Janji Nikah Tak Ditepati, Wanita Mengamuk di Rumah Kepala SD
Bantenekspose.com – Kesal dengan janji yang tak dipenuhi, ELS yang mengaku sebagai kekasih kepala sekolah sebuah SD Negeri di Kecamatan Pamarayan mengamuk di rumah sang Kepsek. Katanya, pernikahan yang dijanjikan kepsek berinisial MR ini, tak kunjung ditepati.
Kepada bantenekspose.com, wanita dengan paras cantik yang diketahui beranak satu ini, membeberkan kisah asmaranya yang berakhir tragis. Menurut pengakuan ELS, diawali dengan adanya permasalahan utang piutang dirinya dengan salah satu warga Desa Nambo Udik Kecamatan Cikande yang tak kunjung dibayar.
Saat ELS kebingungan mencari orang yang bisa membantu menyelesaikan permasalahannya, secara tidak sengaja bertemulah dia dengan MR. Di desa tersebut MR menjabat sebagai ketua BPD yang notabene tahu persis dengan karakter warganya.
Melihat kedudukan MR yang sangat strategis di desanya, maka mulailah ELS menceritakan persoalan yang sedang dihadapinya kepada MR dan meminta bantuannya, agar warga itu mau menyelesaikan masalah utang-piutang dengan ELS. Keduannya pun mulai akrab dan seringnya ketemu, benih benih cinta pun mulai bersemi diantara keduanya.
Singkat cerita sudah satu tahun (masih menurut pengakuan ELS), mereka memadu kasih tanpa diketahui oleh istri MR, sampai akhirnya terjadilah pertengkaran hebat. Ditenggarai kesalahpahaman yang berujung tindakan memalukan di kantor Panwascam Cikande.
Tidak puas disitu, ELS yang saat itu sedang dibakar emosi mendatangi rumah kediaman sang kepsek dan mengatakan kepada istrinya, kalau dia adalah pacar gelap suaminya dan menuntut suaminya bertanggungjawab menikahinya. Cekcok mulut pun tidak terelakan lagi. Karena kesal, istri kepsek pun mengusir ELS dari rumah kediamannya.
Sementara ketika MR dikonfirmasi, menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. "Saya tidak menampik adanya hubungan asmara antara saya dengan ELS. Tetapi itu kan persoalan pribadi saya, terkait adanya pengakuan dan keinginan ELS untuk bisa menikah dengan saya itu kan persoalan yang lain,” ujarnya.
Selama ini, aku MR, dirinya selalu mengarahkan ELS ke arah yang positif, karena ia tahu beban yang dipikul ELS tidaklah ringan, sebagai single parent. “Pada pilkada kemarin, saya masukan dia menjadi staf admin di kantor sekretariat Panwas Kecamatan Cikande. Tapi dengan adanya kejadian ini, tentu saya merasa sudah tidak sepantasnya lagi melanjutkan hubungan saya dengan ELS dan saya juga menyesal sudah melibatkan anak anak saya serta istri saya kedalam permasalahan ini,” katanya.
Ketika ditanya terkait kapasitasnya sebagai seorang Kepsek, MR menjawab semua diserahkan kepada pimpinan. Karena pimpinanlah yang berhak memberikan penilaian terhadap kinerjanya. (kabier)