Majlis Alma’arijul Wathon Tanamkan Lampah Cinta Ibadah
0 menit baca
![]() |
| Acara Pengajian Majlis Alma'rijul Wathon , yang diikuti jama'ah dari berbagai daerah dilaksanakan belum lama ini di Anyer, Kabupaten Serang (foto: Rt A Agnienqi) |
Rutinitasnya yang kerap dilaksanakan ini tiada lain untuk mempelajari makna dan hakekat, sebagaimana dilakukan para ulama terdahulu dalam menerapkan ibadah tarekat. Dengan tujuan, menanamkan kekhusyuan ibadah kepada Allah SWT dan mencari keridhoanNya. Begitu pun dalam pembedahan kitab kuning dan kajian filsafat tauhid serta pendalaman Tafsir Al Qur’an dari berbagai mushaf, khususnya mushaf Fatimah Radhiallahu Anha. Ini lebih diperdalam lagi dalam mencari makna penciptaan ilmu Allah yang terkandung dalam tafsir hijaiyah hurup per hurup dalam Alqur’an.
Salah satu penggerak di Alma’arijul Wathon Banten ini, yakni Chudori Dzabbabul’Qutub kepada bantenekspose.com mengatakan, kajian di Majlis yang digelutinya di Alma’arijul Wathon tersebut, lebih bermakna pada pengkajian tentang dasar tauhid Ilahiyah yang melahirkan awal mula lahirnya ilmu pengetahuan dan alam semesta (Qodhil Hodz-red).
Disamping itu, katanya lagi, dalam kilas kegiatan tarekat Assadziliyah di Alma’arijul Wathon ini lebih menekankan jemaah pada kewajiban salat lima waktu, lampah dzikir, saling berwasiat dalam tawakal dan kesabaran, menjalankan kehidupan yang layak dan membangun kecintaan kepada tanah air (Wathoniyah-red) dan menjadikan agama sebagai rahmat bagi alam semesta.
"Dalam setiap kegiatan pengajian, kami selalu membahas dan mengkaji makna Tauhid Ilahiyah dengan referensi menggali ilmu Allah dalam makna tafsir hurup serta membuka wawasan penciptaan alam semesta. Inilah yang dinamakan kajian Qodhil Hodz," katanya.
Disini juga, lanjut Chudori, diperkuat dengan referensi kajian kitab kuning, makna tafsir qur’an dari bermacam mushaf dan berbagai kajian tentang ibadah mahdhoh dan ghair mahdhoh yang tentunya itu selalu menjadi kajian para ulama terdahulu. Dan untuk pengajian tingkat dasar awal, ini tetap berpatokan pada kajian hadist, tarikh tasyri, ilmu kalam, fiqih madhabul’arba’ah dan Tafsir Assbabunujul Alqur’an.
Sementara Kairusdiyat Saefurrochman, salah seorang santri jamaah senior di Alma’arijul Wathon mengungkapkan, pengajian rutinnya setiap hari dilaksanakan di Banten, yakni di Walantaka dan Komplek Banjar Agung Kota Serang.
Selain itu juga, ujar Kairusdiyat, ada yang rutin pula dilaksanakan setiap seminggu di Jakarta dan Bandung. Sementara untuk perwakilan jamaah dari tempat lain, selain rutin mengadakan pengajian di daerahnya mereka pun selalu meluangkan waktu silaturahmi sambil pengajian setahun tiga kali ke Banten, yakni di bulan Rajab, Ramadhan dan Muharram.
"Walaupun mereka sibuk dengan segala aktivitas, namun para jamaah tarekat Assadziliyah dari di berbagai tempat ini selalu rutin meluangkan waktu untuk pengajian dengan melaksanakan dzikir dan lampah," paparnya.
Dikatakan, belum lama ini pihaknya telah membahas 90 Bab tentang Qodhil Hodz (ketauhidan dan makna penciptaan makhluk-red), makna tafsir huruf alqur’an, juga membahas berbagai kajian mulai fiqh madhabul arba’ah hingga tauhid, yang bertempat di pantai Anyer Banten.
Alma’arijul Wathon Banten dengan sesepuhnya Hudi Nurhudiyat ini telah memiliki sayap anggota majlis di berbagai pelosok tanah air, seperti : di Banjarmasin-Kalimantan, Bima-NTB, Makassar-Sulawesi, Nangro Aceh, Jawa Tengah, Bandung, Cianjur, Purwakarta, Tasikmalaya, Jawa Timur, Medan, Cirebon, DKI Jakarta, Riau, Bengkulu dan Madura.
Kairusdiyat menjelaskan, adapaun faedah yang bisa dipetik dari pengajian di Majlis Alm’arijul Wathon Banten ini, yakni semakin menambah wawasan ketauhidandalam lampah dzikir, “ Intinya kita ditekankan untuk saling berwasiat tentang kewajiban menjalankan solat lima waktu, pengetahuan tafsir qur’an dari berbagai mushaf, sejarah para nabi dan alam semesta serta berusaha meneladani kesabaran dan perjuangan Rasulullah SAW," imbuhnya.
Terpisah, sesepuh Majlis Alma’arijul Wathon, Hudi Nurhudiyat menjelaskan, faedah pengajian yang diajarkan di majlis yang dipimpinnya itu, selain menambah wawasan keagamaan, ilmu tauhid, pengetahuan akan makna dzikir dan lampah hidup. Namun lebih utamanya ialah memperteguh ajaran Islam yang kuncinya ada di salat lima waktu.
"Di Assadziliyah ini, selain kami menanamkan arti penting solat lima waktu dan ibadah lainnya dalam mencari keridhoan Allah. Juga para santri dan jamaah akan terarah dalam mengetahui hakikat tauhid dalam kasis sayang Allah Subhanahu’Wata’ala," ujar Hudi.
Pada pribadi kita ini, lanjut Hudi, dengan sendirinya bisa mengarahkan kita lebih cinta dan khusyu melaksanakan ibadah, teguh dalam prinsip agama, cinta negara, ikhlas melaksanakan ibadah dengan menjalankan amar ma’ruf nahyi munkar. Disamping menjadikan Islam sebagai agama rohmatalil’alamien. Kalau sudah demikian, Insya Allah tidak akan ada istilah yang namanya ambisi dunia, takabur dan syirik dan menjauhkan umat Islam dalam kemiskinan, kefakiran dan kekufuran (Adnindha Agnienqie)
