Magnet Ekonomi Bayah, Lahirkan Prostitusi?
0 menit baca
![]() |
| Foto Ilustrasi (sumber: konfrontasi.com) |
Bantenekspose.com - Denyut
industrialisasi Bayah kini mulai terasa. Suhu udara yang mulai panas, tak
ketinggalan bisnis kamar kos mulai menggeliat. Nyaris, di setiap sudut kota
kecil yang oleh kalangan kokolot
disebut kota bungsu, tidak sulit mencari
tempat sekedar untuk bermalam atau nyari kamar kos.
Kecamatan
Bayah terletak di ujung selatan Kabupaten Lebak, berbatasan dengan kecamatan
Panggarangan, Kecamatan Cibeber dan Kecamatan Cilograng. Jarak tempuh ke wilayah
ini sekitar 150 kilometer dari pusat ibukota kabupaten, atau kurang lebih sekitar
4 jam perjalanan menggunakan kendaraan umum.
Bayah
yang dulu sejuk dan asri, kini banyak berubah. Kehadiran kaum pemodal, seolah
turut merubah wajah kota kecil Bayah menjadi ‘moderen’. Kehadiran pabrik semen
terbesar Cemindo Gemilang, turut mendongkrak laju percepatan ekonomi setempat.
Tak dipungkiri, gundulnya bebukitan di jalur Bayah-Pelabuhanratu, seolah
menjadi ratu penyelamat ekonomi setempat, yang selama ini selalu disebut
tertinggal. Pun demikian, dalam sisi sosial kemasayarakatan lambat laun mulai
berubah. Sikap permisip masyarakat, seolah membuka celah bagi kalangan tertentu
untuk membuka lahan bisnis birahi.
Penelusuran
bantenekspose.com, selama di Kecamatan
Bayah, memperkuat dugaan adanya praktek bisnis esek-esek. Secara kasat mata,
memang seolah biasa saja. Namun seiring mentari menyambangi ufuk, geliat kaum pramunikmat
yang menjajakan dirinya mulai terendus. Cara mereka menggaet pelanggan tentu
berbeda dengan kehidupan pramunikmat di wilayah perkotaan. Yang tidak punya
koneksi, dijamin tidak bakal menemukan mereka.
“Kalau
belum pengalaman, mana bisa mengenali mereka. Semuanya ada kode dan rumusnya
pak,” ungkap seorang pemandu, yang
minta identitasnya disembunyikan.
Menurut si
pemandu, sejak kehadiran para pekerja asing di pabrik semen merah putih (baca:
Cemindo Gemilang), bisnis pramunikmat di Bayah meningkat. Padahal sebelumnya
sudah hampir punah. “Ya, mereka banyak yang meminta perempuan-perempuan disini,
untuk memenuhi hasratnya. Dulu, memang pernah ada semacam lokalisasi tak resmi,
namun sudah dibubarkan,” ungkapnya.
Ya,
pekerja asing yang bekerja di pabrik semen merah putih disebut-sebut
menimbulkan sisi gelap adanya bisnis pramunikmat. Selain itu timbul juga
maraknya penjualan minuman keras di warung remang-remang tempat PSK tersebut mangkal.
Tak
dipungkiri memang, kehadiran pekerja asing di wilayah Bayah mendatangkan
penghasilan lebih. Tak hanya dari menjajakan jasa esek-esek, penghasilan mereka
meningkat justru dari penjualan minuman keras. Seperti yang di utarakan salah
satu PSK yang namanya enggan disebutkan.
Informasi
yang berhasil dihimpun, keberadaan pekerja asing di Kecamatan Bayah yang hampir
keseluruhannya laki-laki dan jauh dari keluarga, dianggap sebagai peluang untuk
bisnis hiburan, akhirnya timbullah bisnis prostitusi dan bisnis miras.
Awalnya,
pelanggan yang datang ke warung tujuannya hanya ingin menghibur diri dengan
berkaraoke dan ditemani para wanita, sambil meminum-minuman keras. Sedikit demi
sedikit bisa memancing gairah kelelakian, apalagi ditemani oleh wanita hal
tersebut sangat memungkinkan untuk berkelanjutan ke hubungan yang lebih intim,
tergantung dari kesepakatan dan harga yang disetujui.
Miris
memang, dibalik kehadiran pabrik semen merah putih yang diidolakan tempat untuk
menjaring tenaga kerja dan mengurangi angka pengangguran, ternyata dibalik itu
tersirat sisi gelap yang berakibat fatal bagi kelangsungan moral bangsa, khususnya
di sekitar Kecamatan Bayah.
