Forum Pembauran Kebangsaan di Seba Baduy 2018
0 menit baca
Bantenekspose.com – Kota Rangkasbitung, Jum’at kemarin kedatangan
1.500 warga Baduy dalam dan Baduy luar. Mereka datang ke pusat kota
Rangkasbitung, dalam rangkaian acara adat tahunan Seba Baduy, bersilaturahmi
dengan kepala daerah yang mereka lalui, Bupati Lebak, Pandeglang, Serang dan
malam puncak kemarin diterima langsung Gubernur Banten.
Tradisi Seba Baduy merupakan ritual adat dengan membawa
pesan luhur dan keikhlasan untuk disampaikan. Sekitar 115 kilometer tanpa alas
kaki dan membawa hasil bumi dari Desa Kanekes, Kecamatan Luwidamar, Kabupaten
Lebak menuju Pendopo Gubernur Banten, telah mereka lalui.
Situasi yang beda dalam Seba kali ini, beberapa tokoh nasional
juga hadir, seperti Soesilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan
Agus Harimukti Yudhoyono. Selain itu, adat seba kali ini, dihadiripula oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK).
Dari riuhnya acara yang digelar di Pendopo Lebak,
berbaur dengan ribuan warga suku baduy dengan pakaian khasnya, yang sebagian
hitam dan sebagian lagi putih nampak beberapa orang mengenakan pakaian adat
yang berasal dari suku-suku lainnya.
Beberapa orang ini merupakan perwakilan dari beberapa suku di Indonesia, seperti Suku Madura, Manado, Minang, Lampung dan etnis Thionghoa yang dikoordinir oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Lebak.
Anggota Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Lebak,
yang menggerakkan kehadiran beberapa etnis untuk menghadiri Seba Baduy di
Pendopo Lebak tersebut bernama Abdurrhosyid.
Kata pria yang akrab disapa Cak Rosyid ini, kehadiran dirinya
dengan beberapa etnis lainnya sebagai bentuk dari Pembauran Kebangsaan.
“Kita terdiri dari berbagai suku, namun tetap satu bangsa
yaitu Indonesia,” kata Cak Rosyid, saat berbincang dengan media.
Menurut Cak Rosyid, pembauran kebangsaan adalah proses
pelaksanaan kegiatan integrasi anggota masyarakat dari berbagai ras, suku,
etnis, melalui interaksi sosial dalam bidang bahasa, adat istiadat, seni
budaya, pendidikan, dan perekonomian untuk mewujudkan kebangsaan Indonesia
tanpa harus menghilangkan identitas ras, suku, dan etnis masing-masing dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Maka dari semangat kesatuan dan persatuah itulahdibentuk
Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) sesuai dengan amanat Permendagri nomor 34
Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemabauran Kebangsaan di Daerah.
“Tugas FPK antara lain menjaring aspirasi masyarakat di
bidang pembauran kebangsaan; menyelenggarakan forum dialog dengan pimpinan
organisasi pembauran kebangsaan, pemuka adat, suku, dan masyarakat;
menyelenggarakan sosialisasi kebijakan yang berkaitan dengan pembauran
kebangsaan; dan merumuskan rekomendasi kepada penanggung jawab FPK di
wilayahnya,” jelas Cak Rosyid.
Masih kata Rosyid, FPK di Lebak sering menggelar
seminar dan diskusi terkait wawasan kebangsaan. Karena FPK menjadi wadah informasi,
komunikasi, konsultasi, dan kerjasama antara warga masyarakat yang diarahkan
untuk menumbuhkan, memantapkan, memelihara dan mengembangkan pembauran
kebangsaan.
“Maksud didirikannya Forum Pembauran Kebangsaan ini agar
terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun, aman dan damai, dan dapat mencegah
masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dengan kekerasan yang bersifat
keagamaan, sehingga tercipta kerjasama yang positif antar ras, suku, budaya dan
adat istiadat yang dilandasi oleh toleransi, saling pengertian, menghormati,
dan saling menghargai,” katanya.
Peran Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) tidak kecil. Karena
FPK merupakan bagian dari pembinaan dan pembangunan kemasyarakatan dalam
menciptakan keamanan suku-suku.
Selain itu, kata dia, forum itu mendukung pelaksanaan tugas
dan wewenang Pemda dalam membina dan memelihara ketentraman dan ketertiban
masyarakat terhadap kemungkinan timbulnya ancaman keutuhan bangsa di daerah.
(kohar)
