Bahrul Ulum, Terlahir dari Keluarga Petani dan Pedagang Ingin Jembatani Masyarakat
0 menit baca
Bantenekspose.com -
Cerita seorang anak petani dan pedagang yang memiliki impian (cita-cita) yang
mulia, yaitu ingin menjembatani masyarakatnya untuk menyampaikan aspirasi,
harapan, dan cita-cita dalam pembangunan di wilayahnya sendiri.
Keinginan itu muncul dari sosok pria bernama Bahrul Ulum
kelahiran tahun 1976. Pria terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai
pedagang (wirausaha), dan ayah (mama) - nya seorang petani. Semasa kecil ia
telah terbiasa hidup penuh kesederhanaan, karena dimasa itu kondisi kehidupan
keluarganya yang kurang mampu alias berada dibawah garis kemiskinan. Namun
dengan semangat yang kuat, tekad, dan penuh keoptimisan, akhirnya pria itu bisa
merubah nasib hidupnya secara perlahan.
Saat ini pria itu, aktivitas kesehariannya sebagai tenaga
ahli fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Banten. Juga mendapatkan amanah yang
kedua kalinya (dua periode) sebagai sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi
Banten dari tahun 2009 hingga sekarang.
Pria yang satu ini, memang bisa dibilang cukup berpengalaman
di bidang organisasi partai politik, ia mengisi struktur kepengurusan partai
berlambang pohon beringin saja dari tahun 1997. Diawali dari pengurus kecamatan
sebagai wakil sekretaris.
Bagi pria itu, puncak karir dari seorang politisi dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu legislatif dan eksekutif. Salah satu yang
dinilai berpotensi atau peluang besar (kesempatan) untuk meraih impiannya
adalah didunia politik legislatif.
Tak hanya itu, karir seorang politisi legislatif juga bisa
menjembatani terhadap masyarakat untuk menyampaikan keluh kesah yang
dirasakannya (aspirasi), harapan, dan cita-cita pembangunan daerah Kabupaten
Serang.
"Saya ingin menjembatani masyarakat, untuk menyampaikan yang menjadi aspirasi, harapan, dan cita-cita pembangunan di wilayahnya," kata Bahrul Ulum, pria lulusan dari perguruan tinggi STAIN SMHB tahun 2000 sekarang UIN SMH Banten, saat berbincang dengan Bantenekspose.com di Kota Serang, Jum'at (4/5/18).
Pada saat mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar (SD),
ia telah dilatih oleh orang tuanya, untuk belajar dari bercocok tanam,
berdagang. Memasuki, usia remaja saat ia duduk dibangku sekolah Madrasah
Tsanawiyah (MTs) hingga Madrasah Aliyah (MA) pria itu mengikuti kegiatan
kesiswaan (ekstrakulikuler) Pramuka. Di samping kesibukan menjalankan
kewajibannya sebagai seorang pelajar, pria itu pun diberikan tanggung jawab
oleh mamanya yaitu untuk mengurusi kerbau peliharaannya (Ngangon Kebo).
Memasuki usia saat ini, pria itu memiliki angan-angan
(cita-cita) yang mulia, karena ia terlahir dari seorang anak petani, pria itu memiliki sebuah
keinginan yaitu ingin menjadikan Kabupaten Serang sebagai basis (lumbung)
pertanian, khususnya yang ada di tujuh kecamatan, diantaranya Pontang, Lebak Wangi,
Tirtayasa, Tanara, Carenang. Walaupun saat ini di daerah tersebut status
petaninya berubah dari petani biasa (sesungguhnya) menjadi buruh tani. Karena
status kepemilikannya bukan pribumi asli, rata-rata pemiliknya dari luar daerah
Serang. Selain ia berkeinginan di daerah itu untuk dijadikan basis pertanian,
pria itu juga ingin memperjuangkan nasib seorang buruh tani dari sisi
kesejahteraannya.
Terlepas dari persoalan buruh tani, yang menjadi permasalahan di kawasan itu juga masalah saluran perairan (irigasi) yang kewenangannya bukan ada di pemkab Serang melainkan kewenangan pemerintah pusat. Lahan pertanian yang ada di tujuh kecamatan itu bisa dikatakan sebagai lahan tadah hujan. Petani yang seharusnya menanam atau memanen dua atau tiga kali dalam setahun, kalau saat ini belum bisa. Walaupun, sekarang sudah mulai ada perubahan sistem yaitu dua kali dalam setahun, itu pun masih belum efektif (belum rutin), karena masih ketergantungan dari penyaluran airnya itu sendiri.
Terlepas dari persoalan buruh tani, yang menjadi permasalahan di kawasan itu juga masalah saluran perairan (irigasi) yang kewenangannya bukan ada di pemkab Serang melainkan kewenangan pemerintah pusat. Lahan pertanian yang ada di tujuh kecamatan itu bisa dikatakan sebagai lahan tadah hujan. Petani yang seharusnya menanam atau memanen dua atau tiga kali dalam setahun, kalau saat ini belum bisa. Walaupun, sekarang sudah mulai ada perubahan sistem yaitu dua kali dalam setahun, itu pun masih belum efektif (belum rutin), karena masih ketergantungan dari penyaluran airnya itu sendiri.
"Ini yang harus diperjuangkan, karena selama ini
rata-rata satu tahun karena perairannya menunggu curah (musim) hujan. Walaupun
sekarang pemkab Serang telah melakukan upaya-upaya memberikan bantuan berupa
mesin air (pompanisasi dari sungai ke sawah)," ucap pria itu, yang saat ini sedang menempuh pendidikan
Pascasarjana (S2) di salah satu perguruan tinggi di Provinsi Banten.
Oleh karena itu, apabila sosok pria itu diberikan amanah
oleh rakyat dan mendapatkan ridho Allah SWT, ia akan berusaha mendorong atau
mengusulkan kepada pemerintah pusat agar saluran perairan (irigasi) yang ada di
daerah tersebut dapat diperbaiki (dimaksimalkan). Sehingga masa penanaman dan
panen juga bisa dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (Emde)

