Dari Balik Hutan Belantara, Air Panas Citando Menyapa
0 menit baca
![]() |
| Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC) berpose di lokasi sumber air panas Citando Kec. Malingping |
Laporan: Sohib Abdul Malik
BantenEkspose.com - TERLETAK di kawasan hutan lindung Perum
Perhutani Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Malingping, tepatnya di Desa
Senanghati, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, sekira 10 kilometer ke arah
Banjarsari dari alun-alun Malingping, tepat di persimpangan Kampung Cihideung
masuk jalan poros desa sekira 3 kilometer dan masuk ke hutan melalui jalan
setapak sekira 100 meteran.
Lokasi sumber mata air panas Citando ini, boleh jadi masih asing. Bukan karena tidak pernah populer, namun karena kondisi infrastuktur jalan yang sulit diakses dan tempatnya belum ditata dengan baik.
Dahulu, sekira tahun 1990-an lokasi mata air panas Citando ini cukup ramai dikunjungi pecinta destinasi wisata. Seiring waktu dari tahun ke tahun kian ditinggalkan, hingga saat ini kondisinya bak hutan belantara yang tak pernah terinjak kaki manusia.
Minggu (14/2/2016), Bantenekspose.com ditemani sejumlah mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC) mencoba menyusurinya. Sedikit kesulitan untuk menemukan lokasinya. Dengan modal bertanya kepada warga di sepanjang jalan, hanya sekira 20 menit dari Alun-alun Malingping pun kami berhasil menyapa dan menginjakan kaki di salah satu panorama alam Cilangkahan (Lebak Selatan) yang masih bersembunyi dibalik hutan belantara ini.
Dikelilingi pepohonan, asap panas menguap dari balik bebatuan menyambut kedatangan kami. Air panas tak henti-hentinya mengalir melalui talang yang terbuat dari ruasan bambu yang sudah lapuk. Hewan jenis kera melompat dari pohon satu ke pohon yang lain, mengintip seakan ingin menyapa kami.
Satu per satu kami pun mencoba mencicipinya. "Dahsyat...," gumamku dalam hati saat merasakan panasnya air saat kaki menyentuhnya. Rasanya, berbeda dengan air panas yang biasa kami jumpai di lokasi pemandian air panas lainnya. Inilah kelebihan air panas Citando yang cukup memikat bagi yang pernah menginjakan kakinya.
Jika potensi ini ditata dan dikelola dengan baik pasti akan jadi salah satu destinasi wisata andalan masyarakat Cilangkahan. Semoga ini jadi pesan penting bagi Pemerintah untuk mulai melirik potensi berharga. Bukan hanya penataan pada lokasi sumber air panas ini, tetapi juga penataan akses infrastuktur jalan.
Lokasi sumber mata air panas Citando ini, boleh jadi masih asing. Bukan karena tidak pernah populer, namun karena kondisi infrastuktur jalan yang sulit diakses dan tempatnya belum ditata dengan baik.
Dahulu, sekira tahun 1990-an lokasi mata air panas Citando ini cukup ramai dikunjungi pecinta destinasi wisata. Seiring waktu dari tahun ke tahun kian ditinggalkan, hingga saat ini kondisinya bak hutan belantara yang tak pernah terinjak kaki manusia.
Minggu (14/2/2016), Bantenekspose.com ditemani sejumlah mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC) mencoba menyusurinya. Sedikit kesulitan untuk menemukan lokasinya. Dengan modal bertanya kepada warga di sepanjang jalan, hanya sekira 20 menit dari Alun-alun Malingping pun kami berhasil menyapa dan menginjakan kaki di salah satu panorama alam Cilangkahan (Lebak Selatan) yang masih bersembunyi dibalik hutan belantara ini.
Dikelilingi pepohonan, asap panas menguap dari balik bebatuan menyambut kedatangan kami. Air panas tak henti-hentinya mengalir melalui talang yang terbuat dari ruasan bambu yang sudah lapuk. Hewan jenis kera melompat dari pohon satu ke pohon yang lain, mengintip seakan ingin menyapa kami.
Satu per satu kami pun mencoba mencicipinya. "Dahsyat...," gumamku dalam hati saat merasakan panasnya air saat kaki menyentuhnya. Rasanya, berbeda dengan air panas yang biasa kami jumpai di lokasi pemandian air panas lainnya. Inilah kelebihan air panas Citando yang cukup memikat bagi yang pernah menginjakan kakinya.
Jika potensi ini ditata dan dikelola dengan baik pasti akan jadi salah satu destinasi wisata andalan masyarakat Cilangkahan. Semoga ini jadi pesan penting bagi Pemerintah untuk mulai melirik potensi berharga. Bukan hanya penataan pada lokasi sumber air panas ini, tetapi juga penataan akses infrastuktur jalan.
