Miris......... Selama 20 Tahun, Nenek Muklinah Tinggal di Gubuk yang Tak Layak Huni
0 menit baca
Bantenekspose.com -
Nenek Muklinah warga Kampung Pasir Buntu Desa Lebak Pendeuy Kecamatan Cihara
Kabupaten Lebak, Banten. Lebih dari 20 tahun tinggal di gubuk reyotnya dari
usianya yang sudah uzur, Nenek Muklinah (80) harus menghabiskan waktunya di
dalam gubuknya sendirian.
Informasi yang digali oleh awak media, dan diceritkan
oleh Heri petugas PPS Desa Lebak Pendeuy menjelaskan, saat itu dirinya sedang
bertugas dengan PPDP (Petugas Pemutahiran Data Pemilih) Pilkada serentak 2018
melakukan tugas Coklit (Cocok dan Penelitian) di Kampung tersebut. Saat itu
kata Heri, dirinya melakukan Coklit ke rumah milik Muklinah dan disitu lah Heri
merasa kaget dengan kondisi gubuk yang diisi olehnya.
"Saya sedang tugas Coklit dengan petugas PPDP,
kebetulan rumah yang kami Coklit rumah milik Nenek Muklinah. Dan saat itu saya
kaget dengan kondisi rumah Nenek Muklinah yang tak layak huni," kata Heri
kepada awak media, Sabtu (10/2/18).
Menurut Heri, (Mak Emuk) ini, sapaan sehari-hari Nenek
Muklinah, mengalami lumpuh pada kedua tangannnya akibat sengatan ular berbisa.
"Saat saya tanya, Mak Emuk bilang lumpuh pada kedua
tanganganya akibat sengatan ular berbisa," ucapnya.
Didalam gubuknya yang pengap dan sudah miring, ini diceritakan Heri, Mak Emuk hidup tanpa bantuan seorangpun, anak satu-satunya dari Mak Emuk yang tinggalnya tak jauh dari gubuk Mak Emuk, bernasib sama tidak berkecukupan dalam kehidupannya sehari-hari.
"Mak Emuk tinggal sendirian, anaknya tinggal sama keluarganya tak jauh dari rumah Mak Emuk, namun kondisi anaknya juga tidak cukup, untuk menghidupi keluarganya sehari-hari," katanya.
Heri juga yang merupakan warga desa sekitar mengharapkan ada
uluran tangan dari pemerintah maupun dermawan yang sudi ingin membantu kondisi
rumah Mak Emuk yang kondisinya tak layak huni.
"Saya harap pemerintah maupun dermawan mau membantu Mak
Emuk, kasian rumahnya tak layak huni dan hanya sebatang kara tinggalnya,"
harapnya.
Mendengar cerita dari warga sekitar, wartawan pun mencoba
mengunjungi gubuk yang dihuni oleh Nenek Muklinah. di gubuk berukuran sekitar
2,5 X 4 meter ini Mak Emuk tinggal dan
hanya berlantaikan tanah padat sebagian dan bale-bale. Mak Emuk menceritakan
kondisi rumahnya yang tak layak huni tersebut, kata Mak Emuk menceritakan
dengan bahasa Sunda, saat musim hujan, atapnya sudah pada bolong dan bocor, dan
tak hanya itu, dia juga menuturkan bahwa
saat hujan segala jenis binatang melata merayap ke dalam gubuknya yang tanpa
adanya penerangan.
"Mak cicing digubuk ieu sieun mun usim hujan, hatepna
tos balocor ja ku barolong, haju teu aya lampu deui anu caang (Mak tinggal ditempat ini takut saat musim hujan, atapnya bocor karena sudah pada bolong, dan tidak ada lampu penerang)," papar Nenek
Muklinah dengan raut sedihnya, menggunakan bahasa Sunda.
Selain itu Nenek Muklinah pun berharap agar mendapatkan
bantuan dari pemerintah maupun relawan yang ini membantu rumah gubuknya
tersebut.
"Mak ngeun ngaharepkeun bantosana, tos 20 tahun cicing
di gubuk jeung saaya-ayana bae (Mak hanya berharap ada yang bantu, karena sudah 20 tahun
tinggal di rumah ini dengan seadanya)," tutupnya. (emde)

