Sarifah, Potret Kecil Pelaku Ekonomi Mikro di Kota ‘Saija Adinda’
0 menit baca
Bantenekspose.com – Belakangan ini, hujan terus mengguyur
Kota Rangkasbitung dan wilayah Banten lainnya. Situasi ini, sangat berdampak
terhadap sejumlah pelaku ekonomi mikro di kota yang penuh dengan torehan
sejarah, Rangkasbitung.
Di saat banyak orang bermalasan menunggu hujan reda, tidak
demikian bagi sejumlah pelaku ekonomi mikro (baca: pedagang kaki lima) di Kota
Rangkasbitung. Bermalasan, sama saja dengan kehilangan sumber pendapatan. Hujan
pun tinggal cerita, jualan harus terus berjalan.
Diantara sekian banyak pedagang kaki lima (PKL), yang
terpaksa harus berkawan dengan hujan, salah satunya adalah Sarifah, yang kini
menapaki usia kepala lima. Ia mengaku, hampir satu bulan ini, berjualan walaupun
harus hujan-hujanan. “Gimana lagi, kalau gak jualan gak ada pendapatan,” ujarnya
singkat.
Soal pembeli? Hujan yang terus mengguyur tentu saja
berdampak pada sepinya pembeli, tidak seperti biasanya, selalu ramai. Itu pula,
yang kini harus dihadapi Sarifah, penjual ikan pindang di Rangkasbitung. Walau sepi
pembeli, demi kelangsungan ekonomi, ia tetap berjualan pindang di bahu jalan
Tirtayasa, PasarRangkasbitung ditengah guyuran
hujan.
“Ikan pindang kalau gak dijula takut busuk. Ya.. demi memenuhi
kebutuhan harus rela jualan walaupun hujan-hujanan,” ungkap Sarifah, yang
mengaku berangkat dari rumah ke pasar sekitar pukul 02 dinihari hingga pukul 07
pagi.
Sarifah juga bukan tidak ingin seperti PKL lainnya, berjualan
di bahu jalan dengan menggunakan tenda. Karena dana belum mencukupi, keinginan
itu masih menjadi angan-angan. Hanya terpal plastik yang menutupi barang
dagangnnya, itu sudah dirasa cukup.
“Saat ini, yang penting ikan pindang jangan kehujanan. Makanya
kalau ikan, ibu tutupi pake terpal plastik. Boro-boro untuk beli tenda, untuk
sehari-hari juga ripuh,” ungkap
Sarifah kepada Bantenekspose.com seredanya hujan di Pasar Kota Rangkasbitung
Pantauan bantenekspose.com, biasanya para pedagang kaki
lima berjualan berjejeran rapat, di sepanjang jalan Tirtayasa. Akibat hujan, tidak
seperti biasanya para pedagang kaki lima kali agak renggang akibat.
Bagi keluarganya, Sarifah adalah srikandi penyelamat katup ekonomi.
Hujan harus terus berjualan, demi menutupi kebutuhan sehari-hari. Berbeda, dengan
mereka kaum berdasi yang selalu berkutat dengan ‘diskusi’ soal ekonomi.
Sebuah potret kecil, di kota dengan legenda Saija Adinda. Sarifah, adalah salah satu saja, dari ribuan pelaku ekonomi mikro di Lebak. Terpikirkah oleh mereka yang kini rebutan kekuasaan. (kohar-Red)
Sebuah potret kecil, di kota dengan legenda Saija Adinda. Sarifah, adalah salah satu saja, dari ribuan pelaku ekonomi mikro di Lebak. Terpikirkah oleh mereka yang kini rebutan kekuasaan. (kohar-Red)
