Sistem Pengajaran Bahasa Arab Belum Efektif, Guru Diminta Ubah Metode
0 menit baca
Bantenekspose.com – Sistem pengajaran Bahasa Arab di Indonesia diakui belum efektif jika dibandingkan dengan negara lain, bahkan di Eropa yang notabene tidak mengenal huruf hijaiyah lebih bagus. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jendral Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin.
“Orang barat malah bagus, hanya tiga bulan, jangan heran,” ungkap Kamaruddin.
Dirjen menyatakan bahwa penyebabnya, sistem pengajaran di Barat dilakukan dengan metodologi yang baik serta guru pengajar yang baik. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia, banyak anak-anak masuk jenjang kuliah yang justru kemampuan Bahasa Arabnya tidak bertambah.
“Artinya tidak ada anak bodoh, tapi hanya karena tidak menemukan guru pintar,” terangnya di hadapan para Guru Bahasa Arab.
Untuk itu, guru besar UIN Alauddin Makassar ini mengimbau kepada para guru agar meningkatkan kapasitas serta kemamapuannya dalam metodologi pengajaran serta sistematika. “Pengayaannya juga harus bagus, metodologi dan materi pasti,” tukasnya.
Hal ini, katanya lagi, juga bagian dari dukungan terhadap program yang sedang di bangun Direktorat Pendidikan Madrasah untuk menghidupkan kembali Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) yang secara output diharapkan mempunyai kompetensi Bahasa Arab yang baik.
Dalam acara itu, Dirjen Pendis juga menceritakan bahwa kemampuan Bahasa Arab atau bahasa lainnya bisa dikuasai jika seseorang sudah melakukan pembelajaran sembilan ratus hingga seribu jam pelajaran.
“Nah seharusnya di kita ini sudah bisa Bahasa Arab, itu kalau metodologinya bagus dan diajarkan oleh guru yang bagus pula,” tukasnya.
Lalu, Dirjen juga menjelaskan bahwa pengalamannya di Jerman, menemukan orang yang tidak bisa Bahasa Arab sama sekali namun hanya dalam setengah tahun bisa mahir berbahasa Arab.
“Padahal orang bule itu belajarnya dari alif ba ta dan bahlhkan menginjak semester lima sang bule tersebut sudah fasih dan menjadi penerjemah bahasa Arab,” tutupnya.(net)
“Orang barat malah bagus, hanya tiga bulan, jangan heran,” ungkap Kamaruddin.
Dirjen menyatakan bahwa penyebabnya, sistem pengajaran di Barat dilakukan dengan metodologi yang baik serta guru pengajar yang baik. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia, banyak anak-anak masuk jenjang kuliah yang justru kemampuan Bahasa Arabnya tidak bertambah.
“Artinya tidak ada anak bodoh, tapi hanya karena tidak menemukan guru pintar,” terangnya di hadapan para Guru Bahasa Arab.
Untuk itu, guru besar UIN Alauddin Makassar ini mengimbau kepada para guru agar meningkatkan kapasitas serta kemamapuannya dalam metodologi pengajaran serta sistematika. “Pengayaannya juga harus bagus, metodologi dan materi pasti,” tukasnya.
Hal ini, katanya lagi, juga bagian dari dukungan terhadap program yang sedang di bangun Direktorat Pendidikan Madrasah untuk menghidupkan kembali Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) yang secara output diharapkan mempunyai kompetensi Bahasa Arab yang baik.
Dalam acara itu, Dirjen Pendis juga menceritakan bahwa kemampuan Bahasa Arab atau bahasa lainnya bisa dikuasai jika seseorang sudah melakukan pembelajaran sembilan ratus hingga seribu jam pelajaran.
“Nah seharusnya di kita ini sudah bisa Bahasa Arab, itu kalau metodologinya bagus dan diajarkan oleh guru yang bagus pula,” tukasnya.
Lalu, Dirjen juga menjelaskan bahwa pengalamannya di Jerman, menemukan orang yang tidak bisa Bahasa Arab sama sekali namun hanya dalam setengah tahun bisa mahir berbahasa Arab.
“Padahal orang bule itu belajarnya dari alif ba ta dan bahlhkan menginjak semester lima sang bule tersebut sudah fasih dan menjadi penerjemah bahasa Arab,” tutupnya.(net)
