Stadion Ciceri Jadi Pasar Tumpah, Pejabat Harus Melek
0 menit baca
![]() |
| Suasana Stadion Ciceri Minggu pagi (20/3). Fasilitas olahraga warga itu dipenuhi pedagang kaki lima dadakan. (foto: Nida) |
Bantenekspose.com – Stadion Ciceri Kota Serang,
sejatinya sarana olahraga warga. Belakangan, stadion warisan Kabupaten Serang
itu bila akhir pekan dipenuhi pedagang kaki lima (PKL). Karuan saja, warga yang
akan berolahraga pagi terganggu.
Pantauan Bantenekspose.com pagi tadi sekira pukul 6.30
WIB, warga yang berolahraga sangat sedikit. Yang nampak, adalah jejeran
parkiran kendaraan dan ratusan pedagang kaki lima. “Stadion saat ini, seperti
pasar dadakan,” ujar Nadia salah seorang warga kota yang hendak berolahraga
pagi.
Menurut salah seorang aktifis LSM di Banten, Adung
Bangor, menyikapi masalah PKL stadion, pertama instansi
mana yang mengelola stadion harus jelas. Kedua, apa fungsi utama stadion dan ketiga PKL
penuh adalah efek dari pengelolaan.
“Saya rasa PKL kalau tata kelolanya bagus,
dilihat dari estetikanya masuk tidak kumuh, tertib, tertata rapih dan tidak
mengganggu fungsi stadion, sah-sah saja,” ujarnya.
Buat masyarakat menengah ke bawah, lanjut Adung,
membutuhkan fasilitas publik yang terjangkau dan mumpuni. Melihat alun-alun
Kota Serang saja, masyarakat begitu berdesak-desakan sekedar jalan pagi sambil
rekreasi. “Disini pejabat harus melek, terutama walikotanya. Jangan bicara
mengabdi untuk Banten, wong stadion di serang saja acak-acakan,.. ..maaf bukan
politik,” tegas Adung.
Dalam pendapat
Adung Kota Serang butuh pemimpin kaya kang Emil, yang tahu akan keinginan
masyarakat. Walaupun sederhana tapi berguna. Sebagai ibukota Banten, secara
pundamental Kota Serang harus punya ikon, biar orang luar kota datang ke Serang
tahu, bahwa ibukotanya Banten itu Kota Serang.
“Kota Serang tuh, harusnya
diibaratkan bikin rumah baru harus tahu dimana halaman rumahnya. Dapurnya
dimana, ruangan tamunya dimana, jadi tertata rapih,” pungkasnya. (sg)
