Tolak Pembangunan Geothermal, Ribuan Warga Padarincang Geruduk Pemprov Banten
0 menit baca
Bantenekspose.com - Ribuan warga yang tergabung didalam Sarekat Perjuangan Rakyat (SAPAR) Padarincang melakukan unjuk rasa (demonstrasi) penolakan pembangunan geothermal (panas bumi) yang dilakukan PT. Sintesa Geothermal Banten, di depan kantor Gubernur Provinsi Banten, KP3B, Curug Kota Serang, Rabu (14/2/18).
Menurut Koordinator Lapangan, Hendra Wibowo menegaskan dalam orasinya, akhir-akhir ini warga telah diresahkan dengan kehadiran PT. Sintesa Geothermal Banten yang sedang proses melakukan pembangunan geothermal, tepatnya di Kp. Wangun Ds. Batukuwung, Padarincang, Serang. Ia mencontohkan kerusakan alam yang terjadi dibeberapa daerah seperti (Mataloko, Garut, Dieng, dsb) dan itu disebabkan pembangunan geothermal.
"Kita tahu dan percaya bahwa Wangun merupakan daerah resapan air, yang mengairi sawah, ladang, kebun, sungai yang ada di Padarincang. Maka kita wajib mencegah dan melarang proyek tersebut," tegasnya.
Sementara itu, Oji Fauji masyarakat setempat mengatakan, selain itu dalam proses pembangunannya banyak sekali warga yang tersakiti khususnya petani Wangun yang dibabat habis pepohonannya karena dipergunakan untuk wilayah tambang.
"Tanpa sepengetahuan para penggarap lahan, dan itu tidak sesuai pembicaraan awal dengan para pemilik lahan garapan," katanya. (emde)
Menurut Koordinator Lapangan, Hendra Wibowo menegaskan dalam orasinya, akhir-akhir ini warga telah diresahkan dengan kehadiran PT. Sintesa Geothermal Banten yang sedang proses melakukan pembangunan geothermal, tepatnya di Kp. Wangun Ds. Batukuwung, Padarincang, Serang. Ia mencontohkan kerusakan alam yang terjadi dibeberapa daerah seperti (Mataloko, Garut, Dieng, dsb) dan itu disebabkan pembangunan geothermal.
"Kita tahu dan percaya bahwa Wangun merupakan daerah resapan air, yang mengairi sawah, ladang, kebun, sungai yang ada di Padarincang. Maka kita wajib mencegah dan melarang proyek tersebut," tegasnya.
Sementara itu, Oji Fauji masyarakat setempat mengatakan, selain itu dalam proses pembangunannya banyak sekali warga yang tersakiti khususnya petani Wangun yang dibabat habis pepohonannya karena dipergunakan untuk wilayah tambang.
"Tanpa sepengetahuan para penggarap lahan, dan itu tidak sesuai pembicaraan awal dengan para pemilik lahan garapan," katanya. (emde)
