Menperin: Industri Kimia Berperan Mengurangi Defisit Anggaran
0 menit baca

Bantenekspose.com
- Industri
kimia seperti penghasil amonium nitrat berperan penting untuk mengurangi
defisit neraca perdagangan. Pasalnya, industri tersebut mampu mensubstitusi
impor karena kapasitas produksinya sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar
domestik.
Hal
tersebut dikatakan Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto melalui
siaran persnya. “Kami dorong domestic market lebih optimal, dan terus digenjot
untuk ekspor," ujar Menperin, Ahad (8/7/2018).
Kementerian
Perindustrian (Kemenperin), lanjut dia, aktif memacu pengembangan sektor-sektor
industri yang berpotensi untuk meningkatkan nilai ekspor nasional.
"Pemerintah telah menyusun solusi jangka menengah dan panjang, yakni
melalui substitusi impor dan investasi, sedangkan jangka pendeknya seperti
pembatasan impor amonium nitrat, karena industri di dalam negeri sudah mampu
mencukupi," jelas Menperin.
Menteri
Airlangga juga mengungkapkan, kluster industri kimia di Bontang masih memiliki
potensi besar untuk pengembangan produk hilir seperti dimetil eter yang
dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar pengganti LPG, pupuk majemuk
berbasis amonium nitrat, soda ash, dan pupuk amonium klorida.
Selain
itu, wilayah Kalimantan Timur juga memiliki prospek untuk pengembangan
perkebunan sawit sebagai sumber bahan baku bagi kluster industri berbasis
oleokimia sebagai solusi dari menurunnya harga sawit yang cukup signifikan
akhir-akhir ini sehingga dapat mengatasi defisit neraca perdagangan.
"Kemampuan
pengembangan tersebut dapat diwujudkan dengan jaminan pasokan gas bumi untuk
domestik, kebijakan kuota impor untuk produk unggulan tertentu serta sinergi
dengan pengembangan riset teknologi," paparnya.
Kemenperin
mencatat, kebutuhan gas bumi untuk industri yang beroperasi di Bontang mencapai
452 MMSCFD atau sekitar 59% dari penggunaan gas bumi domestik di wilayah
Kalimantan Timur. Hal ini perlu menjadi perhatian yang besar terhadap jaminan
pasokan gas bumi jangka panjang dengan harga yang wajar.
"Sehingga
bisa menjaga kelangsungan seluruh aktivitas industri tersebut agar dapat lebih
berkembang dengan struktur yang kokoh dan berkelanjutan," kata Dirjen
Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono.
Namun
demikian, saat ini sekitar 804 MMSCFD gas bumi dari wilayah Kalimantan Timur
masih diekspor ke luar negeri. Melihat kondisi tersebut dan memperhatikan
pasokan gas alam yang cenderung terus menurun, Kemenperin memandang perlu
pemanfaatan gas bumi yang diutamakan kepada industri di dalam negeri.
"Jadi,
perlu menjaga agar tidak ada perpanjangan pasokan untuk kontrak penjualan gas
bumi ke luar negeri. Dengan demikian, pasokan gas yang ada di Kalimantan Timur
dapat diprioritaskan kepada kebutuhan domestik terutama kelangsungan industri
petrokimia di Bontang," tegas Sigit.(sn/red)
