Raskin yang Beredar di Banten Volumenya Berkurang
0 menit baca
![]() |
| Raskin siap distribusi yang tersimpan di Gudang Bulog Subdivre Serang |
Bantenekspose.com - Sejumlah warga dari tiga
kabupaten di Banten memberikan informasi bahwa beras yang dikirim Bulog ke
warga penerima manfaat volume per karungnya susut hingga setengah kilogram dari
volume yang ditetapkan yaitu 15 kilogram. Ada dugaan beras untuk keluarga
miskin (raskin) yang timbangannya susut ini terkirim ke seluruh wilayah di
Banten.
Warga Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Zen
Zaenudin, menginfomasikan bahwa raskin yang dikirim ke warga Desa Malingping
Utara isinya susut. "Saya menduga isi karung raskin yang beredar di Lebak
susut timbangannya. Karena mitra penyedia raskin sekaligus menjadi mitra
pengirim," kata Zen.
Wahyudin, warga Kelurahan Kadumerak, Kecamatan
Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang, juga melaporkan hal yang sama. Wahyudin
yang selama ini aktif mengawasi distribusi raskin menemukan raskin yang
terkirim di sejumlah desa dan kelurahan di Kecamatan Karangtanjung dan
Pandeglang Kota, isi karungnya berkurang.
"Setiap karung isinya susut rata-rata tiga ons
hingga setengag kilo. Saya sudah melaporkan masalah ini ke kejaksaan,"
ujar aktivis LSM ini kepada wartawan
Warga Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Abdul
Kabir, juga menemukan indikasi raskin yang terkirim ke wilayah Serang Timur
timbangannya susut. "Sebab isi karung yang diterima warga di Kecamatan
Pamarayan dan Jawilan banyak yang berkurang, tidak utuh 15 kilogram,"
katanya.
Pemerhati raskin dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial
dan Politik (STISIP) Setia Budhi, Muharram Albanna, menyarankan Bulog Divisi
Regional DKI dan Banten harus lebih ketat dan selektif pada saat menerima
distribusi beras dari para mitra. Masalahnya, kuat dugaan beras pasokan dari
mitra Bulog mayoritas tidak memenuhi syarat (TMS) standarisasi Bulog sesuai
petunjuk yang tertuang dalam Inpres.
"Volume berkurang dan jeleknya kualitas raskin
adalah akibat lemahnya fungsi pengawasan dari internal Bulog mulai dari saat
pembelian gabah kering giling, pembelian beras, hingga teknis pendistribusian
yang selama ini dilakukan oleh mitra penyedia. Di sisi lain, tim satuan kerja
(satker) dan tim monev tidak bekerja dengan optimal, kebanyakan lalai akan
tugas pokoknya," ujar dosen ilmu politik ini kepada wartawan.
Muharram menduga kejahatan sistematis dan masif
masih terjadi di tubuh Bulog antara oknum pejabat di subdivre dengan pengusaha
yang menjadi mitra penyedia gabah dan beras. Sehingga kualitas dan kuantitas
tidak diseleksi dengan ketat. Karena hal itu, hingga hari ini warga penerima
manfaat masih banyak yang mengeluhkan buruknya kualitas raskin, mulai warnanya
yang buram, berdedak, banyaknya butiran yang pecah, berkutu dan berjamur,
hingga susut timbangannya," jelas Muharram.
Untuk meminimalisasi masalah lama ini, Muharram
menyarankan Divre membentuk tim khusus yang langsung mendampingi tim pengadaan
yang dibentuk setiap subdivre. Sebab, lanjut Mumu, buruknya kualitas dan
kuantitas raskin akibat rendahnya komitmen pengabdian oknum pegawai di
subdivre, yang kerap terlibat kerja sama tidak sehat dengan pengusaha yang
menjadi mitra penyedia raskin.
"Warga penerima manfaat wajib diberi beras
premium standar raskin, yaitu raskin yang memenuhi syarat dan layak untuk
dikonsumsi manusia. Titik persoalan semuanya kan ada di Bulog," ujar
Muharram, yang juga Ketua Komisi Transparansi dan Partisipasi (KTP) Kabupaten
Lebak.
Mumu, panggilan akrab Muharram, menemukan dua pola
kejahatan masif yang dilakukan mitra penyedia gabah dan beras, yaitu
pengoplosan beras petani dari hasil panen dengan beras campuran yang dijual
warga ke pasar dari hasil hajatan. Pola kedua adalah mengurangi volume yang
bobot perkarungnya merata 15 kilogram.
"Nah, ini juga akibat kelemahan Bulog. Armada
pengangkut raskin ternyata juga menyewa dari mitra penyedia raskin, termasuk
sopirnya adalah pegawai mitra. Bagi mitra yang biasa berbuat jahat, raskin yang
diangkut dari gudang Bulog itu dibawa dulu ke gudang miliknya, lalu volume per
karungnya dikurangi, atau isinya dioplos. Ini adalah kelemahan yang sebenarnya
didiamkan, akibat adanya oknum di subdivre yang telah bekerja sama tidak sehat
dengan mitra. Celah kejahatan ini harus segera dihilangkan dengan cara
pengawasan yang melekat dan memperbaiki sistem pengadaan dan distribusi,"
ujar Mumu.
