Seniman Banten Gelar Rampak Puisi Ramadan
0 menit baca
Bantenekspose.com - Puluhan seniman di Bumi Jawara menggelar rampak puisi (ramadhan pest), Rabu (23/5). Tujuan dari kegiatan yaitu ajang silaturahmi antara para penggiat seniman dan kebudayaan, selain itu juga agar dapat memaknai karya-karya puisi di bulan suci ramadhan ini.
"Supaya lebih mengapresiasi karya puisi di bulan ramadhan ini. Jadi puisi ini bukan hanya tempelan saja, tetapi bisa memasyarakat," kata Jafra, ketua pelaksana kegiatan juga seniman Banten, kepada wartawan Bantenekspose.com, di Citra Land Puri, Kota Serang.
Apalagi menjelang momen hari raya idul fitri (lebaran), kata dia, hampir semua orang tiba-tiba menjadi penyair, semua orang menyusun kata-kata untuk menyampaikan permohonan maaf dengan memakai bahasa puitis. Artinya, masyarakat Indonesia khususnya Banten dari jaman dahulu kala, sudah akrab sekali dengan bahasa-bahasa sastra.
"Cuma, adakah orang-orang sastra yang juga mau ikut mengakomodir hal-hal semacam itu, untuk dijadikan gerakan sastra, karena sastra bukan hanya milik seseorang tapi milik semua orang (bersama)," ungkapnya.
Ia memaparkan, pada zaman modern saat ini hampir semua orang menggunakan bahasa sastra tersebut, bahkan hampir rata-rata di tanah air setiap ada momentum peringatan hari besar kenegaraan maupun kegamaan, seperti peringatan 17 Agustus diadakan lomba baca puisi, termasuk di bulan ramadhan juga.
"Artinya peminat sastra pembaca puisi banyak sekali, dengan melihat masyarakat yang mau ikut merayakan atau membesarkan sastra," ucapnya.
Selain itu, Alit Prakarsa, peserta ramadhan pest mengatakan, bagi dirinya kegiatan ini sangat menarik, karena bagian dari format baru untuk meramaikan semarak ramadhan. Menurutnya, penghayatan untuk mendekatkan diri kepada sang maha pencipta itu tak cukup hanya yang berbau religi saja. Namun, dengan cara membaca puisi pun salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.
"Kita juga bisa turut serta meramaikan puisi, disamping itu kita juga bisa menyalurkan hobi kita," ujarnya.
Ia berharap, agar para seniman di Banten terus menggali, mengeksplorasi kreatifitasnya, sehingga bisa menunjukkan hasil karyanya. Dan yang pasti yaitu membutuhkan suatu wadah untuk menjaga kekompakan yang solid guna merangkul semua kebudayaan yang ada di Banten baik yang sifatnya tradisi maupun kontemporer.
"Selama ini, kita membutuhkan itu. Kepada pemerintah Provinsi Banten dan dewan kesenian harus lebih semangat lagi dalam menggali potensi-potensi kebudayaan kita," pungkasnya. (Emde)
"Supaya lebih mengapresiasi karya puisi di bulan ramadhan ini. Jadi puisi ini bukan hanya tempelan saja, tetapi bisa memasyarakat," kata Jafra, ketua pelaksana kegiatan juga seniman Banten, kepada wartawan Bantenekspose.com, di Citra Land Puri, Kota Serang.
Apalagi menjelang momen hari raya idul fitri (lebaran), kata dia, hampir semua orang tiba-tiba menjadi penyair, semua orang menyusun kata-kata untuk menyampaikan permohonan maaf dengan memakai bahasa puitis. Artinya, masyarakat Indonesia khususnya Banten dari jaman dahulu kala, sudah akrab sekali dengan bahasa-bahasa sastra.
"Cuma, adakah orang-orang sastra yang juga mau ikut mengakomodir hal-hal semacam itu, untuk dijadikan gerakan sastra, karena sastra bukan hanya milik seseorang tapi milik semua orang (bersama)," ungkapnya.
Ia memaparkan, pada zaman modern saat ini hampir semua orang menggunakan bahasa sastra tersebut, bahkan hampir rata-rata di tanah air setiap ada momentum peringatan hari besar kenegaraan maupun kegamaan, seperti peringatan 17 Agustus diadakan lomba baca puisi, termasuk di bulan ramadhan juga.
"Artinya peminat sastra pembaca puisi banyak sekali, dengan melihat masyarakat yang mau ikut merayakan atau membesarkan sastra," ucapnya.
Ia berharap, puisi (sastra) dapat memasyarakat, puisi bukan hanya rangkaian kata-kata, cuma bagaimana memaknai kata-kata itu sendiri, kemudian pada bulan ini puisi harus dapat mewarnai bulan suci ramadhan yang penuh berkah ini."Keren rasanya apabila di Banten sebagai kota santri puisi itu dinadzom-kan, karena tujuan dari puisi itu adalah sebuah ajakan untuk kebaikan," ujarnya.
Selain itu, Alit Prakarsa, peserta ramadhan pest mengatakan, bagi dirinya kegiatan ini sangat menarik, karena bagian dari format baru untuk meramaikan semarak ramadhan. Menurutnya, penghayatan untuk mendekatkan diri kepada sang maha pencipta itu tak cukup hanya yang berbau religi saja. Namun, dengan cara membaca puisi pun salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.
"Kita juga bisa turut serta meramaikan puisi, disamping itu kita juga bisa menyalurkan hobi kita," ujarnya.
Ia berharap, agar para seniman di Banten terus menggali, mengeksplorasi kreatifitasnya, sehingga bisa menunjukkan hasil karyanya. Dan yang pasti yaitu membutuhkan suatu wadah untuk menjaga kekompakan yang solid guna merangkul semua kebudayaan yang ada di Banten baik yang sifatnya tradisi maupun kontemporer.
"Selama ini, kita membutuhkan itu. Kepada pemerintah Provinsi Banten dan dewan kesenian harus lebih semangat lagi dalam menggali potensi-potensi kebudayaan kita," pungkasnya. (Emde)
