Gerakan Rakyat Indonesia Kecam Agresi Pemerintahan Turki Terhadap Rakyat Kurdi di Afrin
0 menit baca
Bantenekspose.com -
Ratusan pemuda, mahasiswa dan gerakan rakyat Indonesia yang tergabung di dalam
Front Perjuangan Rakyat (FPR) dan International League of People’s Strugle
(ILPS) melakukan aksi solidaritas terhadap "Rakyat Kurdi di Afrin serta
Solidaritas Penuh Perjuangan Rakyat Kurdi".
Tak hanya itu, organisasi progressif perjuangan rakyat pun
ikut undil dalam itu, diantaranya Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi
(LMND), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Front Mahasiswa Nasional (FMN),
Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
(GMNI JakSel), Pemuda Baru Indonesia (PEMBARU INDONESIA)
Dalam aksinya tersebut, mereka mengecam tindakan fasis rezim
erdogan atas agresi militer dan teror berdarah terhadap rakyat Kurdi di Afrin.
Juga mendukung perjuangan rakyat Kurdi untuk keadilan, perdamaian dan hak
menentukan nasib sendiri.
Para pengunjuk rasa menyambangi gedung Kedutaan Besar Kurdi,
Jakarta sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan membentangkan spanduk
bertuliskan “Stop Agression And Intervention Turkey On The Kurdish People In
Afrin” dan “Lawan Seluruh Intervensi, Provokasi, Agresi Rezim Fasis Erdogan
Boneka Imperialis”.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi juga Devisi
Kesekretariatan LMND, Andra Mulya mengatakan dalam orasinya, aksi solidaritas
ini adalah upaya rakyat Indonesia dalam menyerukan kecaman terhadap rezim fasis
Erdogan yang telah mengerahkan militer Turki untuk melakukan agresi dan pemboman
terhadap suku bangsa Kurdi di Afrin.
Menurut Andra, suku bangsa Afrin merupakan suku bangsa terbesar ke empat di Timur Tengah, yang telah lama menginginkan kemerdekaan atas bangsanya sendiri. Padahal, kata dia, di sekitar daerah suku bangsa Afrin tersebar terkenal dengan sumber daya alam yang kaya.
"Namun rakyatnya sengara akibat ditindas oleh rezim
fasis Erdogan sebagai boneka imperialisme, dan perebutan sumber produksi minyak
oleh Amerika Serikat melalui OPEC yang mengandalkan produksinya di negeri-negeri
Timur Tengah termasuk di Kirkuk daerah tempat suku bangsa Kurdi juga tersebar,”
kata Andra dalam pesan tertulisnya, Rabu (21/3/18).
Andra menilai, bahwa agresi militer dan teror berdarah yang
menimpa suku bangsa Kurdi diakibatkan keinginan Imperialis Amerika Serikat dan
Rusia untuk mendominasi dan menguasai sumber daya alam minyak yang dibantu oleh
rezim fasis Erdogan.
“Krisis yang terjadi menimpa Imperialisme Amerika Serikat
yang semakin akut, dengan melakukan skema kebijakannya untuk memindahkan beban
krisisnya kepada rakyat dunia semakin terang diperlihatkan. Tunduknya
Pemerintahan Turki kepada Imperialis dibuktikan dengan Agressi dan Teror
Berdarahnya dengan landasan menghancurkan kelompok Teroris yang berada di
Afrin, tetapi nyatanya menyasar kepada kelompok progressif yang memperjuangkan
hak demomratis rakyat Kurdi,” ujarnya.
Kendati demikian, organisasi perjuangan rakyat yang
tergabung di dalam FPR dan ILPS mengutuk atas tindakan fasis yang dilakukan
oleh rezim Duterte sebagai Boneka Imperialis, yang telah menuduh aktvis yang
berjuang atas nama tanah, upah, lapangan kerja dan pendidikan sebagai teroris.
“Keadilan dan demokrasi sejati tidak akan bisa dijalankan
oleh pemerintahan boneka diseluruh negeri termasuk rezim Jokowi-JK di
Indonesia, maka pilihanya ketika seluruh musuh rakyat sedang bersatu, maka
gerakan rakyat di seluruh dunia dan Indonesia harus pula bersatu untuk berjuang
mengalahkan musuh rakyat yang telah lama menindas dan menghisap rakyat di
seluruh negeri,” tegas Andra. (emde)
