
Selain itu, dirinya menyinggung dengan adanya indikasi pengusungan capres terhadap salah satu tokoh politik di Indonesia yang dikemas melalui isu agama.
"Isu agama memang telah menjadi tameng kebisingan politik di Indonesia. Ini yang harus kita hindari, indonesia adalah bangsa yang pluralisme yang harus saling mengormati disetiap perbedaan dan semua masyarakat punya hak secara konstituasional," imbuhnya.
Kendati demikian, Ridwan mengajak, sebagai bangsa yang besar dengan keanekaragaman budaya, suku, ras dan agama (Sara), agar bisa saling menghargai, menghormati dan bertoleransi untuk menciptakan iklim yang baik dalam bernegara.
"Untuk para kolompok militansi keagamaaan di masyarakat untuk dapat menghargai perbedaaan. Jangan saling menyalahkan agama atau ajaran yang di anut oleh setiap kelompok masyarakat itu," paparnya. (Emde)
