NEWS

Sofwanudin: Kades Harus Siap Transparan Kelola Anggaran


Bantenekspose.com – Suasana di Kantor Desa Kemuning Kecamatan Tunjung Teja Kab Serang, kini memang beda. Terlihat nyaman dan jauh dari kesan kumuh. Tembok yang kusam, kini sudah tinggal cerita, semuanya sudah dilakukan renovasi kecil-kecilan. Semua itu tak terlepas, dari tekad keras Sofwanudin, Kepala Desa Kemuning terpilih yang dilantik Desember lalu.

Dalam obrolan lepas dengan bantenekspose.com di ruang kerjanya, Sofwanudin, bercerita banyak ihwal segudang rencana memajukan desa tempat kelahirannya. Wajar memang ia berobsesi, sebelum memikul amanah Kepala Desa, pria yang akrab disapa Opan ini, aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM). Bahkan jauh sebelum dirinya maju di Pilkades Kemuning lalu, Opan mendirikan LSM Gerakan Transfaransi Rakyat (GTR). Dalam perjalanannya, LSM GTR itu pula yang membuat Opan selalu melakukan kritik terhadap pelaksanaan pembangunan.
Kantor Desa Kemuning sebelum renovasi
Dalam orolan lepas itu pula, Kades Kemuning yang kini menapaki usia di penghujung kepala tiga, mempunyai target agar masyarakat bisa merasakan langsung program-program pembangunan sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan.

“Dalam melaksanakan amanah ini, saya tidak muluk-muluk yang penting bagaimana masyarakat bisa merasakan langsung manfaat program pembangunan,” ujar Opan.
Kantor Desa Kemuning setelah renovasi
Guna menekan angka pengangguran di desa, Opan berkeinginan menciptakan lapangan usaha yang sesuai dengan kondisi geografis desa. Selain masalah sosial, desa sebagai kesatuan masyarakat hukum, tentu harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, pembangunan pusat perekonomian desa, bisa menjadi pilihan.

“Saya ingin menciptakan lapangan usaha yang bisa mengurangi angka pengangguran. Mudah-mudahan rencana Bumdes, bisa terwujud secepatnya. Sehingga keberadaannya nanti, bisa memberikan solusi mata pencaharian bagi masyarakat Desa Kemuning,” papar Opan.

Dalam hal manajemen pemerintahan desa, Opan ternyata sudah mempunyai prinsip sendiri, transparan dalam mengelola anggaran dan melayani sesuai kemampuan. Begitu pula dalam mengelola konflik, lebih mengedepankan nilai partisipasi, transparan dan akuntabel.

“Dalam mengelola konflik, kuncinya Kepala Desa harus siap dengan budaya transparan dalam mengelola anggaran  dan siap untuk melayani semua kebutuhan sesuai kemampuan. Satu lagi, manajamen kita harus akuntabel atau bisa dipertanggungjawabkan,” pungkas Opan. (red)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar