Dirusak Lereng Gunung Karang, Banjir Longsor pun Menerjang
0 menit baca
Bantenekspose.com - Bencana banjir dan
longsor di Kecamatan Baros, Kab. Serang, Provinsi Banten, yang merusak
rumah-rumah warga, sekolah dasar, sumber mata air, areal pertanian dan
perkebunan, serta fasilitas umum disebabkan oleh rusaknya lereng Gunung Karang
yang merupakan kawasan tangkapan air. Lereng gunung yang berada dalam gugusan
Pegunungan Akarsari (Aseupan-Karang-Pulosari) itu kini dalam kondisi rusak
parah akibat penebangan secara serampangan dan penambangan liar.
Menurut warga, sejak lima tahun terakhir
kawasan Baros kerap diterjang banjir dan longsor yang titik bencananya berasal
dari lereng Gunung Karang. Warga menduga aktivitas penambangan pasir milik
seorang pengusaha asal Banten dan perkebunan buah naga milik investor asal
Malaysia, adalah penyebab banjir dan longsor kerap terjadi dalam kurun waktu
lima tahun terkahir ini. Karena dua usaha tersebut berada di lereng Gunung
Karang dan telah menebang ribuan jenis pohon kayu yang akarnya selama ini
menjadi pengikat struktur tanah sekaligus sebagai sumber cadangan air.
"Ini banjir dan longsor terparah.
Miris saya melihatnya. Bencana lebih parah berpotensi terjadi di kemudian hari
jika pemerintah tidak segera melakukan antisipasi. Ngeri saya, karena jalur
longsorannya persis berada di atas permukiman warga," ungkap aktivis
penanggulangan pascabencana Enjat Sudrajat kepada bantenekspose.com, Ahad
(7/5), di tengah aktivitas membantu merehabilitasi permukiman warga yang
terkena serangan banjir-longsor di Desa Tamansari.
Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah warga yang dilakukan bantenekspose.com didampingi Enjat, perkebunan buah naga itu berada dalam tanah negara yang selama ini dijadikan tanah bengkok yang di atasnya terdapat ribuan pohon kayu penguat tanah dan penyimpan air. Sejak tahun 2011, tanah seluas kurang-lebih 20 hektare itu telah dialihtangankan penggunaannya kepada investor asing. Pepohonan kemudian ditebangi, struktur tanah diubah, jalan air dialihkan, dan perkebunan itu kini dikelilingi parit selebar lima meter dengan kedalaman dua meter. Sepertinya untuk mencegah pencurian.
"Alih fungsi itu adalah penyebab
bencana. Rekayasa struktur tanah secara otomatis mengubah alur air dari alur
alamiah bentukan alam ke alur yang dibentuk dengan asal dan tidak mengikuti
struktur tanah. Apalagi tidak jauh dari perkebunan buah naga itu juga terdapat
kawasan yang telah diratakan, sepertinya akan dialihfungsi untuk bisnis
pertambangan. Ijin usaha mereka harus dipertanyakan. Pemerintah harus segera
melakukan langkah-langkah strategis yang berpihak kepada kepentingan warga dan
lestarinya ekosistem," ujar Enjat yang juga fungsionaris di DPD KNPI
Provinsi Banten.
Ahad pagi itu kurang-lebih 50 orang
relawan yang dikoordinasikan oleh Danramil Baros Kapten Inf. Dadang Sofyan melakukan
rehabilitasi di sekitar SDN Tamansari yang paling parah diterjang bencana. Dua
lokal ruang kelas atapnya ambruk akibat tidak kuat menahan dahsyatnya terjangan
air yang membawa ribuan kubik material longsoran tanah. Lumpur setebal setengah
meter menutupi seluruh kawasan sekolah dasar ini. Lumpur itu juga berhasil
merobohkan bagian-bagian dari rumah warga, juga menutup Situ Tamansari yang
berair jernih.
Pagi itu, bukan saja relawan yang
dibentuk oleh Badan Penanggulangan Bencana dan aktivid Mahasiswa Pencinta
Lingkungan yang sibuk merehabilitasi lingkungan yang terkena bencana. Kepala
Dinas Pendidikan Pemkab Serang DR. Agus Nugaraha Jaya juga sibuk menjadi
relawan. Camat Baros Tabrani dan Kepala SDN Tamansari Ali, juga tampak
sibuk. Hanya Babay yang tidak tampak. Kades Tamansari itu dituding oleh
warga yang paling bertanggung jawab atas hadirnya dua usaha di lereng gunung
Desa Tamansari. Karena, menurut warga, ijin usaha dengan memanfaatkan lahan
negara itu pernah ditolak dengan tegas oleh kepala desa sebelumnya, Bakhrum.
"Secara pribadi saya tidak berani
menduga-duga atas penyebab bencana ini. Yang jelas, selain usaha perkebunan
buah naga, kerusakan hutan juga terjadi pada lereng di atas perkebunan itu.
Tugas kita sekarang adalah memperbaiki kondisi pascabencana," ujar
Danramil Baros Kapten Inf. Dadang Sofyan.
Kadindik Asep Nugraha menyatakan bahwa dirinya akan mengajukan anggaran untuk merelokasi SDN Tamansari karena berda di jalur "tendangan" jalur longsoran. "Tahun ini kami mengusulkan kepada panitia anggaran untuk merelokasi SDN Tamansari. Secara kebutuhan, sekolah ini memang harua ditambah lokalnya. Dan secara geografis, letak sekolah ini adalah yang paling terancam jika terjadi bencana longsor. Selama lereng pegunungan tidak segera direhabilitasi, kawasan Tamansari ini akan terus terkana bencana longsor," ujar Kadindik yang datang ke lokasi kegiatan dengan menggunakan sepeda kayuh. (Ago/red)
Kadindik Asep Nugraha menyatakan bahwa dirinya akan mengajukan anggaran untuk merelokasi SDN Tamansari karena berda di jalur "tendangan" jalur longsoran. "Tahun ini kami mengusulkan kepada panitia anggaran untuk merelokasi SDN Tamansari. Secara kebutuhan, sekolah ini memang harua ditambah lokalnya. Dan secara geografis, letak sekolah ini adalah yang paling terancam jika terjadi bencana longsor. Selama lereng pegunungan tidak segera direhabilitasi, kawasan Tamansari ini akan terus terkana bencana longsor," ujar Kadindik yang datang ke lokasi kegiatan dengan menggunakan sepeda kayuh. (Ago/red)
